Hetanews.com - "Transfer Saldo Dana ke Rekening Bank (Gratis)." Demikian bunyi sebuah iklan yang ternyata cukup ampuh mempengaruhi konsumen. Beta, misalnya. Dia kini lebih sering memanfaatkan Dana untuk mentransfer uang dari rekeningnya di sebuah bank nasional ke bank lain.

"Kalau transfer ke bank lain langsung pakai rekening sendiri kena biaya Rp6.500 per sekali kirim. Pakai Dana gratis," katanya. Perempuan 23 tahun itu secara rutin memang memindahkan uangnya ke rekening bank lain sebagai dana cadangan dan investasi.

"Saya transfer dulu dari rekening saya ke Dana, baru transfer lagi ke rekening di bank lain."

Meskipun terasa berliku-liku, pilihan tersebut lebih menguntungkan karena biaya transfer jauh lebih tinggi ketimbang bunga deposito yang diterima nasabah. Belum lagi biaya lain-lain seperti biaya kartu dan administrasi.

Peluang itulah yang dilihat Dana, salah satu uang elektronik yang beredar di Indonesia. Saat ini, terdapat 53 perusahaan penerbit uang elektronik, 15 di antaranya adalah bank.

Namun, tak semua uang elektronik itu bisa dipakai untuk transfer antarbank atau antarpenerbit. Misalnya, uang elektronik yang diterbitkan PT Kereta Commuter Indonesia dan PT Mass Rapid Transit, dan penggunaannya pun terbatas.

Ada dua jenis uang elektronik, yakni yang berbasis chip yang ditanam di kartu, misalnya Mandiri e-money atau Flazz (BCA), Jenis kedua uang elektronik berbasis server atau lebih dikenal sebagai dompet digital atau e-wallet.

Masuk dalam kelompok ini antara lain OVO, GoPay, ShopeePay, LinkAja, Dana, dan Sakuku. Sejumlah bank memiliki dua platform uang elektronik tersebut. Misalnya, Bank Mandiri punya e-money, tapi juga tergabung dalam LinkAja bersama sejumlah BUMN.

Bank BCA memiliki Flazz dan Sakuku. Kemudahan yang ditawarkan uang elektronik, termasuk di dalamnya dompet digital, membuat layanan ini semakin digemari.

Terlebih selama pandemi ketika pembatasan aktivitas diberlakukan, banyak merchant, seperti Starbucks, yang menolak pembayaran tunai. Transaksi perdagangan online, melalui market place, seperti Tokopedia, Lazada atau blibli, pada umumnya juga menggunakan dompet digital.

Tokopedia, misalnya, menggandeng OVO atau Lazada menggunakan Dana. Bank Indonesia mencatat, transaksi yang elektronik meningkat tajam dalam dua tahun terakhir. Pada 2018, total transaksi uang elektronik baru Rp47,2 triliun atau rata-rata Rp2,93 triliun per bulan.

Setahun berikutnya, Nilai transaksinya melonjak menjadi Rp145,2 triliun atau rata-rata Rp12,1 triliun per bulan. Per Oktober 2020, BI mencatat jumlah transaksi selama 10 bulan mencapai 3,78 miliar dengan total nilai transaksi Rp163,43 triliun atau Rp16,34 triliun.

Artinya, dibandingkan dua tahun lalu, ada peningkatkan rata-rata transaksi bulanan lebih dari tiga kali lipat atau hampir 316 persen. Banyaknya pemain dan platform pembayaran (kartu kredit, kartu debit, tag elektronik, kredit nonbank, sampai pembayaran di tempat) membuat persaingan dalam bisnis uang elektronik semakin tajam.

Jika dulu diskon banyak diberikan penerbit kartu kredit, kini penerbit dompet digital yang melakukannya. Yang paling banyak dilakukan para penerbit uang elektronik adalah pemberian diskon.

Banyak merchant, terutama restoran yang menawarkan diskon atau cashback dalam jumlah yang cukup signifikan. Saat ini, yang paling getol mejalankaan jurus ini adalah ShopeePay dan GoPay.

Survei Ipsos untuk Asia Tenggara per September 2020 menunjukkan adanya peningkatan transaksi selama pandemi Covid-19. Jumlah penduduk Indonesia yang menggunakan pembayaran nontunai naik 44 persen. Dari survei itu juga ditemukan, dompet digital mana saja yang menguasai pangsa pasar.

ShopeePay berhasil menempati posisi pertama sebagai merek dompet digital paling unggul di Indonesia dan paling sering digunakan dengan porsi 34 persen. Kemudian OVO sebesar 28 persen, GoPay sebesar 17 persen. Selanjutnya Dana 14 persen dan LinkAja 7 persen.

Dari segi pangsa pasar nilai transaksi, survei Ipsos menghasilkan ShopeePay sebagai merek digital yang mencatatkan pangsa pasar nilai transaksi terbesar, yaitu 32 persen dari total nilai transaksi dompet digital di Indonesia.

Kemudian disusul OVO dengan 25 persen dari total, GoPay 21 persen dari total, Dana 14 persen dari total, dan LinkAja sebesar 8 persen.

Budi Gandasoebrata selaku Managing Director GoPay mengatakan pihaknya fokus membangun bisnis yang berkelanjutan. Dia mengatakan performa GoPay telah melonjak kembali seperti sebelum pandemi dengan kinerja yang efisien.

“Hal ini ditunjukkan dengan riset Ipsos pada awal 2020 yang mengungkapkan GoPay memiliki pengguna organik tertinggi dibandingkan pemain lain dengan 54 persen. Mereka tetap memakai GoPay meski tidak ada promosi,” ujar Budi kepada Lokadata.id, Selasa (1/12/2020).

Budi menambahkan pandemi telah mengubah kebiasaan masyarakat untuk beralih ke aktivitas digital. Untuk itu, pihaknya fokus membangun ekosistem digital sebab selama pandemi, penggunaan GoPay telah meningkat di berbagai sektor dari mulai donasi, makanan dan minuman, telemedis, serta e-commerce.

Untuk mengimbangi preferensi konsumen yang lebih memilih online, GoPay juga fokus mendorong digitalisasi UMKM. “GoPay menyediakan solusi pembayaran dari hulu ke hilir untuk mendukung perkembangan usaha dan untuk membantu UMKM mengembangkan usahanya secara digital,” tutur Budi.

Chief Marketing Officer LinkAja Edward Kilian Suwignyo mengatakan pihaknya lebih memilih fokus pengembangan ekosistem digital dalam bersaing dengan platform dompet digital lainnya.

“LinkAja berusaha memberikan nilai produk yang berbeda kepada penggunanya melalui kerja sama dengan perusahaan ritel seperti Indomaret dan Alfamart,” ujarnya.

LinkAja juga berusaha memperkuat ekosistem di sektor transportasi dan sektor-sektor milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Kelengkapan ekosistem dan fitur yang membuat LinkAja tidak perlu bersaing dengan tidak sehat untuk akuisisi pengguna,” kata dia.

Sementara itu, Marketing Manager ShopeePay Cindy Candiawan mengatakan pihaknya menegaskan komitmen terhadap upaya pemerintah mendorong adopsi pembayaran digital dan inklusi keuangan di Indonesia.

Beberapa penawaran yang ditawarkan ShopeePay antara lain, menggandeng ratusan merchant favorit masyarakat mulai dari minimarket seperti Alfamart, Alfamidi, hingga penjual makanan dan minuman seperti Kopi Soe dan Bakmi GM.

“Kami harap kampanye ShopeePay dapat memberikan efek berlipat terhadap konsumsi nasional dan mendorong antusiasme masyarakat memanfaatkan program ini,” kata Cindy.

Tidak jauh berbeda, platform DANA juga memanfaatkan momentum persaingan ini untuk terus menguatkan teknologi dan produknya agar sesuai dengan kebutuhan dan menjadi andalan masyarakat.

Menurut VP of Corporate Communication DANA Steve Saerang, yang menjadi fokus DANA saat ini adalah bagaimana mengubah pola pikir masyarakat untuk beralih dari budaya tunai ke digital, terutama dalam hal kenyamanan dan keamanan.

“DANA selalu mengedepankan jaminan proteksi 100 persen kepada para pengguna dompet digitalnya,” ujar Steve.

Jangan hanya mengandalkan promo

Persaingan antar pemain dompet digital yang ketat, menurut pengamat ekonomi digital Indef Bhima Yudhistira membuat pelaku tak bisa hanya mengandalkan penggelontoran promo maupun diskon.

“Yang penting saat ini bukan lagi era promo dan diskon besar-besaran, itu menurut saya di era ketika pertama kali memasuki pasar saat customer acquisition,” katanya kepada Lokadata.id.

Menurutnya, di fase pertumbuhan seperti sekarang ini, pemain digital sebaiknya melakukan inovasi dan meningkatkan layanan untuk menjaga loyalitas pengguna.

Inovasi yang dimaksud adalah yang berkaitan dengan pengalaman pengguna seperti kemudahan dan kecepatan transaksi, serta perlindungan data pribadi yang baik.

Kemudian dari segi peningkatan layanan bisa dilakukan melalui kolaborasi dengan pemain non dompet digital seperti misalnya menambah kerja sama dengan bank, perusahaan transportasi online maupun konvensional serta e-commerce.

“Sehingga pengguna semakin mudah menggunakan dompet digital karena banyaknya kolaborasi ini,” kata dia.

Hal ini juga yang dilakukan oleh OVO. Head of Corporate Communications OVO, Harumi Supit mengatakan promo-promo yang diberikan OVO hanyalah strategi jangka pendek sekaligus cara OVO mengedukasi masyarakat terkait pembayaran digital.

“Mengenai cashback atau promo, itu hanyalah salah satu cara OVO untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat agar mau mengadopsi pembayaran digital yang nantinya akan memudahkan kehidupan mereka, terlebih dalam melakukan transaksi,” ujar Harumi kepada Lokadata.id.

Ingin membangun ekosistem pembayaran digital terbuka paling luas di Indonesia, Harumi mengatakan strategi jangka panjang yang dilakukan OVO adalah pengembangan kerjasama dan kolaborasi dengan mitra OVO untuk terus memperluas penggunaan dan transformasi digital masyarakat.

Selain pembayaran platform e-commerce, transportasi, dan lainnya, saat ini OVO tengah menjalin kolaborasi dengan pemerintah dan juga perbankan untuk berbagai program.

“OVO mendukung pemerintah dengan menjadi mitra resmi untuk uang elektronik untuk program Kartu Prakerja. Kami juga menjalin kolaborasi dengan BRI untuk menyediakan pinjaman digital untuk modal bagi UMKM sebagai mesin penggerak ekonomi nasional,” kata Harumi.

Bhima Yudhistira menambahkan yang membedakan pemain dompet digital di Indonesia dengan di negara maju seperti Cina adalah dari segi layanan.

“Di Cina memang masih menggunakan promo atau diskon tetapi yang menarik promo itu tidak selalu dari sisi platform dompet digital tapi dari sisi merchant. Misalnya ada restoran di Cina yang ingin menarik pelanggan baru, dia menggunakan promo WeChat Pay tapi yang bayar promo adalah si merchant,” katanya.

Jumlah ideal dompet digital

Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono berpendapat, di tengah belasan layanan dompet digital yang tengah bersaing di Indonesia, idealnya jumlah pemain dompet digital cukup tiga pemain. Yaitu masing-masing dari layanan BUMN, perbankan, dan non-perbankan.

Alasannya, kompetisi dompet digital merupakan kompetisi padat modal yang membutuhkan teknologi termutakhir dan dana yang besar untuk mengembangkannya. Untuk itu, dia berpendapat perusahaan dengan modal besar berpeluang memenangkan persaingan.

"Akhirnya yang besar yang menang, itu tidak bisa dihindarkan kalau bicara yang besar maksimum 2 atau justru 1 saja, platform digital lainnya hanya menjadi pengikut,” kata Handito.

Sementara, Bhima punya pendapat berbeda. Dia mengatakan di dalam satu negara bisa saja terdapat 4 atau 5 dompet digital. Apalagi melihat besarnya pasar yang ada di Indonesia.

“Saya nggak melihat perlu ada batas maksimum. Semakin banyak, persaingan akan semakin bagus dan konsumen akan memilih yang terbaik dari segi inovasi dan layanan,” ujarnya.

Sumber: lokadata.id