Jakarta, hetanews.com - Menteri Luar (Menlu) Negeri, Retno Marsudi menghadiri acara World Economic Forum (WEF) Special Virtual on Indonesia, Rabu (25/11). Menlu menyampaikan tentang perspektif geopolitik Indonesia.

"Di akhir sesi ke dua saya diminta untuk menyampaikan perspektif geopolitik Indonesia, dan di dalam pertemuan tadi saya sampaikan bahwa November ini merupakan bulan summit," katanya dalam jumpa pers virtual di akun sekretariat presiden, Rabu (25/11).

Summit tersebut diantaranya adalah Summit APEC, KTT APEC, KTT ASEAN dan KTT G20. Retno pun menyampaikan kepada para CEO di forum WEF bahwa Indonesia akan menjadi ketua di sejumlah KTT.

"Memegang presidensi G20 pada tahun 2022, dan juga di tahun berikutnya memegang keketuaan di ASEAN. Saya sampaikan selam summit berlangsung dua isu yang menonjol yaitu masalah vaksin dan juga recovery ekonomic," ungkapnya.

Selanjutnya, Retno bicara mengenai Asia Tenggara. Dia bilang, pemerintah melihat bahwa ASEAN memegang peranan sentral. Selama lebih dari 50 tahun, kata dia, Asia Tenggara telah menjadi kawasan yang stabil dan damai.

"Tidak terdapat konflik terbuka selama lebih dari 50 tahun ini. Tentunya situasi ini menguntungkan, bagi para privat sector untuk mengembangkan usahanya dikawasan ini, dimana indonesia adalah negara dan ekonomi yang terbesar di Asia Tenggara," tuturnya.

Retno menegaskan, bahwa stabilitas dan perdamaian di Asia Tenggara ini telah menjadi kesempatan Indonesia untuk menarik bisnis. Namun, perdamaian dan stabilitas ini tidak datang begitu saja secara otomatis.

"Harus dipelihara bersama dan diupayakan untuk tetap ada. Ini merupakan kerja yang cukup besar," ujar dia.

Selanjutnya, Retno membeberkan hal yang membuat Asia Tenggara tetap stabil dan damai. Yaitu memelihara Centrality dan Unity ASEAN. Menurutnya, hal Ini sangat penting lantaran ASEAN memegang peran sentral di dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara.

"Kedua yang saya sampaikan pentingnya memelihara paradigma win-win, ini penting sekali, karena sekali lagi, tanpa mengarus utamakan paradigma ini maka kerja sama yang terbentuk bukanlah kerjasama yang sifatnya berkelanjutan," paparnya.

Terakhir, Retno mengutarakan, dalam 5 tahun terkahir ini private sector merupakan beneficiaries dari situasi damai dan stabil di kawasan. Dia mengharapkan, para private sector ini dapat menjadi push vector kepada pemerintahnya masing masing untuk terus menyebarkan energi positif untuk kolaborasi dan kerjasama win-win.

Kemudian, meningkatkan stabilitas kawasan. Tentunya, kata Retno, hal ini akan sangat penting bagi terciptanya situasi atau lingkungan bisnis yang kondusif.

sumber: merdeka.com