MEDAN, HETANEWS.com - Terungkapnya rumah jagal kucing di Medan, Sumatera Utara (Sumut), berlanjut ke ranah hukum. Ingat! Ada ancaman pidana yang bisa dikenakan kepada NS, pemilik rumah jagal kucing di Medan tersebut.

Serangkaian proses pemeriksaan saksi-saksi juga sudah dilakukan. Setidaknya tiga orang saksi sudah dimintai keterangan oleh polisi. Kasus rumah jagal kucing ini ditangani oleh Polsek Medan Area.

"Rekan-rekan di Polsek sudah meminta keterangan kepada pelapor itu sendiri, saudaranya yang tinggal satu rumah, dan rencananya hari ini memanggil dua orang lagi untuk dimintai keterangan," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi di Medan, Jumat (29/1/2021).

Rumah yang menjadi tempat jagal kucing di Medan ini terletak di Jalan Tangguk Bongkar VII, Medan Denai. Dengan diketahuinya letak rumah tersebut, memudahkan polisi dalam mengusut kasusnya.

Adapun dua saksi yang dipanggil kemarin oleh polisi merupakan tetangga NS. Salah satu yang dipanggil untuk pemeriksaan adalah pemilik warung.

"Tetangga sekitarnya, ada pemilik warung dan tempat pertama kali kucing itu ditemukan di depan halaman rumah warga," ungkap Kombes Hadi.

Polisi kini masih menelusuri unsur dugaan pidana dalam kasus rumah jagal kucing ini. Ada dua pasal yang dapat dikenakan kepada NS, salah satunya Pasal 302 KUHP yang mengatur tentang penganiayaan terhadap hewan.

"Bisa kita kenakan Pasal 362 (KUHP) untuk pencuriannya, kemudian 302 (KUHP) itu untuk penganiayaan hewan peliharaan," sebut Kombes Hadi.

Berikut bunyi Pasal 302 dan Pasal 362 KUHP:

Pasal 302

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan.

1. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya.
2. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya.

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan.

(3) Jika hewan itu milik yang bersalah, maka hewan itu dapat dirampas.

(4) Percobaan melakukan kejahatan tersebut tidak dipidana.

Pasal 362

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima Tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Camat Medan Denai Ali Sipahutar mengatakan pihaknya sedang mengecek ke mana rumah jagal kucing itu menjual daging dari hewan yang dipotongnya. Pihaknya mengaku baru mendapat info soal rumah jagal kucing setelah peristiwa itu viral.

"Ini lagi dicek Kepling (Kepala Lingkungan) ke lapangan. Belum ada yang tahu (daging kucing dijual ke mana)," ucap Ali, Jumat (29/1/2021).

Sejumlah pihak pun berang saat mengetahui ada rumah jagal kucing di Medan. Gubernur Sumut Edy Rahmayadi merupakan salah seorang yang marah.

"Pasti orang itu tak benar. Kucing bukan konsumsi orang! Kucing itu adalah binatang peliharaan," ucap Edy di Medan, kemarin.

Edy merupakan pecinta kucing. Menurutnya, mengonsumsi kucing sangat buruk jika dilihat dari segi etika. Karena itu, Dia meminta tak ada lagi warga Sumut yang memakan daging kucing.

"Untuk itu rakyatku, ya tak boleh itu. Sudah pasti tak boleh. Walaupun saya belum mengerti ini aturan hukumnya bagaimana. Tapi estetika, etika itu sangat buruk," tuturnya.

"Masih banyak yang bisa kita makan, yang lainnya," imbuh Edy.

Baca juga: Pemilik Rumah Jagal Kucing di Medan Terancam Jerat Pidana

sumber: detik.com