SIANTAR, HETANEWS.com – Seberapa sering kita melihat mendengar anak-anak muda masa kini berbicara soal kondisi politik tanah air? Sekalipun secara umur dikatakan dewasa, namun dunia politik terlihat begitu membosankan bagi anak muda hari ini.

Tidak butuh survey untuk menegaskkan hal itu, ketidakpedulian anak muda pada isu isu politis bisa ditemukan dimana saja disekitar kita. Merasa mereka menyia-nyiakan masa muda membahas hal yang tidak berguna dan kotor.

Survey CSIS pada november 2017 menyebutkan hanya 2,3% generasi milenial (anak muda kelahiran 1981-1996) yang tertarik membahas isu sosial dan politk. Diperkuat dengan survey litbang kompas pada desembar 2017 yang juga menunjukkan hanya 11,8% anak muda yang bersedia menjadi anggota partai politik.

Berita resmi statistik terbaru tertanggal 21 Januari 2021 kemarin, dari 270,20 juta penduduk Indonesia (bertambah 32,56 juta dibanding sensus 2010) terdiri atas Gen Z (kelahiran ’97-2012) berjumlah 27,94% , Gen milenial 25,87% (kelahiran ’81-’96), Gen X 21,88% (kelahiran ’65-’80), Baby Boomer 11,56% (kelahiran ’46-’64), dan Post Gen Z 10,88% (kelahiran 2013).

Dari data itu berarti ada sekitar 70 juta anak milenial yang memiliki hak suara dalam politik, atau hampir seperempat penduduk indonesia. Angka yang fantastis.

Menariknya lagi, saat kita melihat tingkat partisipatif dalam setiap moment pesta demokrasi, seperti pemilu ataupun pilkada serentak baru-baru ini, ternyata kaum muda mengambil cukup banyak porsi didalamnya.

Sesuatu yang menjadi kontradiktif jika membandingkannya dengan tingkat kepedulian anak muda milenial pada isu politik. Di Pemilu 2019 itu jumlah pemilih milenial mencapai 37,7% (data BPS), cukup banyak untuk ukuran suara pemilih muda.

Diluar dari konstelasi pemilihan demokratik, mari lihat momentum pergerakan para pemuda sepanjang 2019-2020 kemarin. Majalah tempo dan BBC sepakat menyatakan bahwa gelombang aksi massa sepanjang tahun itu menjadi yang terbesar setelah reformasi ’98.

Cara pemuda turun ke jalanan menyorot protes pada korupsi, konservatisme politik, dan dominasi kebijakan oleh oligarhi politik (Omnibus misalnya) menjadi catatan tersendiri yang ditorehkan dalam sejarah pergerakan politik pemuda indonesia.

Militansi pada saat itu bahkan mampu menjadi magnet untuk memobilisir sektor yang paling apolitis seperti pelajar (SMP dan SMA), sampai para generasi K-POP dan tiktokers.

Tentu saja gelombang ini cukup membuktikan bahwa sebetulnya anak muda tidak apatis, hanya kecewa pada kekuatan politik hari ini dianggap korup dan mapan, jauh dari rakyat, dan tunduk pada kuasa segelintir elit.

Menyambut 2024, sudah saatnya kaum muda mulai mengisi kekosongan jalan politik yang selama ini cukup sunyi diisi oleh suara-suara sektor pemuda. Panggung sudah harus disiapkan sedari dini, dan gagasan gagasan politik pemuda harus mulai disuarakan.

Tuntutan membentuk partai alternatif diluar partai borjuasi yang sudah ada menjadi pokok diskursus-diskursus dalam tiap tongkrongan anak muda. Mari mulai membudayakan literasi politik, karena tidak ada perubahan yang lahir tanpa usaha.