Medan, hetanews.com - Menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution mengalahkan prediksi banyak pihak di Pilkada Kota Medan. Sebagai pendatang baru di politik, Bobby menang versi hasil hitung cepat mengalahkan petahana Akhyar Nasution di Pilwalkot Medan.

Kemenangan Bobby berbanding terbalik dengan pengalaman mertuanya Jokowi yang dua kali kalah dalam Pilpres di Kota Medan. Bagaimana analisa akademisi Universitas Sumatera Utara (USU)?

Ketua Jurusan Ilmu Politik USU Warjio menjelaskan mengapa Bobby justru menang di Kota Medan sementara Jokowi tidak.

"Relevansinya begini, di satu sisi kinerja dari wali kota yang lama petahana (Akhyar) ini kan relatif cukup buruk. Sehingga ini kemudian memunculkan harapan baru bagi masyarakat untuk kemudian memilih calon," jelas Warjio, Kamis (10/12).

Sebagaimana diketahui, pada Pilpres 2014 Jokowi-JK takluk dari Prabowo-Hatta di Kota Medan dengan persentase: 47, 84 persen vs 52,16 Persen. Pun, pada Pilpres 2019, Jokowi-Ma'ruf juga kalah dari Prabowo-Sandi di Kota Medan, dengan persentase: 46,85 persen vs 53,15 persen.

"Jadi, saya kira itu yang menjadi korelasinya, jadi tidak ada pilihan lain, ya Bobby-Aulia menjadi pilihan," imbuh dia.

Kendati demikian, Warjio tetap memberikan catatan kritisnya. Kemenangan Bobby-Aulia di Pilwalkot Medan, menurut dia, tak terlalu representatif. Sebab, tingkat partisipasi pemilih juga rendah.

"Tentu juga karena alasan pandemi. Dan Medan memang kan sudah terkenal persoalan partisipasi politik, Medan angkanya saya kira ya sekitar 40 persen tingkat partisipasi, jadi itu cukup rendah," beber Warjio.

Lebih lanjut, faktor lainnya yang menyebabkan Bobby mampu menumbangkan Akhyar adalah karena jejaring kekuasaan Jokowi dan parpol pengusungnya. Padahal, berbagai cara telah dimainkan Akhyar-Salman, termasuk meminta dukungan sejumlah tokoh seperti Ustaz Abdul Somad (UAS).

"Saya kira jejaring kekuasaan yang dimiliki Presiden Jokowi itu mengalahkan itu semua," pungkas Warjio.

sumber: kumparan.com