SIANTAR,HETANEWS.com – Pdt Dion Ponomban, salah seorang tokoh keagamaan Siantar, tampak miris melihat terdepaknya kota Siantar dari kota toleran.

Beliau jadi teringat beberapa tahun kebelakang saat dirinya pernah diwawancarai oleh Kementerian Agama (Kemenag) terkait rahasia kota Siantar jadi kota paling toleran.

"Saat itu dari Kemenag tanya sama saya, apa sih yang menjadi rahasia kota Siantar jadi kota paling toleran? Saat itu saya jawab adalah budaya adat istiadatnya yang mana walaupun agamanya berbeda, yang saling menghormati," kata Pdt Dion saat ditemui di salah satu cafe di jalan Cipto Selasa (2/3/2021).

Diterangkannya, bahwa perbedaan yang ada di kota Siantar tidak jadi persoalan, bagaimanapun panasnya situasi di luar, kota Siantar sama sekali tidak terpengaruh.

"Berbeda dengan sekarang, ada kejadian di Siantar soal Ahok kemarin, di kota Siantar jadi terpengaruh, padahal dulu tidak ada karena ada kedewasaan yang luar biasa," ujar Dion.

Penyebab terjadinya hal tersebut, kata Pdt Dion adalah karena mulai bergeser nilai-nilai dari budaya dan agama.

Kepemimpinan walikota-walikota berikutnya jangan sampai ketika mereka jadi walikota bukan hanya memimpin satu agama saja.

"Walaupun dia Kristen dia bukan hanya milik orang Kristen, tetapi dia milik semua agama, jadi jangan berat sebelah," ujar Pdt Dion Ponomban.

Dia bercerita saat dulu sharing dengan almarhum Asner Silalahi, Pdt Dion punya usulan agar menjadikan rumah dinas Walikota yang ada musolah itu jadi rumah toleransi dengan membangun rumah doa, vihara, kuil, dan klenteng.

Dia pun memberikan solusi agar kembali ke nilai budaya dan nilai agama, dimana ada kasih dan penerimaan walaupun kita berbeda.