SIANTAR, HETANEWS.com - Pihak keluarga masih mempertanyakan penyebab kematian Ferel Christian Siahaan (26). Menurut keluarga almarhum Ferel tewas tidak wajar.

Ayah Ferel, Maurits F Siahaan menduga anaknya ditabrak hingga jatuh saat aksi kejar kejaran Polisi dengan Ferel di jembatan merah SKI.

Informasi yang diterima Maurits dari warga, anak sulungnya melompat ke sungai dan ada yang mengikuti sampai ke sungai.

"Waktu ditemukan kok telanjang lah dia di sungai. Sudah gitu waktu ditemukan darahnya masih segar," kata Maurits saat ditemui di ruang instalasi jenazah RSUD Djasamen Saragih, Sabtu (20/3).

Dia mencurigai kalau putranya itu dibunuh karena ada bekas luka yang dalam di bagian jidat.

"Aku curiga kalau anak saya ini dibunuh, kalau tenggelam badannya akan bengkak di air selama 10 jam, tapi ini tidak, badannya masih segar," katanya.

Ditemukan 2 KM

Ferel ditemukan terlentang tanpa busana di atas sebuah batu di aliran sungai Bah Bolon, Sabtu pagi 20 Maret 2021 pukul 07.30 wib.

Sebelum kejadian itu Ferel terlibat kejar kejaran dengan polisi pada Sabtu dini hari sekitar pukul 00.30 Wib.

Pria berperawakan gemuk itu disebut melompat dari jembatan SKI Kelurahan Aek Nauli, Kecamatan Siantar Selatan.

Namun jenazahnya ditemukan terlentang tanpa busana diatas batu di aliran sungai Bah Bolon, kurang lebih 2 KM dari jembatan SKI.

Ditemukan tepat di belakang kantor RSKK bahu sungai sebelah kiri sebelum jembatan di Jalan MH Sitorus, Sabtu pagi 20 Maret 2021 pukul 07.30 wib.

Dikejar

Menurut keterangan saksi, setelah melompat dari jembatan Ferel dikejar oleh sejumlah orang. Sempat terdengar teriakan dan warga di lokasi berhamburan keluar.

“Pergi kami ke sungai, dua orang kami ini. Ketemu lah dia di balik bambu,kayu kayu. Sudah telanjang dia, ku teriaki ‘ini dia’,” kata saksi.

Ferel terlihat berenang ke aliran air saat dicari di sekitar lokasi. Menurut saksi kondisinya dalam keadaan tanpa busana.

“Rupanya berenang dia ke bawah. Pergi di ke bawah [aliran sungai] kami kejar rupanya nggak dapat,” katanya.

Setelah itu terjadi kejar-kejaran antara orang orang di sungai dengan Ferel yang berusaha untuk menyelamatkan diri. Tak lama Ferel terlihat di aliran sungai ‘Seksi 1’.

“Selang waktu, ketemu lagi dia sungai SKI seksi 1. Pengejaran kesitu gak dapat juga. Ada 3 kali kami kejar tapi gak dapat lagi,” katanya.

Terekam CCTV.

Informasi yang diterima dari Humas Polres Siantar, aksi kejar kejaran oleh Polisi merupakan pengungkapan kasus pencurian sepeda motor Honda scoopy.

Scoopy merah tersebut hilang Senin tanggal 15 Maret 2021 sekira pukul 15.10 WIB dari halaman parkir Alfamidi di jalan Melanthon Siregar Kelurahan Marihat Jaya Kecamatan Siantar Marimbun.

Pelapor ialah Achmad Arbai (29) warga Suka Mulia Desa Pinang Ratus Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun.

Diduga seorang pria mengenakan kaos merah memakai masker diduga Ferel masuk Alfamidi di Jalan Melanthon Siregar.

Pada potongan rekaman CCTV pria tersebut terlihat mengambil kunci di meja kasir lalu keluar dan membawa sepeda motor matic berwarna merah.

Dari keterangan polisi, honda scoopy yang semula tanpa plat itu, rupanya tercatat dalam rangka dan nomor mesin MH1JF11XFK244029/JFL1E-1241700 dan BK 4570 WAE.

Keterangan Forensik

Usai dilakukan autopsi, Tim Kedokteran Forensik RSUD Djasamen Saragih Kota Siantar menemukan tanda-tanda kekerasan akibat benda tumpul di bagian tubuh Ferel Cristian Siahaan (26).

Kepala Instalasi Forensik Reinhard Hutahaean mengatakan ada luka terdistribusi pada daerah kepala terutama pada daerah dahi sebelah kiri, wajah, bibir, tangan, punggung dan kaki Ferel.

Masih kata Reinhard, pada pemeriksaan bagian dalam atau autopsi ditemukan dua hal yang bertanggungjawab atas kematian korban.

Pertama, kekerasan tumpul pada bagian kepala yang telah mengakibatkan pendarahan pada bagian rongga tengkorak.

Kedua, kematian korban ditanggungjawabi oleh proses drowning (tenggelam) yang ada pada tubuh korban.

"Perkiraan kematian korban cenderung dibawah 12 jam," kata Reinhard.

Baca juga: Ferel Sempat Terlibat Kejar kejaran, Ini Penjelasan Polisi