Washington DC, hetanews.com - Aksi massa pendukung Donald Trump saat menyebut Gedung Capitol AS disebut sudah terencana. Mantan Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), James Comey, mengungkap beberapa konspirasi di balik kerusuhan itu.

Seperti dilansir CNN, Kamis (14/1/2021), Comey dalam wawancara dengan penyiar CNN, Jake Tapper, menyebut bukti yang ada menunjukkan Gedung Capitol AS merupakan konspirasi terorganisir.

"Tidak ada keraguan setidaknya ada beberapa konspirasi," ucap mantan bos FBI itu.

"Orang-orang berkeliaran yang mempraktikkan hak Amandemen Pertama tidak membawa tali dan tangga serta palu besar ke acara spontan," cetusnya.

"Ini adalah serangan terencana seperti menyerang sebuah kastil," tegas Comey memberikan perumpamaan.

Dalam pernyataan terpisah, Gubernur Virginia, Ralph Northam, menyebut aksi para perusuh Gedung Capitol pada 6 Januari lalu 'didorong oleh teori konspirasi dan kebohongan dari seorang presiden yang tidak dapat menerima kekalahan'.

Baca juga: FBI: Massa Bersenjata Rencanakan Datangi Pelantikan Biden

"Tujuan mereka sederhana: membatalkan pemilihan yang sah dan adil," ucapnya.

"Itu menjadi pemandangan yang tidak saya percayai saya lihat dalam hidup kita. Tapi tidak ada yang terjadi begitu saja. Tidak ada yang merupakan insiden dan tidak ada yang spontan," tegas Northam.

Pernyataan itu disampaikan setelah CNN melaporkan adanya sejumlah bukti yang muncul, seperti senjata dan taktik yang terlihat dalam CCTV, yang membuat pejabat penegak hukum AS meyakini rusuh di Gedung Capitol AS direncanakan sebelumnya dan bukan aksi protes yang tak terkendali.

Di antara bukti-bukti yang tengah diperiksa FBI adalah indikasi bahwa beberapa demonstran di luar Gedung Putih, meninggalkan acara lebih awal yang diduga untuk mengambil barang-barang yang akan digunakan dalam penyerbuan Gedung Capitol AS.

Tim penyidik dan jaksa, menurut seorang sumber pejabat penegak hukum federal AS kepada CNN, fokus pada aspek komando dan kontrol serangan, juga melihat catatan perjalanan dan komunikasi untuk menentukan apakah mereka bisa membangun kasus yang mirip dengan penyelidikan kontraterorisme. Jaksa penuntut kasus korupsi juga dilibatkan dalam penyelidikan karena keahlian mereka dalam penyidikan keuangan.

"Kami mengikuti uangnya," ucap sumber pejabat AS itu.

Baca juga: Pertama dalam Sejarah, Donald Trump Dimakzulkan 2 Kali Lewat Voting DPR AS

Sumber: detik.com