Medan, hetanews.com - Konflik harimau sumatera yang memangsa ternak lembu milik warga di Langkat terjadi hampir setiap tahun. Khusus di wilayah Kecamatan Bahorok, dalam 2 tahun tercatat ada 12 ekor lembu dan 1 ekor kambing dimangsa.

Namun, hanya segelintir masyarakat yang mau mengandangkan ternaknya dan memilih tetap melepasnya di lahan sehingga memancing harimau yang memiliki sifat oportunistik.

"Kalkulasi harga lembu dengan bikin kandang, 2 ekor ini tidak kemana Rp 30 juta," ujar Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wil V Bahorok BBTNGL, Palber Turnip melalui telepon pada Kamis (7/1/2021) siang.

"Kalau lah minta bantuan kita untuk difasilitasi kandang lalu disiapkan lah lahannya, tiang-tiangnya, mungkin bisa terselamatkan. Ini kan ada 12 ekor dalam 2 tahun di wilayah Bahorok saja, 12 ekor lembu, 1 kambing. Tapi masyarakat juga tak ada yang menyodorkan minta dibikinkan kandang." 

Dia mencontohkan, seorang warga di Dusun Pulo Pisang, Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, tiga kali kehilangan ternak lembunya karena dimangsa harimau sumatera. Peristiwa pertama terjadi pada 2014.

Peristiwa berikutnya terjadi pada Agustus 2018 dan terakhir pada Oktober 2019. Tidak diketahui apakah yang menyerang pada 2014 dan 2018 adalah harimau yang sama.

Dijelaskannya, ternak lembu yang menjadi mangsa harimau itu berada di jarak 200 meter dari batas kawasan TNGL. Sementara pada 2018, berada pada jarak 500 meter dari batas kawasan. Menurutnya, tidak mungkin ternak itu diseret hingga 300 meter.

Kemudian pada bulan Mei 2020, harimau juga memangsa ternak lembu warga Dusun Tanjung Naman, Desa Lau Damak, Kecamatan Bahorok, Langkat. Lokasi penemuan tersebut berjarak sekitar 3-4 km dari TNGL.

Tak jauh dari situ, seorang perempuan peladang, Bru Tarigan mengaku sudah kehilangan 4 ekor anjingnya dalam 1 bulan terakhir. Dia pun mengaku sering mendengar auman harimau dari ladangnya.  

"Dia malah sudah kehilangan 4 anjing. 1 indukan, 3 anakan. Kepala-kepala anjingnya ditemukan. Tersisa tinggal 1 ekor lah yang masih hidup. Itulah yang digendongnya terus itu," kata dia.

Musnahkan bangkai sisa buruan harimau

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Langkat, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Herbert Aritonang menambahkan, dari rentetan konflik yang terjadi, solusi yang dilakukan adalah menghilangkan dominansi harimau terhadap mangsanya dengan memusnahkan bangkai sisa mangsanya. Pada konflik di Blok Sei Kelam, pihaknya memusnahkan bangkai sisa mangsa dengan membakarnya.

Sedangkan di Lau Damak, tidak dimusnahkan karena masyarakat tidak setuju dan menganggap jika dimusnahkan maka harimau akan mengamuk sehingga bangkainya dibiarkan begitu saja sampai dihabiskan oleh harimau. "(pemusnahan) sepeti itu berdasarkan teori. Tapi masyarakat tidak mau dan (konflik) berulang. Mudah-mudahan pemahaman yang kita sampaikan bisa diterima sehinga penanganan lebih efektif," katanya.

Ubah pola beternak

Cara lainnya adalah mengubah pola beternak, dari sebelumnya digembalakan secara lepas menjadi dikandangkan. Artinya, lanjut dia, pada pagi hingga sore ternak digembalakan dan diawasi, lalu pada saat petang ternak dimasukkan ke dalam kandang.

"Pola beternak di masyarakat harus ada perubahan karen harimau itu sifatnya oportunistik, kalau melihat mangsa lebih mudah, tentu akan mencari yang mudah. Masyarakat harus berubah pola beternaknya dengan mengandangkannya," katanya.

Kandang anti harimau

Selama ini, lanjut dia, pihaknya bersama mitra sudah memfasilitasi mendirikan kandang anti serangan harimau (tiger proof enclosure) dengan ukuran 20x20 meter di Langkat. Menurutnya di lokasi didirikan kandang anti harimau, tidak ada lagi laporan serangan harimau terhadap ternak warga.

"Tiger proof enclosure kita fasilitasi dengan mitra. Hasilnya efektif. Serangan itu kan dimulai pada saat gelap sampai terbit matahari, saat itu lah ternak dikandangkan," katanya.

Sumber: kompas.com