Jakarta, hetanews.com - Merespons pengumuman izin penggunaan vaksin Sinovac secara darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) oleh BPOM, ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan bahwa langkah yang diambil Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah sesuai dengan kaidah yang berlaku dan ini bagian dari ikhtiar Indonesia untuk mengakhiri pandemi corona.

Dalam mengeluarkan izin EUA, BPOM tidak hanya merujuk pada data yang diambil dari uji klinis di Bandung, tetapi juga mengambil data dari hasil uji klinis fase ketiga di dua negara, yakni Brasil dan Turki. Mereka juga melakukan survei langsung ke Beijing, China, untuk memastikan mutu vaksin Sinovac, termasuk memastikan bahan baku, proses pembuatan, hingga produk jadi vaksin.

Menurut Dicky keputusan BPOM mengeluarkan EUA sudah sesuai dengan tahapan atau kaidah yang berlaku secara internasional.

“Jadi ini sebetulnya sudah menjadi satu dasar yang cukup memadai dan kuat bahwa Sinovac ini aman, halal dan memiliki efikasi yang memadai. Saya sampaikan memadai karena dia sudah memenuhi threshold,” kata Dicky saat kepada kumparanSAINS, (11/1).

Efikasi vaksin Sinovac berdasarkan uji klinis fase ketiga di Bandung sebesar 65,3 persen. Angka ini sudah sesuai dengan persyaratan WHO di mana minimal nilai efikasi vaksin adalah 50 persen. Ini juga yang menjadi dasar vaksin Sinovac mendapat EUA dari BPOM dan diharapkan mampu membantu menurunkan kasus harian corona di Indonesia.

“Kemudian apa catatannya, pertama bahwa ingat namanya EUA berarti sifatnya temporary dan juga ada kewajiban pemerintah untuk memonitor ketat penggunaan pelaksanaan vaksinasi ini di lapangan.”

  • Tak perlu ragu vaksinasi

Meski dalam uji coba fase ketiga tidak ada efek samping yang cukup serius pada relawan penerima vaksin, Dicky meminta agar pemerintah dan pihak terkait tetap melakukan pengawasan ketat terhadap vaksinasi, termasuk mengantisipasi segala hal yang bisa terjadi.

“Kalau dari aspek keamanan saya melihat dari tiga negara ini tidak ada hal yang mengkhawatirkan, konsen saya sebagai epidemiolog adalah di efikasi untuk mencegah transmisi karena inilah yang pada gilirannya menentukan bisa gak kita mencapai herd immunity,” kata Dicky.

Dengan begitu, masyarakat tidak usah ragu untuk divaksinasi sebab secara sains, vaksin Sinovac sudah terbukti aman digunakan. Selain itu, vaksin ini juga dikatakan punya efek atau fungsi proteksi 65,3 persen. Artinya, vaksin mampu menurunkan kejadian penyakit COVID-19 hingga 65,3 persen.

Namun harus dipahami, fungsi proteksi ini hanya akan dimiliki per individu, di mana kekebalan tubuh akan terbentuk setelah penyuntikan kedua dilakukan dengan durasi waktu dua minggu pascapenyuntikan.

Artinya, selama tubuh memerlukan waktu untuk merespons vaksin, masyarakat harus tetap menerapkan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas.

“Akan berbahaya sekali kalau masyarakat yang menerima ini merasa aman. Tidak seperti itu, harus tetap melakukan 5M dan pemerintah wajib melakukan 3T. Karena dengan efikasi seperti ini katakanlah efektivitas di lapangan sekitar 50 persen, artinya akan ada sebagian dari penerima vaksin--tidak berarti 50 persen-- yang tetap tidak memiliki proteksi,” kata Dicky.

Baca juga: Wamenkes Jelaskan Alasan Pasien COVID-19 Tak Dapat Jatah Vaksin

Jadi kesimpulannya, kata Dicky, penyampaian hasil dari EUA ini bukanlah satu hal yang akan mengakhiri pandemi dengan adanya program vaksinasi. Perjalanan pandemi yang dihadapi saat ini masih jauh dari kata selesai, termasuk dalam mencapai strategi herd immunity yang diharapkan dan dijadikan tujuan.

“Selalu diingat bahwa vaksinasi itu hanya bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan pandemi, dengan belum adanya kepastian berapa persen kemampuan setiap vaksin yang ada di dunia saat ini,” kata Dicky.

  • Kata epidemiologi Unpad

Hal yang sama juga disampaikan oleh epidemiologi dari Universitas Padjadjaran, dr Panji Fortuna Hadisoemarto. Menurutnya, vaksin dapat mengurangi angka kesakitan atau kematian akibat COVID-19 dalam waktu cepat. Sementara untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), dibutuhkan waktu lebih dari satu tahun.

Dengan angka kesakitan yang berkurang, diharapkan tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat tetap terjaga di level aman. “Jika angka kesakitan berkurang, pasien yang dirawat pun berkurang sehingga BOR (bed occupancy rate) tidak akan pernah penuh,” kata Panji, Rabu (13/1).

Menurut Panji, ada pandangan keliru di masyarakat tentang vaksin. Sebagian besar masyarakat menganggap vaksin dapat membentuk kekebalan kelompok dalam waktu cepat. Lebih keliru lagi, vaksin disamakan dengan obat yang dapat menyembuhkan penyakit COVID-19.

“Kekebalan kelompok paling tidak butuh waktu setahun dari sekarang karena harus mencakup 70 persen penduduk,” katanya.

Ia mengatakan, orang yang positif COVID-19 sebetulnya tidak perlu disuntik vaksin. Tapi tidak menutup kemungkinan orang divaksin tapi ternyata positif COVID-19 tanpa diketahui. Kendati hingga saat ini belum ada laporan kasus seperti demikian.

Setelah disuntik vaksin, orang tidak perlu melakukan isolasi mandiri selama dua pekan. “Tapi kan pasti ada yang nanya, kan sudah divaksin kenapa masih pakai masker? Jawab saja, lebih baik double perlindungan daripada single,” ujar Panji.

Oleh karena itu, setelah vaksinasi masyarakat wajib meningkatkan disiplin protokol kesehatan dari 3M ke 5M. Namun Panji yakin vaksin Sinovac memiliki tingkat keamanan tinggi untuk disuntikkan karena sudah mengantongi izin penggunaan darurat dari BPOM. Apalagi vaksin ini sudah mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia.

sumber: kumparan.com