JAKARTA, HETANEWS.com - Di Ruang Tulip RSUD dr Darsono, Pacitan, Jawa Timur, seorang pasien kesulitan bernapas. Kondisinya kian memburuk memasuki hari ketiga. Dengan komorbid hipertensi, pasien 68 tahun itu makin payah ditimpa Covid-19.

Sunaryon was-was. Ia bergegas memeriksa pasien. Saturasi oksigen tercatat 68 persen. Padahal normalnya di atas 95 persen. Pasien itu batuk-batuk dan mengeluh sesak.

Sebagai perawat, Sunaryon paham apa yang harus dilakukan. Ia semestinya segera memasang alat bantu napas High Flow Nasal Cannula (HFNC). Alat itu bakal memompa oksigen ke saluran pernapasan pasien.

Tapi nahas rumah sakit itu tak punya alatnya. Tak ada pilihan untuk merujuk pasien ke rumah sakit lain karena keterbatasan waktu. Belum lagi jika sejumlah RS di Kabupaten Pacitan penuh.

Di tengah situasi kritis itu, Sunaryon heran ketika diminta dokter mencari kantong plastik. Ia tetap berangkat. Plastik 50 x 60 sentimeter seukuran kresek kerupuk ia kantongi.

Dokter kemudian menyuruh Sunaryon mengisi plastik itu dengan oksigen. Begitu menggelembung, kepala pasien dan selang oksigen dimasukkan ke plastik tersebut.

"Ternyata berhasil juga. Dari saturasi rendah bisa naik ke-98 (persen). Itu pengalaman yang mengesankan. Tapi pressure, karena kita harus awasi 24 jam," ujar Sunaryon menceritakan kejadian itu kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (16/2).

Selang 24 jam setelah terapi pernapasan menggunakan kantong plastik, kondisi pasien mulai membaik. Napasnya perlahan normal. Keesokan harinya pasien bisa berbincang. Sebulan kemudian, pasien diizinkan pulang.

Momen itu membesarkan hati Sunaryon di tengah kondisi darurat. Lewat profesinya, ia hanya ingin membantu sesama manusia. Keterbatasan fasilitas dan sumber daya membuat nakes harus pintar-pintar cari akal menolong nyawa pasien.

Kini, RSUD dr Darsono telah memiliki satu ventilator dan empat alat HFNC di awal tahun 2021. Jumlah itu tetap tidak sebanding dengan pasien yang terus berdatangan. 60 tempat tidur selalu penuh diisi pasien Covid-19.

  • Bertaruh Nyawa

Sunaryon sangat terpukul ketika rekan kerjanya sesama perawat meninggal dunia terserang Covid-19. Ia menyebut mendiang hanya bertahan hidup dalam hitungan hari sejak merasakan gejala pertama.

Baginya yang paling ditakutkan adalah menyaksikan kematian dalam waktu singkat. Sementara ia merasa belum bisa berbuat banyak dalam kondisi itu.

"Tujuh hari itu usia dia. Itu yang paling memukul dan bikin shock juga terhadap teman-teman perawat. Bikin takut, begitu hebatnya. Ini yang bikin stres," ungkapnya.

Sepanjang pandemi dimulai hingga 23 Februari 2021, sebanyak 264 orang perawat di Indonesia meninggal dunia akibat virus corona Covid-19. Jumlah itu berada di posisi kedua setelah angka kematian dokter yaitu 317 orang. Berdasarkan data LaporCovid-19 total 796 tenaga kesehatan meninggal akibat Covid-19.

Di tengah masa-masa kritis menolong pasien, perawat juga harus bertaruh nyawa saat bekerja. Di awal pandemi, Sunaryon kesulitan mendapatkan masker medis. Pakaian hazmat pun tak ada. Alhasil ia kenakan jas hujan seadanya, vis-a-vis dengan pasien corona.

"Yang paling berat ketika berhadapan dengan pasien. Kami manusia, punya kekhawatiran bersinggungan dengan pasien Covid," katanya.

Kini, alat pelindung diri sudah jauh lebih baik. Pakaian hazmat lengkap dengan masker N95, helm, sarung tangan, sepatu bot. Namun semua perlengkapan itu juga membuatnya tak nyaman bekerja.

Pria 48 tahun ini pernah nyaris pingsan karena kekurangan oksigen saat mendorong pasien. Aktivitas yang ia kerjakan berasa tiga kali lipat beratnya. Oksigen jadi terbatas ketika APD lengkap dikenakan.

"Jadi memang benar-benar melelahkan bekerja dengan hazmat begitu," katanya.

Sunaryon bekerja enam hari dalam seminggu. Sehari rata-rata 8-9 jam kerja. Jika tak mujur, 12 jam kerja pun pernah dijalani perawat di sana.

Saat kasus Covid-19 melonjak, kata Sunaryon, 13 perawat bisa menangani hingga 40 pasien sekaligus. Normalnya satu perawat menjaga dua pasien.

"Belum lagi kita kepikiran kalau kontak dengan keluarga, masih ada kekhawatiran itu. Memang benar-benar lelah pekerjaan ini," kata Sunaryon.

Pandemi membuat Sunaryon kian menyadari bahwa perawat adalah ujung tombak pelayanan kesehatan dalam memerangi wabah corona. Ia pun miris atas minimnya perhatian dari pemerintah.

Menurutnya, masih banyak perawat honorer yang belum mencicipi insentif bulanan Rp7,5 juta selama menangani Covid-19. Insentif dirinya pun mandek di bulan November. Itu pun sempat ada rencana pemangkasan insentif nakes pada 2021, meskipun akhirnya dibatalkan pemerintah.

Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia pun membantah ada pemotongan insentif nakes sebesar 50-70 persen oleh manajemen rumah sakit. Sekretaris Jenderal Persi, Lia Gardenia Partakusuma mengklaim potongan itu justru inisiatif nakes secara sukarela untuk berbagi insentif dengan tenaga medis non-Covid-19 yang tidak kebagian jatah dari pemerintah.

Itu semua belum cukup membuat Sunaryon putus asa. Tak sedikit pun terlintas di benaknya memutuskan berhenti jadi perawat. Sudah 27 tahun Sunaryon menggeluti profesinya. Selama itu pula ia berusaha menyemangati diri sendiri dan rekan sejawat.

Berserah diri pada Tuhan jadi pelarian saat dirinya berada di titik terendah. Sementara prinsip "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain" jadi pegangan untuk bertahan sebagai perawat.

Ia pun kecewa melihat masih banyak orang di luar RS mengabaikan protokol kesehatan. Sementara para perawat dan nakes lainnya berjuang tanpa henti menangani pasien Covid-19. "Capek. Kenapa ini enggak selesai-selesai?" keluh Sunaryon.

sumber: cnnindonesia.com