Simalungun, hetanews.com - Jefri Anggara (25), warga Huta III Hataran Jawa, Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, dituntut 4 tahun 6 bulan penjara, denda Rp800 juta, subsider 6 bulan penjara oleh jaksa Barry Sugiarto Sihombing SH, disidang PN Simalungun, Kamis (25/11/2020).

Atas tuntutan tersebut, terdakwa memohon kepada hakim agar hukumannya diringankan. Namun menurut hakim, tuntutan terdakwa sudah sangat minimal.

"Udah ringan itu, tapi ya sudahlah,"kata ketua majelis hakim, Hendrawan Nainggolan SH.

Terdakwa dipersalahkan jaksa, melanggar pasal 112 (1) UU RI No.35/2009 tentang narkotika dengan ancaman minimal 4 tahun. Jefri terbukti memiliki 0,40 gram sabu.

Menurut Jaksa Barry Sugiarto Sihombing SH, terdakwa Jefri, pada Selasa, 16 Juni 2020 lalu, sekitar pukul 14.30 WIB, membeli sabu di Kampung Banjar Siantar, dengan mengendarai sepeda motor Honda Beat BK 4008 TAD.               

Usai beli sabu seharga Rp 150 ribu, lalu terdakwa kembali menuju rumahnya. Ternyata di perjalanan, tepatnya di jalan rusak Pondok 8, Nagori Marubun Jaya, ia melihat ada polisi. Lalu terdakwa meninggalkan sepeda motornya dan berlari ke areal kebun kelapa sawit milik PTPN IV Kebun Marihat.              

Kemudian polisi melakukan pengejaran dan berhasil menangkap terdakwa, bersama barang bukti sabu dalam plastik kecil. Jefri bersama barang bukti, diserahkan ke Polsek Tanah Jawa untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.             

Hal yang memberatkan terdakwa menurut jaksa, tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkotika. Sedangkan hal meringankan terdakwa karena belum pernah dipidana.

Untuk pembacaan putusan, ketua majelis hakim, Hendrawan Nainggolan SH, di dampingi dua hakim anggota, Yudi Dharma SH dan Rori Anggriani Sormin, menunda persidangan hingga Selasa (1/12/2020) mendatang.