Siantar, hetanews.com - Pasca terjadinya laka maut, di Jalan Asahan, Nagori Dolok Marlawan, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun yang menyebabkan 5 orang meninggal, pada Kamis (19/11/2020) lalu, ternyata menyeret ke perkara hukum atas viralnya video seorang wanita karena diduga menghina dan bersyukur atas kejadian tersebut.

Wanita tersebut diketahui bernama Jumita Sidabutar. Tak hanya ia, suaminya, berinisial AN, juga ikut terbawa - bawa ke perkara hukum yang kemungkinankan menjeratnya.

Hal ini dibenarkan oleh Besar Banjarnahor dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Siantar-Simalungun, selaku penasihat hukum, istri almarhum Hotdiman Sidabutar, yaitu Lasaria Situmeang.

Hotdiman dan ketiga cucunya, diketahui sebagai korban tewas dari laka lantas maut tersebut. Jumita dan suaminya, dilaporkan sesuai LP No.20/LP/Pid/LBH S-S/XI/2020 karena turut serta di dalam video viral tersebut.

Ditemui wartawan, Besar menyebutkan, bahwa laporan itu disampaikan ke Polres Siantar, pada Selasa (24/11/2020) kemarin. Ia melaporkan keduanya dengan menyertakan tiga video dan foto. Vani dilaporkan karena merasa senang atas kasus laka lantas tersebut.

Selain itu, hal yang menyinggung keluarga korban yaitu menyebut mendiang Hotdiman, sebagai iblis dan sebagai pencuri.

Baca juga: Wanita Viral Minta Nomor Supir Truk Maut Dilabrak, Hanya Tertunduk Terancam Diadukan

Atas perbuatannya, terlapor bisa dijerat dengan pidana sesuai Pasal 27 ayat 3 Junto 45 ayat 1 UU No19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ujaran kebencian unsur awal pidana karena seolah-seolah ingin merebut tanah dan rumah yang ditempati terlapor, di Lorong 29, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Kota Siantar.

"Yang sebenarnya yang mau mengambil alih tanah itu adalah Nursinta Manik, ibu angkat Vani," tutur Besar.

Dijelaskannya, tentang permasalahan tanah itu yaitu hasil dari perkara tanah dan rumah melalui putusan Pengadilan Negeri (PN) Kota Siantar dan dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Medan, bahwa itu milik Nursinta Manik.

"Dimana dalam putusan itu, memerintahkan kepada tergugat yaitu Jumita untuk menyerahkan tanah dan rumah kepada penggugat. Dalam hal ini, bahwa upaya kasasi tidak ada lagi, sehingga sebagaimana disampaikan dalam video viral itu, bohong," lanjut Besar.

Dirincinya, perkara tersebut sesuai PNS PTM, menguatkan putusan PN Siantar, bahwa putusan PTM No. 559/Pdt/2019/PT-Mdn Jo No.33/Pdt.G/2019/PN Pms, pada 11 Februari 2020, telah diberitahukan kepada pembanding dahulu tergugat pada 12 Maret 2020, dan kepada terbanding dahulu penggugat, pada tanggal 17 Februari 2020, bahwa putusan tersebut di atas sudah berkekuatan hukum tetap.