Simalungun, hetanews.com - Bencana longsor terjadi di Nagori Bayu Muslimin, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun.

Bahkan longsor terjadi dua hari berturut - turut yaitu pada Kamis (26/11/2020) dan Jumat (27/11/2020). Keduanya terjadi pada malam hari, saat curah hujan yang tinggi.

Pangulu atau Kepala Desa Bayu Muslimin, Ahmad Simbolon menjelaskan, ada 42 rumah yang terkena akibat dua kali longsor tersebut.

Dirincinya dari 42 rumah itu, ada 24 rumah yang rusak total termasuk 4 rumah yang rata karena tertimbun longsor dan 18 rumah yang mengalami rusak ringan.

Ternyata, selain longsor, di desa tersebut juga terjadi banjir. "Dan ada banjir akibat penyimpitan sungai itu sering terjadi di desa ini. Warga disini juga sudah melakukan gotong royong (membersihkan material longsor dan banjir) serta ada posko kita," tuturnya saat ditemui wartawan, Minggu (29/11/2020), di posko bencana.

Dinding rumah warga yang rusak parah akibat longsor. (foto/ndo)

Tidak ada korban jiwa akibat bencana alam tersebut, namun 1 orang mengalami patah kaki dan kini telah mendapat perawatan di rumah sakit. Sedangkan untuk jumlah korban, dari bencana longsor ada 48 Kepala Keluarga (KK) dan dari banjir ada 10 KK yang menjadi korban.

"Akses jalan sempat terputus total dan membuat alat berat ini masih di jalan. Harapan kita, agar penembok penahan (tebing longsor) dan jalan diperhatikan. Ada 4 rumah tertimbun total. Syukur mereka sudah mengungsi sebelum kejadian ke masjid, sekolah dan tetangga karena sudah kita berikan aba aba (himbauan) terlebih dahulu," ujar Pangulu.

Sementara itu, Rusmali menjadi salah seorang korban yang rumahnya rata dengan tanah akibat tertimbun material longsor.

Dijelaskannya, pada malam Jumat, sudah ada longsor terjadi di desanya sehingga diberi aba aba untuk mengungsi. Ia bersama istri dan empat anaknya mengungsi ke rumah tetangganya yang lebih aman.

Warga bergotong royong membersihkan material longsor. (foto/ndo)

"Lalu malam Sabtunya, sekitar jam 5 hujan, baru habis magrib, barulah kejadian dan rumah kami ketimpa tanah longsor. Iya itu pas hujan deras. Tertimbun lah tinggal puing - puing yang nampak. Pas kejadian gak ada dirumah dan sudah mengungsi karena sudah ada aba aba," katanya.

Selain kehilangan tempat tinggalnya, ia juga kehilangan satu unit sepeda motor, perkakas rumah dan barang penting lainya.

"Semua tidak ada tersisa, kecuali pakaian yang nampak nampak aja yang bisa diambil. Tahun kemarin juga ada longsor dan tidak mengenai rumah kami. Jarang terjadi (longsor). Kalau longsor, ya longsor gitu aja. Gak sampai kena rumah dari longsor itu. Baru inilah kejadian parah gitu," tutup Rusmali.