Medan, hetanews.com - Kasus pemilik panti pijat gay di Medan, Sumatera Utara, sudah sampai ke tahap persidangan. Pemilik panti pijat gay yang diketahui bernama A Meng itu didakwa melakukan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Diketahui A Meng memiliki panti pijat di Jalan Ring Road, Medan. Ia membuka usaha tersebut untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

A Meng turut mempekerjakan sejumlah terapis. Namun, terapis-terapis itu seluruhnya adalah laki-laki. Selain itu, pelanggan panti pijat itu juga laki-laki.

Setiap tamu pria yang datang akan dilayani oleh terapis pria dengan biaya Rp 250 ribu. Biaya itu termasuk pelayanan pijat dan seks sesama jenis.

Dari biaya tersebut, terapis akan mendapat bagian Rp 150 ribu dan A Meng mendapat Rp 100 ribu. Jaksa juga menyebut para terapisnya bebas melayani tamu di luar spa. Namun, A Meng tetap mendapatkan bagian sebesar Rp 50 ribu.

Dalam dakwaannya, jaksa menyebut tamu yang datang ke tempat tersebut merupakan pria yang dicari oleh A Meng. Sebagian tamu adalah kenalan para terapis. A Meng juga disebut membuat iklan tempat pijat miliknya di salah satu media cetak. Iklan itu mempromosikan layanan pijat untuk pria.

  • Agustus 2017

Kasus tersebut bermula sekitar Agustus 2017, ketika A Meng membuka sebuah tempat pelayanan jasa spa atau pijat di Kompleks Setia Budi II, Medan. Tempat pijat itu disebut yang memberikan pelayanan seks sesama jenis bagi pria (gay).

A Meng disebut menyediakan fasilitas berupa kamar-kamar untuk ruangan pijat, peralatan pijat, hingga peralatan untuk seks sejenis. Ada kondom, pelumas seks, hingga sex toys yang disiapkan A Meng.

  • Mei 2020

Polda Sumut menggerebek 11 orang di lokasi tempat pijat plus-plus khusus gay pada Mei 2020. Dari 11 orang itu, termasuk salah satunya A Meng yang menjadi perekrut dan menyiapkan tempat.

Saat digerebek, polisi menemukan terapis pria yang sedang melayani tamu pria. Selain itu sejumlah barang bukti seperti 23 bungkus pelumas seks, 510 bungkus kondom, 1 buah seks toys.

"Satu orang berinisial A ini sebagai perekrut dan menyiapkan tempat. Kemudian yang lainnya adalah terapis. Semua terapisnya adalah laki-laki," kata Dirkrimum Polda Sumut, Kombes Irwan Anwar, Rabu (3/6/2020).

Polisi menduga pijat plus-plus ini memiliki jaringan tersendiri yang sifatnya tertutup. Namun, setelah diperiksa, 10 dari 11 orang itu dipulangkan.

Mereka yang dipulangkan yakni para terapis yang dipekerjakan oleh A Meng. Sementara itu, A Meng tetap ditahan.

"Iya (sudah dipulangkan 10 orang terapis), mereka ini korban," ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja, Sabtu (6/6/2020).

  • November 2020

A Meng diadili di Ruang Cakra 2, Pengadilan Negeri Medan, Rabu (25/11/2020). Majelis hakim, jaksa penuntut umum, dan kuasa hukum terdakwa hadir di ruang sidang, sementara A Meng berada di rutan.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 2 ayat (1) UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, serta perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 296 KUHP," ucap jaksa saat persidangan di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (25/11/2020).

sumber: detik.com