HETANEWS.com - Banjir itu fenomena alam, bukan politik. Kebijakan pencegahannya yang politik. Bangsa kita suka campur adukan masalah, masalah laut di bawah ke darat atau sebaliknya.

Beberapa hari terakhir kita saksikan acara dengan topik tentang bagaimana atasi banjir di jakarta tapi isinya lain: saling debat tenantg politik, saling hujat, para nara sumber mudah tersinggung, tiada yang mau mengakui salah dengan bencana banjir yang sedang terjadi. Itu mental anak bangsa menurut antropolog kawakan: Prof Kuntjaninggrat.

Terhadap pemilik dan menajemen TV juga kita heran: bahas masalah banjir, tapi yang dihadirkan bukan para pakar namun orang Partai politik. Sementara itu, Pemerintah juga masih nonton debat, kita tanya apa yang mau mau diperdebatkan? apakah banjir dia akan nunggu perdebatan usai?

Kalau kita diskusi sampai panjang lebar depan layar tv juga ngapain? Untuk apa?

Materi diskusi sj masih mentah baru didebatkan, dibahas-bahas, malu, kita hanya perlihatkan keangkuhan anak bangsa. Kita hanya tontonkan sandiwara depan rakyat, masyarakat yang ikuti beritanya tambah bingung, apa kesimpulannya di ujung dari diskusi itu?

Tidak ada benang merahnya dan malah makin buram. Saat ini, rakyat tunggu solusi bukan stand up debat. Kita tidak mencari siapa yang hebat berdebat atau siapa pandai bikin istilah, juga bukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Kita yang di ujung Republik ini bingung, apakah negara lain seperti singapura dan malaysia juga mental sama seperti bangsa kita ini

Yang jelas, banjir tidak tahu apa yang diperdebatkan di layar TV, tidak nunggu apa yang dikonsepkan di atas kertas. Ia dengan sifat alaminya tetap mengalir dalam jumlah yang ribuan kubik bergerak, mendesak dan menenggelamkan apa saja yang dijumpainya.

Ia tidak tahu kalau istilah normalisasi atau naturalisasi yang masih sedang diperdebatkan di ibukota negara ini belum usai. Ia materi alam yang dikendalikan hukum fisika, hidrografi dan geografi.

Banjir memang beda dengan gempa, kekuatan gempa sulit diprediksi kapan datang dan berapa skala ricternya. Tapi banjir bisa diprediksi dari intensitas hujan dan dari topografinya.

Banjir bisa dicegah bila dipahami tiga akar masalahnya yaitu intensitas hujan (i), luas basah air di saluran pengaliran (A) dan kondisi daerah tangkapan air hujan (cathment area=F). Dua yang terakhir ini bicara soal kelakuan manusia di bumi, sedangkan yang pertama itu soal langit, soal global warning.

Banjir Jakarta bisa diatasi, yang penting serahkan kepada para pakar dan jauhkan dari kepentingan politik sektoral dan semua hadapi dengan rendah hati dan kerja keras. Siapapun gubernur jakarta, ilmu banjirnya tetap sama.

Sumber: suarapapua.com