Jakarta, hetanews.com - Para relawan pandemi Covid-19 berharap vaksin segera hadir untuk memulihkan kembali kehidupan dan penghidupan masyarakat. Para relawan juga meyakini bahwa di saat yang sama, perilaku 3M yang merupakan protokol kesehatan merupakan salah satu kunci untuk penanganan pandemi.

Yusrin Zata Lini, anggota relawan Jurnalis Bergerak, menyebutkan bahwa para relawan menginginkan vaksin dapat segera didistribusikan. Menurut dia, kehadiran vaksin Covid-19 menjadi harapan agar kehidupan sosial dapat kembali normal.

"Ketika lebih cepat vaksin masuk ke Indonesia, lebih cepat juga nantinya membantu memulihkan kehidupan masyarakat dalam mencari pekerjaan dan kehidupan sosialnya," pada acara dialog produktif bertema "Berbakti untuk Kemanusiaan Tanpa Pamrih" yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Jumat (4/12).

Kepada masyarakat yang masih bekerja di luar rumah, Yusrin berharap untuk tidak mengabaikan penerapan protokol kesehatan 3M secara disiplin. Pasalnya, protokol kesehatan yang terdiri dari perilaku #pakaimasker #cucitangan dan #jagajarak ini tidak hanya efektif untuk melindungi diri, tetapi juga orang di sekitar.

"Jangan sampai kita menyusahkan orang lain apalagi tenaga kesehatan yang sudah berjuang, jangan sampai kita menyia-nyiakan perjuangan mereka," katanya.

Hal senada dikemukakan Aulia Giffarinnisa, dokter relawan di RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Jakarta. Sama seperti Yusrin, Aulia juga menyampaikan harapannya kepada upaya pemerintah untuk pengadaan vaksin Covid-19.

"Saat ini setahu saya vaksin sudah dalam uji klinik fase III. Kalau Badan Pengawas Obat dan Makanan [Badan POM] mengizinkan, saya ingin vaksin lebih cepat didistribusikan," ujarnya.

Selama menunggu kedatangan vaksin, Aulia berpesan kepada setiap orang untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan 3M.

"Jangan berfikir bahwa kebaikan itu harus besar, tapi minimal dari orang-orang terdekat kita dengan cara mencegah penularan lewat 3M. Dengan bersama-sama seperti itu, akan membantu tenaga kesehatan seperti kami untuk mencegah dan mengembalikan kehidupan normal seperti dulu lagi," tegasnya.

Masalah Sosial

Sukarelawan atau sering disingkat relawan adalah mereka yang melakukan sesuatu dengan sukarela tanpa ada kewajiban atau pemaksaan serta mengharapkan imbalan atau penghargaan. Para relawan bertindak karena bersimpati demi meringankan masalah sosial di sekitarnya.

Di masa pandemi Covid-19, para relawan turut berperan tidak hanya relawan di bidang kesehatan tetapi juga relawan yang bergerak di bidang ekonomi dan sosial. Peran mereka penting dalam membantu meringankan kesulitan, mengingat pandemi telah berdampak ke segala sendi kehidupan masyarakat.

Yusrin Zata Lini menyebutkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berjibaku di jalanan untuk memperoleh pendapatan harian di tengah pandemi. Selain pendapatan yang tergerus, mereka tidak memiliki informasi cukup mengenai Covid-19 sehingga cenderung acuh tak acuh dengan pandemi yang terjadi.

"Banyak yang lebih khawatir dengan anak mereka nanti makan apa daripada virus yang tidak tampak ini," terangnya.

Berangkat dari keresahan tersebut, Yusrin dan rekan-rekan jurnalis lainnya menginisiasi gerakan sosial #JurnalisBergerak untuk membantu kesulitan ekonomi para pekerja lepas harian. Mereka menggalang donasi dengan sasaran penerima pekerja lepas harian.

"Setidaknya menolong kehidupan mereka yang masih harus bekerja di jalanan ini selama satu atau dua minggu ke depan. Kita memberikan bantuan-bantuan ini dalam bentuk sembako, masker, hand sanitizer, dan flyer edukasi terkait Covid-19," terangnya.

Gerakan sosial #JurnalisBergerak mulai mengumpulkan donasi melalui platform digital benihbaik.com dengan target nilai Rp100 juta.

"Meskipun kami mengatasnamakan jurnalis, tetapi semua orang boleh membantu. Setidaknya kami menjadi wadah untuk masyarakat umum yang ingin berkontribusi. Penerimanya adalah pekerja non formal seperti tukang ojek, pemulung, pedagang kecil, sopir angkutan umum, dan masyarakat terdampak lainnya," ujarnya.

Dalam waktu satu bulan, Yusrin dan rekan-rekan telah mengumpulkan Rp106 juta dari 339 donatur. Dana tersebut disalurkan ke 600 penerima manfaat yang disalurkan ke 5 wilayah administrasi DKI Jakarta.

"Ternyata masih ada lebih sehingga kami membuka lagi penyaluran paket bantuan ke masyarakat berdasarkan rekomendasi baik oleh perorangan maupun komunitas seperti ke para guru honorer dan tukang pijat tuna netra," katanya.

Adapun Aulia Giffarinnisa menjadi dokter relawan sejak September 2020 saat terjun langsung membantu sesama rekan tenaga kesehatan yang berjuang menangani pasien Covid-19.

"Saya sebelumnya bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah di Sulawesi Selatan. Hati saya ingin berkontribusi dan tidak bisa hanya diam di rumah saja. Akhirnya setelah sejak April saya meminta restu, pada Agustus orang tua merestui keinginan saya dan saya mulai bertugas di RSDC Wisma Atlet pada September," kisahnya.

Tentunya menangani pasien Covid-19 bukan hal mudah. Tenaga kesehatan seperti Aulia harus terus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama 8 jam. Apalagi, Aulia bertugas di bagian high care unit (HCU) yang merawat pasien Covid-19 dengan kondisi memerlukan perhatian khusus. Bekerja dalam pengap dan menahan haus dan lapar sudah menjadi risiko pekerjaannya.

"Kami bekerja bergiliran selama delapan jam. Biasanya dari pukul enam pagi sampai jam dua siang. Tetapi karena memakai APD kita mulai persiapan dari jam 5 pagi, dan harus puasa selama delapan jam itu, kami tidak melepaskan APD bahkan untuk ke toilet. Kalau kita minum pasti ingin ke toilet," terangnya.

Sumber: CNNindonesia.com