Jakarta, hetanews.com - Presiden Jokowi menyoal produksi pangan yang tidak meningkat, padahal anggaran subsidi pupuk yang digelontorkan Pemerintah mencapai puluhan triliun per tahun. Akibatnya, produk pangan tetap impor.

Persoalan yang diungkapkan Jokowi itu, mengundang komentar mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Dia pun memberikan sejumlah masukan kepada Presiden Jokowi. Sebelumnya, Jokowi mempersoalkan subsidi pupuk dan produk pangan impor, dalam Rapat Koordinasi Sektor Pertanian.

“Saya tanya kembaliannya apa? Lima tahun berapa, 10 tahun berapa triliun. Kalau 10 tahun sudah Rp 330 triliun,” kata Jokowi melalui konferensi pers virtual dalam acara Rapat Koordinasi Sektor Pertanian, di Istana Negara, Jakarta (11/1).

Jokowi juga menyinggung permasalahan kedelai yang terlalu bergantung pada impor. Selain kedelai, Indonesia juga masih bergantung pada jagung impor.

“Kalau kita rutinitas urusan pupuk, bibit, itu penting. Tapi kalau bisa menyiapkan lahan dalam jumlah besar itu yang akan selesaikan masalah,” ujar Jokowi.

Masalah yang dipersoalkan Presiden Jokowi itu, mengundang perhatian Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019, Susi Pudjiastuti. Dia pun memberi masukan, agar segala jenis subsidi berupa barang dihentikan, karena selalu disalahgunakan.

Susi Pudjiastuti melalui akun twitternya, mengusulkan agar Pemerintah membangun data penerima yang sebenar-benarnya.

"Setop semua jenis subsidi yang berupa komoditas/barang karena selalu disalahgunakan. Yang dapat akhirnya yang tidak berhak. Ganti saja dengan ketersediaan bibit gratis atau bantuan tunai. Bangun data penerima yang sebenar benarnya. Please," tulis Susi Pudjiastuti.

Tak hanya memberikan masukan soal penyaluran subsidi, Susi Pudjiastuti kepada Jokowi juga mengusulkan kebijakan pengurangan impor. Khususnya untuk produk pertanian.

"Atur impor untuk tidak terlalu jor-joran, supaya produksi petani dapat pasar dan harga. Awal harus dipaksa. Tapi kalau yang senang impor tidak mau ngalah, ya susah. Kembali lagi fee/keuntungan impor itu besar. Hanya kemauan, ketulusan besar dan tinggi yang bisa melawan itu semua," tutup Susi Pudjiastuti.

sumber: kumparan.com