SIANTAR, HETANEWS.com - Beberapa minggu terakhir ramai perbincangan di media sosial terkait aksi kudeta militer di myanmar dari pemerintahan "sipil" yang sah. Sipil dalam artian pemerintahan yang terdiri dari sipil dan militer.sedikit akan kita ulas tentang sejarah perlawanan rakyat dan kudeta Myanmar.

Myanmar, negara dengan jumlah penduduk kurang lebih 54 juta jiwa merupakan negara mantan koloni Inggris yang merdeka pada tahun 1948, Dulunya bernama Burma, mengambil dari penamaan etnis dominan yakni Burman.

Tercatat Myanmar telah tiga kali mengalami kudeta yakni pada tahun 1962 yang mengubahnya menjadi Republik Sosialis Persatuan Burma,kemudian pada tahun 1988 saat terjadi protes massal masyarakat sehingga pemerintahan diambil alih oleh junta militer yang baru dan kemudian mengganti nama lagi menjadi persatuan Burma. Setahun kemudian menjadi persatuan Myanmar.2010  dibawah rezim militer.

Pada akhirnya Myanmar melakukan transisi sistem pemerintahan menjadi demokrasi,pada 2015 setelah NLD partai pimpinan Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu dan menjadi presiden sebelum di kudeta pada 1 februari 2021 lalu.

Kudeta yang telah berjalan tiga kali tersebut dilandasi atas keinginanpengukuhan supremasi etnis dominan oleh etnis Burma. Singkatnya beberapa hari pasca kudeta masyarakat Myanmar masih bingung dengan kondisi yang terjadi,diawali dengan penangkapan para pejabat pemerintahan hingga presiden terpilih Aung San Suu Kyi.

Mereka menjalani hari-harinya seperti biasa,sampai NLD (Liga Nasional untuk Demokrasi) partai pemenang pemilu menyerukan pembebasan para pejabat negara dengan cara protes dari rumah. Beberapa hari pasca kudeta,entah darimana, berawal para emak-emak di kota Yangoon (dulunya bernama Rangoon-red) bergemuruh pada pada malam hari dengan membunyikan panci dan wajan yg dipukul-pukul, dan berlanjut ke malam berikutnya dengan bunyi yang lebih riuh.

Kegaduhan kemudian berlanjut dengan munculnya protes kecil-kecilan dari para pelajar diikuti protes mogok kerja dari buruh-buruh pabrik yg memicu tindakan represif dari pihak keamanan. Minggu ke-empat gelombang protes besar-besaran mulai mewarnai jalanan di Myanmar hingga pihak militer dibantu kepolisian dan milisi-milisi sipil menekan massa dengan represi tembakan dan gas beracun yg menjatuhkan korban yg hingga hari ini lebih dari 54 orang terbunuh dan 1700 an orang ditangkap yg suasananya tidak jauh berbeda dengan situasi negara kita ketika protes jalanan berlangsung.

Nah,yang jadi pertanyaannya adalah kenapa hanya sosok Ma Kyiel Sin (tanpa mengurangi rasa hormat atas pengorbanannya) yang kemudian viral? Ini menjadi dasar refleksi di momentum Hari Perempuan Internasional hari ini.

Apa jadinya jika emak-emak tidak menabuh panci dan wajan yg memposisikannya menjadi irama genderang perlawanan terhadap militerisme? Sehingga perlawanan meluas sampai hari ini,ini menjadi bukti bahwa peran perempuan dalam menjadi pelopor perubahan itu nyata, perempuan juga mampu menjadi motor akan gejolak dan gelombang pergerakan sosial yang lebih besar dapat berjalan sampai kemenangan mutlak. Salah satu contoh adalah Ma Kyiel Sin,dan maaf sosoknya yg muda dan cantik menjadi salah satu indikator viralnya di negara kita.

Padahal jika mengikuti alur perlawanannya korban tewas pertama diketahui juga adalah seorang perempuan yang mungkin tidak dalam standart kecantikan di negara kita hingga kita menutup mata akan berita pengorbanan beliau.

Cantik menjadi standart perempuan di Indonesia walaupun kaum hawa juga mengalaminya,namun degradasi akan esensi gender di Indonesia menimbulkan spekulasi diskriminasi,hilangnya keunikan dan karakter seseorang hanya dengan penampilan yang didasari efek dari neoliberalisme,yakni penjajahan gaya baru lewat sistem pasar yang membuat segala sesuatu bersua pada komersialisasi berkepanjangan.

Semisal adalah iklan di media yg menggaungkan pemutih dan kosmetik untuk standart kecantikan,yang mana cantik harus memiliki kulit putih,ketiak bersih bahkan vagina wangi. Ini akan berlanjut menjadi dogma di masyarakat dalam menempatkan perempuan di peran sosialnya. 

Sama halnya dengan Ma Kyiel Sin yang dijadikan objek pengdongkrak empati karena keperempuanannya, mengaburkan esensi sesungguhnya pada perjuangan merawat demokrasi dan kebebasan berpolitik tiap manusia. Indonesia juga mencatat pernah terlihat begitu arogan dengan melakukan pembatasan internet ketika meletusnya perlawanan OAP (orang asli papua-red) di Papua terhadap dominasi militer yang dianggap terlalu berlebihan. 

Tidak seperti Ma Kyiel Sin dan Aung San Suu Kyi, Indoneisa tentunya selalu merindukan lahirnya tokoh-tokoh dari berbagai belahan daerah yang besar ditempah dari kondisi ketidakberdayaan sosial, terlepas dari eksploitasi "pemartiran" faktor paras dan penampilan.

Penulis: Dofasep Hutahaean, mahasiswa Universitas Simalungun