Siantar, hetanews.com – Webinar nasional yang diadakan HKBP Merak Samarinda dan Visi Indonesia Unggul, mengangkat topik:  “Spritualitas dan Nasionalisme NKRI”, Sabtu (28/11/2020), mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Penyelenggara menghadirkan keynote speaker,  Pdt. DR. WTP. Simarmata, mantan Ephorus HKBP dan saat ini Anggota DPD RI Dapil Sumatera Utara, Periode 2019-2024, dan dua narasumber lainnya, Mangasi Sihombing, Duta Besar dan mantan Dirjen IDPPI/IDP Kemlu RI dan Angel Damayanti, Ph.D,  Dekan FISIPOL UKI.

Diskusi melalui aplikasi zoom ini, dipandu Tigor Mulo Horas Sinaga, Ketua Umum Visi Indonesia Unggul.

Acara diawali dengan kata pengantar dari Nixson Butarbutar, SE, MBA (Ketua Seksi Kemasyarakatan HKBP Merak Samarinda) dan dilanjutkan dengan doa pembuka oleh Pdt Dahlan Munthe, MTh (Pendeta HKBP Ressort Merak Samarinda Kota). Kemudian diteruskan sambutan dari Praeses HKBP Distrik XXII Borneo, Pdt Mangatur Manurung, STh.

Pada kesempatan itu, Pdt DR WTP Simarmata mengatakan, panitia sangat bijak karena topik “Spritualitas dan Nasionalisme NKRI” ini sangat cocok diminta darinya.

Ditegaskannya, bahwa ini merupakan topik penting, karena kekristenan memang harus hadir dalam budaya, Negara, politik, dan kemajemukan.

“Apalagi menyongsong masa depan HKBP yang penuh tantangan,”katanya.

Lanjutnya, bahwa sila-sila dalam Pancasila, membangun spritualitas kita, dan harus kita buktikan dalam kehidupan keseharian kita.

Bahwa kekristenan menghargai nasionalisme, dan Pancasila tidak bertentangan dengan agama Kristen, ujarnya.

Dia juga sangat prihatin dengan meningkatnya radikalisme, dan intoleran dari tahun ke tahun.

Webinar nasional yang diadakan HKBP Merak Samarinda dan Visi Indonesia Unggul, mengangkat topik:  “Spritualitas dan Nasionalisme NKRI”, Sabtu (28/11/2020), mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. (foto screenshot)

Pdt DR WTP Simarmata menyinggung peristiwa yang terjadi di Sigi, Sulawesi Tengah, dimana terjadi pembakaran gereja dan ada terbunuh umat Kristen sebanyak 4 orang.

“Sulawesi di zaman Suharto, ada wakil Presiden BJ Habibie, yang jadi Presiden juga. Bahkan di zaman reformasi, dua kali Wapres dari Sulawesi, tapi kok masih ada masyarakat membakar rumah ibadah disitu. Kematangan kita makin diuji dan kehadiran kita (gereja) selalu diuji dalam berbangsa seperti ini,”ungkapnya.

Ditegaskannya, bahwa bangsa kita harus berkata, “luar biasa Pancasila ini”. Kenapa luar biasa karena dia mampu mempersatukan keberagaman, ujarnya.

Masih katanya, bahwa pengertian dari setiap sila Pancasila, tidak sempit, tapi universal. Bahkan berskala internasional atau global.

“Katakan lah sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu berarti kita sebagai bangsa mengakui adanya Tuhan. Membuat kita menjadi bangsa yang beragama yang percaya kepada Tuhan. Tetapi kita bukan Negara agama. Tetapi menghargai agama yang ada. Dan hormat menghormati karena Tuhan Yang Maha Esa. Dan Tuhan Yang Maha Esa dihormati semua orang, menurut agamanya. Dihayati sesuai iman dan kepercayaan masing – masing, ucapnya.

“Karenanya Pancasila dan UUD 1945 itu menjamin kebebasan beribadah, memeluk agama dan keinsafan batin. Bahkan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, ibu bapak dan saudara, kita diciptakan Tuhan berbeda karenanya tidak sama. Tapi perbedaan itu bukan lah awal dari konflik. Bukan awal perpecahan, tapi perbedaan menunjukkan kebesaran ciptaan Tuhan. Karena Alkitab juga menyaksikan, bahwa kita diciptakan Tuhan berbangsa-bangsa, tidak sama,”jelasnya.

Oleh karenanya, dalam titik-titik yang sangat serius dalam Pancasila itu sangat membangun spritualitas dan nasionalisme kita.

Apalagi, sebutlah sila kebanggsaan itu. Sila kebangsaan kita tidak sempit. Kita sebagai bangsa, menghargai bangsa lain. Nasionalisme kita menghargai bangsa lain, sejajar, dan setara dengan kita sebagai bangsa. Kita sebagai umat manusia setara sebagai ciptaan Tuhan yaitu Tuhan Yang Maha Esa, ucapnya.

“Makanya saya heran, kok masih terjadi pembakaran gereja, kok terjadi pembunuhan umat yang berbeda. Kok masih ada pemahaman, meminum darah yang berbeda itu halal,”ujarnya.

Sebagai umat yang beragama, dia mengajak semua orang untuk saling hormati – menghormati. Kalau ada salah, tidak boleh cepat marah, tidak merendahkan orang lain atau suku lain, ucapnya.

Pdt DR WTP Simarmata juga mempertegas soal pembukaan UUD 1945, yang mengatakan bahwa kemerdekaan itu hak segala bangsa, maka penjajahan harus dihapuskan.

Dan menurutnya, bumi dan isinya harus dinikmati semua orang.

“Dan tugas Negara sangat berat, yaitu melindungi, mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat. Tanpa membedakan latar belakang, suku dan agama. Untuk itu, mari hargai perbedaan, mempererat persaudaraan dan menghadirkan damai sejahtera,”ajaknya.

Dua narasumber lainnya, Mangasi Sihombing, dan Angel Damayanti, juga membahas bagaimana harusnya hidup berbangsa dan bernegara dan menyayangkan masih terjadinya aksi – aksi intoleransi di Indonesia dan termasuk radikalisme, terorisme.

Para peserta Webinar Nasional tersebut tampak bersemangat dan tak lupa memberikan pertanyaan kepada para narasumber.