BRASIL, HETANEWS.com - Covid-19 telah meninggalkan jejak kematian dan keputusasaan di Brasil, salah satu yang terburuk di dunia. Sekarang, setahun pandemi, negara tersebut dilanda rekor yang memilukan.

Tak ada negara yang mengalami wabah besar masih bergulat dengan angka kematian yang memecahkan rekor dan sistem kesehatan yang berada di ambang kehancuran. Sejumlah negara yang paling terdampak pandemi, sedang mengambil langkah-langkah percobaan menuju normalitas.

Tetapi Brasil sedang berjuang dengan varian virus corona yang lebih menular, yang melanda salah satu kota utama dan menyebar ke tempat lainnya, bahkan ketika warga Brasil mulai mengesampingkan tindakan pencegahan yang bisa tetap melindungi mereka.

Pada Selasa (2/3), Brasil mencatat lebih dari 1.700 kematian akibat Covid-19, angka kasus kematian harian tertinggi selama pandemi.

“Akselerasi epidemi di berbagai negara bagian mengarah pada ambruknya sistem rumah sakit umum dan swasta, yang mungkin segera menjadi persoalan di setiap wilayah Brasil,” jelas Asosiasi Nasional Sekretaris Kesehatan dalam sebuah pernyataan.
“Sayangnya, peluncuran vaksin lamban dan lambatnya ketersediaan vaksin tidak menunjukkan bahwa skenario ini akan berbalik dalam jangka pendek,” lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Kamis (4/3).

Kabar tersebut memburuk untuk Brasil – dan barangkali bagi dunia.

Penelitian pendahuluan menyatakan varian tersebut yang menyapu seluruh kota Manaus tak hanya lebih menular, tapi juga tampaknya bisa menginfeksi beberapa orang yang telah sembuh dari versi virus corona lainnya. Dan varian tersebut telah menyelinap di perbatasan Brasil, muncul di puluhan negara lain dan di sejumlah kecil wilayah Amerika Serikat.

Walaupun uji coba sejumlah vaksin mengindikasikan mereka bisa melindungi terhadap penyakit parah wakalaupun mereka tak mencegah infeksi dengan varian tersebut, sebagian besar wilayah dunia belum melakukan vaksinasi. Itu artinya orang-orang yang telah sembuh dan berpikir mereka aman sekarang kemungkinan masih berisiko, dan para pemimpin dunia kemungkinan, sekali lagi, akan mencabut sejumlah pembatasan segera.

“Anda perlu vaksin untuk mencegah hal ini,” jelas seorang ahli epidemiologi Harvard T.H. Chan School of Public Health, William Hanage, berbicara soal varian virus corona yang bisa menginfeksi ulang.
Dia menambahkan, kekebalan dari infeksi sebelumnya tidak akan cukup untuk melindungi.

Bahaya varian baru ini belum hilang dari para ilmuwan di seluruh dunia. Pekan ini, Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), Rochelle Walensky, memohon kepada warga Amerika agar tidak menurunkan tindakan pencegahan mereka.

“Tolong dengarkan saya dengan jelas,” ujarnya.

“Pada tingkat kasus dengan varian yang menyebar ini, kami bertahan untuk benar-benar kehilangan hasil yang telah kami peroleh dengan susah payah.”

Tetapi kemudian pada September, kasus di negara bagian itu kembali melonjak, membingungkan para pejabat kesehatan. Upaya Gubernur Amazonas, Wilson Lima untuk menerapkan karantina baru menjelang libur Natal ditolak keras para pengusaha dan para politikus ternama yang dekat dengan Presiden Jair Bolsonaro.

Pada Januari, para ilmuwan menemukan varian baru itu, yang dikenal sebagai P.1, menjadi dominan di negara bagian tersebut. Dalam beberapa pekan, bahayanya menjadi jelas saat rumah sakit di kota itu kehabisan oksigen di tengah melonjaknya pasien, mendorong lonjakan angka kematian.

Dokter Antonio Souza masih dihantui wajah mengerikan koleganya dan keluarga pasien ketika persediaan oksigen di rumah sakit Manaus habis. Dia memikirkan pasien yang dia bius, untuk menyelamatkannya dari kematian yang menyiksa, ketika oksigen di klinik lain habis.

“Tak seorang pun harus membuat keputusan itu,” katanya.

“Ini terlalu buruk.”

Seorang perawat di Manaus, Maria Glaudimar, mengatakan dia merasa seperti terperangkap dalam mimpi buruk tak berkesudahan akhir awal tahun ini. Di tempat kerjanya, pasien dan keluarga mereka memohon oksigen dan semua ranjang ICU penuh. Di rumah, putranya terkena TBC setelah terpapar Covid-19 dan berat badan suaminya turun drastic saat berjuang melawan virus corona.

“Tak ada yang siap untuk ini,” ujar Glaudimar.

“Itu adalah film horor.”

Menyebar cepat

Sejak itu, krisis virus corona agak berkurang di Amazonas, tetapi memburuk di sebagian besar Brasil.

Para ilmuwan telah berusaha keras untuk mempelajari lebih lanjut tentang varian tersebut dan melacak penyebarannya di seluruh negeri. Tetapi sumber daya yang terbatas untuk pengujian telah membuat mereka tetap berada di belakang kurva saat mereka mencoba untuk menentukan peran apa yang dimainkannya.

Varian tersebut menyebar cepat. Sampai akhir Januari, sebuah penelitian oleh peneliti pemerintah menemukan varian tersebut muncul di 91 persen sampel yang diurutkan di negara bagian Amazonas. Sampai akhir Februari, pejabat kesehatan melaporkan kasus varian P.1 di 21 dari 26 negara bagian Brasil, tapi tanpa pengujian yang lebih sulit untuk mengukur prevalensinya.

Selama pandemi, para peneliti telah mengatakan infeksi ulang Covid-19 tampak sangat jarang, dengan anggapan orang yang telah sembuh dari Covid-19 akan memiliki kekebalan, setidaknya untuk beberapa lama. Tapi itu sebelum P.1 muncul dan dokter serta para perawat mulai menyadari ada hal yang janggal.

Joao Alho, seorang dokter di Santarem di kota Para, negara bagian Amazonas, mengatakan beberapa koleganya yang sembuh dari Covid-19 beberapa bulan lalu sakit lagi dan positif virus corona.

Perawat di Rio de Janeiro, Juliana Cunha yang bekerja di pusat tes Covid-19, mengatakan dia menganggap dirinya aman setelah tertular virus Juni 2020. Tapi pada November, setelah mengalami gejala ringan, dia positif lagi.

“Saya tak percaya,” kata Cunha.

“Itu pasti varian itu,” lanjutnya.

Tetapi tidak ada cara untuk memastikan apa yang terjadi pada orang yang terinfeksi kembali, kecuali sampel lama dan baru mereka disimpan, diurutkan dan dibandingkan secara genetik.

Brasil mulai memvaksinasi kelompok prioritas, termasuk tenaga kesehatan dan lansia, pada akhir Januari. Tapi pemerintah gagal mengamankan jumlah besar dosis vaksin. Negara-negara yang lebih kaya telah mengambil sebagian besar pasokan yang tersedia, sementara Presiden Bolsonaro bersikap skeptis terhadap dampak penyakit dan vaksin.

Sekitar 5,8 juta warga Brasil – sekitar 2,6 persen populasi – telah menerima sedikitnya satu dosis vaksin Covid-19 sampai Selasa, menurut Kementerian Kesehatan. Hanya sekitar 1,5 juta telah menerima dua dosis. Saat ini Brasil menggunakan vaksin buatan China, CoronaVac yang hasil uji laboratoriumnya memperkirakan kurang efektif melawan varian P.1 daripada varian lainnya – dan juga menggunakan vaksin AstraZeneca.

Margareth Dalcolmo, seorang ahli paru di Fiocruz, sebuah pusat penelitian ilmiah terkemuka, mengatakan kegagalan Brasil untuk melakukan kampanye vaksinasi menjadi salah satu factor penyebab krisis saat ini.

“Kami harus memvaksinasi lebih dari 1 juta orang per hari,” katanya.

“Itu benar. Bukan karena kami tidak tahu bagaimana melakukannya, tetapi karena kami tidak memiliki cukup vaksin. ”

Ahli penyakit menular Universitas Sao Paulo, Ester Sabino memperingatkan negara lain harus memperhatikan apa yang terjadi di Brasil. Sabino termasuk di antara para ahli terkemuka pada varian P.1.

“Anda bisa memvaksinasi seluruh populasi Anda dan mengendalikan masalah hanya untuk jangka pendek jika di tempat lain di dunia, varian baru muncul,” katanya.

“Ini akan sampai di sana suatu hari nanti.”

Menteri Kesehatan Brasil, Eduardo Pazuello, yang menyebut varian ini “babak baru” pandemi, mengatakan pekan lalu, pemerintah meningkatkan upayanya dan berharap vaksinasi setengah populasi tercapai pada Juni dan sisanya pada akhir tahun.

Tapi banyak warga Brasil yang kurang percaya terhadap pemerintah yang dipimpin presiden yang berulang kali meremehkan ancaman virus corona.

Baru pekan lalu, Presiden Bolsonaro juga meremehkan masker, mengklaim masker menyakitkan bagi anak-anak, membuat sakit kepala dan kesulitan konsentrasi.
Proyeksi vaksin Pazuello juga ditanggapi dengan skeptis. Pemerintah pekan lalu memesan 20 juta dosis vaksin India yang belum menyelesaikan uji klinis. Hal itu mendorong jaksa federal berpendapat dalam gugatan hukum bahwa pembelian senilai USD 286 juta itu “membahayakan jutaan nyawa”.

Sekalipun terbukti efektif, akan terlambat bagi banyak orang.

Tony Maquine, spesialis pemasaran berusia 39 tahun di Manaus, kehilangan seorang nenek, paman, dua bibi, dan sepupu, dalam rentang waktu beberapa minggu selama lonjakan kasus terbaru. Saat itu dia berusaha menemukan rumah sakit dengan tempat tidur gratis untuk orang yang masih hidup, sambil mengatur pemakaman keluarganya yang meninggal.

“Itu adalah mimpi buruk,” ujarnya.

“Saya takut dengan apa yang ada di depan.” 

sumber: merdeka.com