JAKARTA, HETANEWS.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pandemi COVID-19 tidak akan selesai dalam satu tahun. Untuk menghadapi pandemi itu, Budi Gunadi menyebut harus ada perubahan perilaku.

"Jadi pandemi ini menuntut perubahan perilaku ya 3M, mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker. Balik lagi, siapa yang ngajarin? Yang ngajarin harusnya ibu dan guru. Sejak kecil anak kita harus diajarin. Karena yang namanya pandemi nggak ada yang selesai satu tahun. Nggak ada, selesai 5 tahun, 10 tahun, polio sampai sekarang 20 tahun nggak hilang-hilang. Nggak ada pendemi yang selesai satu tahun blas, itu nggak ada. Nanti dia berubah menjadi epidemi, harus ada perubahan perilaku," kata Budi Gunadi dalam Webinar series MWA UI dengan tema 'COVID-19 dan Ketahanan Kesehatan Indonesia' dalam siaran YouTube UI, Kamis (25/3/2021).

Langkah kedua dalam menghadapi pendemi Corona, kata Budi, adalah testingtracing, dan treatment. Dia mengatakan langkah itu harus dilakukan dengan cepat dan didukung dengan teknologi testing.

"Strategi yang nomor 2 adalah testingtracing dan diagnostik. Kita nemu siapa yang cepat siapa yang kena. Nah kebetulan ini agak susah ngetesnya, karena membutuhkan teknologi yang agak tinggi. Tapi habis itu dites, di-trace. Nah teknologi testing dan mekanisme karantina dan isolasi itu dari zamannya Black Death juga udah ada. Ini yang harus kita siapkan terus, kita latih terus untuk anak-cucu kita," jelas dia.

Ketiga, langkah yang dilakukan untuk mengendalikan pandemi Corona adalah mempercepat vaksinasi. Budi Menekankan RI harus memiliki kemandirian dalam pengadaan vaksin.

"Kemudian vaksinasi kita harus membangun infrastruktur biar cepat. Dulu vaksinasi teknologi hanya satu, berasal dari virus yang dilemahkan atau dimatikan, seperti yang dipakai Sinovac, kemudian berubah bisa diambil dari salah satu komponen protein virusnya yang dilakukan Eijkman. Teknologi berkembang lagi bisa juga dimasukin ke virus lain yang bisa dari orang atau Sipanse, istilah lainnya vektor based vaccine, itu sekarang yang dipakai AstraZeneca, lebih canggih lagi bisa dibikin seratus persen pakai komputer itu yang dilakukan Pfizer-BioNTech dan Moderna. Yang ketiga dan yang keempat Bio Farma belum bisa bikin karena belum ada teknologinya. Ini yang harus kita siapkan," kata dia.

Budi mengatakan pandemi yang disebabkan oleh virus Corona juga pernah terjadi 17 tahun yang lalu. Dia menekankan, adalah tanggung jawab negara untuk mempersiapkan berbagai upaya untuk menangani pandemi yang mungkin terulang di kemudian hari.

"Yang namanya virus SARS-CoV2 menyebabkan pandemi COVID-19 itu nomor 2, yang nomor satunya 17 tahun yang lalu. Nggak ada jaminan SARS-CoV3, SARS-CoV4 nggak akan datang lagi, bisa 5 tahun, 10 tahun bisa 15 tahun. It is our responsibility not to repeat the same mistakes, harus bangun sistem ketahanannya dari sekarang, untuk anak kita, untuk anak dari anak kita, untuk cucu kita, generasi Indonesia sesudah kita, agar jangan sampai kena, sampai sekarang matinya sampai ratusan ribu, atau mungkin jutaan. Harus kita persiapkan," jelas dia.

"Gimana persiapannya? 4 hal, kita harus cepat mengubah perilaku kalau memang ada pandemi yang menuntut perubahan perilaku. Kita harus punya teknologi dan infrastruktur di seluruh kepulauan Indonesia untuk bisa melakukan testingtracing dan isolasi dengan berbagai jenis teknologi testing terhadap berbagai jenis virus dan bakteri. Jadi kita harus departemen mikrobiologi in every university, supaya kita tahu testing-nya dengan baik. Kita harus bangun kemampuan bikin vaksin di dalam negeri, riset vaksin di dalam negeri, produksi vaksin di dalam negeri, yang teknologi baru, jangan yang kuno. Yang keempat kita harus menyiapkan rumah sakit yang cukup, dokter-dokter dan perawat yang ahli di seluruh pelosok," sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pemerintah telah melakukan upaya pengendalian virus Corona sejak awal pandemi. Seperti penyediaan rumah sakit dan ruang isolasi khusus pasien COVID-19.

"Pemerintah terus berupaya sekuat tenaga untuk menangani pandemi COVID-19 melalui berbagai upaya. Saat pendemi COVID-19 mulai merebak di tahun 2020, BUMN sebagai salah satu pilar strategis perekonomian dan pembangunan turut berpartisipasi secara aktif dalam penanganan pandemi COVID-19 baik dari sisi penanganan maupun pencegahan," kata Erick.

"Pertama, dari sisi penanganan dukungan RS BUMN yang tersebar di 18 provinsi menyediakan bed perawatan dan bed ICU khusus COVID1-9 dan laboratorium uji swab. Juga mendorong standardisasi kesembuhan pasien COVID-19. BUMN juga terlibat dalam persiapan unsur pendukung rumah sakit darurat wisma atlet," lanjutnya.

Erick mengatakan, BUMN di bidang farmasi mengatakan telah melakukan produksi obat-obatan untuk meningkatkan antivirus. Selain itu, BUMN berupaya dalam mengamankan vaksin untuk masyarakat Indonesia.

"Untuk menjamin ketersediaan terapi penyembuhan, BUMN Indofarma dan Kimia Farma melalui penyediaan dan produksi alat kesehatan dan obat-obatan esensial antivirus. Kedua dari sisi pencegahan utamanya vaksin dan vaksinasi. Untuk memenuhi vaksin COVID-19 sejak Agustus tahun lalu pemerintah mengerahkan upaya untuk mengamankan pasokan vaksin untuk rakyat Indonesia lewat diplomasi vaksin secara bilateral dan multilateral. Hingga saat ini Indonesia telah mengamankan keutuhan vaksin sesuai rekomendasi dari ITAGI agar tercapai herd immunity atau kurang-lebih 181,5 juta penduduk Indonesia. Indonesia juga menjadi pionir untuk melakukan vaksinasi di ASEAN," kata dia.

sumber: detik.com