SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Namanya adalah Cosmas Batubara, seorang politikus Indonesia. Pada tahun 1963, ia adalah Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan pendiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada bulan Oktober 1965,

Pria kelahiran Purba Saribu, Simalungun, Sumatera Utara, 19 September 1938 ini merupakan sosok yang berasal dari keluarga sederhana..

Ayah Cosmas bekerja sebagai mandor konstruksi jalan. Namun, sejak usia 8 tahun, Cosmas sudah menjadi anak yatim karena sang ayah meninggal dunia. Sedari itulah ia kemudian mencoba hidup mandiri, seperti pesan yang ditinggalkan ayahnya sebelum wafat.

Cosmas memulai pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) di kampung halamannya, kemudian lanjut ke Sekolah Guru Bawah (SGB). Setelah lulus dari SGB, ia merantau ke ibukota dan meneruskan studi ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Jakarta.

Kemandirian Cosmas semakin diuji dimasa masa ini, dimana beliau mulai menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja sebagai guru di SD Strada sembari terus sekolah. Tamat SGA, ia lanjut ke Sekolah Tinggi Publisistik dan lulus. Selanjutnya, Cosmas diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (Fisip UI).

Semasa menjadi mahasiswa, Cosmas menjelma sebagai sosok aktivis berpengaruh. Ia tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) sejak 1962. Organisasi ini punya andil besar dalam perpolitikan nasional terlebih setelah terjadinya Gerakan 30 September 1965.

Karel Steenbrink dalam Catholics in Independent Indonesia 1945-2010 (2015) memaparkan, pada periode itu, Cosmas Batubara adalah Ketua PMKRI dan muncul sebagai salah satu tokoh mahasiswa yang mendorong dibubarkannya Partai Komunis Indonesia (PKI).

Cosmas turut menginisiasi terbentuknya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada 25 Oktober 1965. KAMI merupakan gabungan dari beberapa organisasi, termasuk PMKRI, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan sejumlah gerakan lainnya.

Turut serta dalam mengganyang PKI sekaligus meruntuhkan Orde Lama (rezim Soekarno), Cosmas Batubara pun dilirik oleh Soeharto yang kemudian naik takhta sebagai presiden, begitu pula beberapa tokoh aktivis mahasiswa angkatan '66 lainnya. Sejak 1967,

Cosmas bergabung dengan Golkar yang nantinya menjadi salah satu kekuatan utama Orde Baru. Ia bahkan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dari Fraksi Karya Pembangunan.

Pernah Dimarahi Soekarno

Kala itu Cosmas Batubara yang menjadi ketua rombongan bersama 10 aktivis mahasiswa menuntut petisi Tritura (Tiga tuntutan rakyat) yang berisi: Pembubaran PKI, Perombakan kabinet dwikora dan tuntutan penurunan harga barang.

"Saudara Cosmas, sebagai orang Katolik, kok Anda berani melawan saya, dan tidak menghargai saya. Padahal Bapak Paus saja menghargai saya, memberikan bintang penghargaan," katanya seraya menoleh kearah Menteri Perkebunan Fran Seda, yang juga Katolik.

Tidak hanya Cosmas, satu persatu mahasiswa yang hadir di Istana Merdeka disemprot oleh Presiden.

Tritura yang dimasa itu dimotori oleh KAMI, mendapat perhatian dari rezim orde lama. Presiden Soekarno kemudian mengumumkan perombakan kabinet pada 21 Februari 1966.  Aksi penolakan mahasiswa terhadap kabinet baru ini semakin membesar karena tudingan banyaknya menteri simpatisan PKI yang duduk didalamnya.

Rentetan demontrasi dengan tuntutan Tritura tadi kemudian berakhir dengan keluarnya Supersemar (Surat perintah sebelas maret) dari Soekarno yang memerintahkan Mayjen Soeharto (saat itu Panglima AD-red) untuk mengambilalih tugas kamtibmas.

Di masa pemerintahan Soeharto, Cosmas Batubara tercatat pernah menjabat Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat, Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Menteri Tenaga Kerja.