Simalungun, hetanews.com - Saat pandemi Covid-19 ini, jahe disebut sebagai salah satu hasil pertanian di Indonesia yang bisa menjauhkan dari corona. Konsumsi dan permintaan masyarakat semakin tinggi, di tengah pandemi saat ini.

Seperti yang dialami petani jahe di Kabupaten Simalungun, yang mengalami permintaan yang sangat meningkat.

Begitupun dengan harga jual, juga ikut mengalami kenaikan. Jahe putih asal Kabupaten Simalungun, dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.

Askasima Sebayang, seorang petani jahe, di Nagori Buttu Parilahan, Kecamatan Purba, menceritakan bagaimana kenaikan permintaan dan harga jahe, terutama jahe putih. Ia juga menjelaskan, apa yang menjadi kelebihan jahe putih dan perbedaannya dengan jahe merah.

"Kelebihan jahe putih, masalah panen lebih cepat. Tidak lama seperti jahe merah, dan besarnya juga dan keuntungan menanam jahe putih kalau sekarang. Jahe putih banyak permintaan bahkan kita juga ada permintaan dari Malaysia, namun jahe merah tidak ada, hanya kita di Indonesia," ujarnya saat ditemui di ladangnya saat panen, Kamis (26/11/2020).

Untuk jahe putih, memerlukan waktu tujuh bulan untuk masa panen. Sedangkan jahe merah, memerlukan waktu sampai sembilan bulan. Untuk rincian, di lahan 1 hektar, ia memerlukan bibit jahe putih, di angka tiga ton yang saat masa panen, bisa mencapai 30 ton dan bahkan lebih. Bibit - bibit ini, didapat dengan cara membuatnya sendiri.

Mulai tahun 2016 lalu, harga jahe putih di kisaran Rp. 18.000 per kilogram. Bahkan, sempat anjlok di angka Rp13 Ribu - Rp15 Ribu per kilogramnya. Namun, di masa pandemi ini, mengalami kenaikan dengan harganya di petani di kisaran Rp 26.000 per kilogramnya yang bertahan sampai saat ini.

"Di masa pandemi, bertahan bahkan naik terus sekarang harga di petani Rp 26 Ribu (per kilogram). Permintaan pasar semakin gesit, justru jahe di petani kurang barangnya. Permintaan sebanyak banyaknya. Jahe kadang 5 bulan dipanen, karena tertarik sama harga. Namun yang kita bongkar hari ini, diumur 7 bulan, itu untuk menaikkan kualitasnya dan timbangannya," sambung pria yang biasa disapa Aska ini.

Untuk permintaan, daerahnya yaitu ke Rantauprapat, Pekanbaru, Palembang, Padang dan bahkan sampai di Pulau Jawa, tepatnya Kramatjati, Jakarta.

Ia rutin memenuhi permintaan sebanyak 20 ton bahkan lebih setiap minggunya kepada klien. "Kalau jahe ini banyak diperuntukan untuk kesehatan, contoh terapi kesehatan, hidung, permen mint dan jamuan jamuan," katanya.

Aska merinci, dalam lahan 1 hektar misalnya, tidak ada masalah seperti hama, kemarau ataupun yang lainnya, ia bisa mengeluarkan modal dari awal menanam sampai memanen senilai Rp 180 Juta. Sudah termasuk dengan biaya tenaga (pekerja) dan akomodasi ataupun transportasi.

"Sebelum pandemi ini kan harganya Rp 18 Ribu (per kilogram), orang (petani) sempat takut harga turun. Sempat juga orang takut menanam, karena harga bibit juga sudah mahal yaitu Rp 35 Ribu (per kilogramnya). Tapi ini malah naik," tutupnya sekalian memantau proses memanen.