Siantar, Hetanews.com - Aksi teror di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang menewaskan 4 orang, dinilai menciptakan provokasi untuk merusak persatuan dan kerukunan. 

“Itu tindakan yang tidak manusiawi yang bertujuan untuk menciptakan provokasi dan teror di tengah masyarakat, yang ingin merusak persatuan dan kerukunan serta mengancam keamanan dan keselamatan di tengah masyarakat,” kata Harry David Levi Lingga dalam keterangan tertulis, Rabu (2/12/2020).

Menurut  Mahasiswa Fakultas Hukum USI ini, pemerintah harus belajar dari kasus tersebut dan menjamin rasa aman kepada masyarakat, apalagi dalam menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru 2021. 

“Di seluruh daerah di Indonesia. jangan sampai masyarakat dalam keadaan mencekam dan merasa terancam dalam  beribadah memperingati Natal dan Tahun Baru,” kata Ketua Namaposo (Pemuda) GKPS Resort Sondi Raya ini.

Ketua GMKI Komisariat USI Masa Bakti 2019 - 2020 ini juga menyampaikan agar pemerintah menganjurkan masyarakat untuk beribadah dari rumah masing, untuk mengantisipasi penyebaran covid 19.

Ia juga menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan senantiasa menjaga persatuan serta  tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Dalam merayakan natal dan tahun baru harus tetap menjalankan protokol kesehatan,” kata Levi mengakhiri.

Sebagaimana diketahui, peristiwa mencekam terjadi di Desa Lemba Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Jumat 27 November 2020 lalu.

Aksi teror menewaskan 4 orang yang diketahui merupakan anggota jemaat di Pos Pelayanan Gereja Bala Keselamatan.

Baca juga: Pilkada Siantar Dua Pilihan Sama Memungkinkan Menang