Medan, hetanews.com - Terjadinya konflik harimau memangsa ternak milik warga di Kecamatan Bahorok, Langkat, Sumatera Utara, bukan kali pertama. Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) mencatat, dalam 2 tahun telah ada 12 ekor lembu dimangsa harimau di sejumlah desa di kecamatan tersebut.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab harimau memangsa ternak warga. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Langkat, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Herbert Aritonang mengatakan, penyebabnya ada banyak faktor, baik akumulasi atau faktor yang berdiri sendiri. Begitu juga dengan kurangnya pakan harimau di dalam hutan.

"Ada banyak faktornya, bisa akumulasi, kurangnya pakan atau prey bisa juga penyebabnya. Atau bisa juga harimau remaja yang belajar berburu. Butuh kajian dari ahlinya," kata Herbert kepada wartawan, Jumat (8/1/2021).

Meski demikian, menurut dia, harimau memiliki sifat oportunistik, sehingga akan mencari mangsa yang lebih mudah. Sebagaimana yang terjadi selama ini, lembu ternak warga diikat di pinggir hutan, sehingga mudah dimangsa.

BBKSDA mengimbau masyarakat untuk mengubah pola beternak. Ternak digembalakan pada pagi hingga sore, namun tetap diawasi. Kemudian saat menjelang gelap hingga subuh, lembu dikandangkan. Begitu juga dalam penanganan bangkai sisa mangsa harimau.

Dari pengalaman pada kejadian-kejadian sebelumnya, bangkai sisa mangsa dimusnahkan dengan pembakaran. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan dominansi harimau terhadap mangsanya.

Upaya tersebut dinilai cukup efektif. Pihaknya tidak lagi menerima laporan ada kejadian berulang di desa yang pernah dilakukan pembakaran bangkai sisa mangsa harimau. Pada kejadian tanggal 25 Desember 2020, pihak BBKSDA hendak membakar bangkai sisa mangsa harimau. Namun tidak jadi dilakukan, karena masyarakat tidak setuju dengan alasan khawatir harimau akan mengamuk.

"Padahal teori yang kami dapatkan dengan bakar itu menhilangkan dominansi dan harimau akan bergerak ke masuk dalam hutan. Kemarin itu dibiarkan sampai habis dimangsa harimau. Begitu juga dengan yang kejadian 6 Januari 2021, masih dibiarkan," kata dia.

Dalam kasus matinya 2 ekor lembu di Dusun Selayang, Desa Lau Damak, Kecamatan Bahorok, Langkat pada 6 Januari 2021, lokasi kejadian hanya berjarak 800 meter dari lokasi kejadian sebelumnya pada 25 Desember 2020.

Lokasi kejadian terakhir juga hanya berjarak 988 meter dari batas kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan habitat harimau sumatera. Bangkai lembu ditemukan di dalam kawasan yang berstatus hutan produksi terbatas (HPT) yang sudah diolah masyarakat.

Selama ini, umumnya masyarakat menggembalakan ternaknya secara dilepas. Bahkan pada malam hari juga banyak ditemukan masih berkeliaran tanpa dikandangkan. Hanya sebagian saja yang bersedia mengandangkan ternaknya, seperti yang dilakukan di beberapa desa yang sudah mendirikan kandang anti harimau (tiger proof enclosure).

"Imbauan sudah berikan. Jangan dibiarkan lepas apalagi pada malam hari," kata dia. Kemudian, masyarakat diimbau untuk mengurangi atau membatasi pergerakan ke dalam kawasan hutan, terutama saat mulai gelap hingga subuh.

"Penanganan kita saat ini masih berupa penjagaan dan patroli di lokasi. Komunikasi dengan masyarakat agar mereka mau difasilitasi pembuatan kandang anti serangan harimau. Ini sangat membantu nantinya mencegah ternak dimangsa harimau. Kalau translokasi masih harus ada kajian, itu pilihan terakhir apakah urgensinya sudah sampai harus translokasi," kata dia.

Baca juga: Gawat Harimau Pemangsa Ternak Kembali Teror Langkat

Sumber: kompas.com