Hetanews.com - Kabar soal adanya narapidana di dalam tahanan yang masih bisa menjalankan bisnis narkoba bukanlah hal baru. Kejadian semacam ini sudah berulang kali terjadi di Indonesia.

Tidak hanya mengatur jual-beli barang haram dari dalam sel, beberapa waktu lalu bahkan terkuak adanya seorang narapidana yang mengendalikan pabrik sabu di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dari dalam sel.

Mengapa hal ini masih bisa terjadi dan terus berulang?

Pakar Hukum Kepolisian Universita Bhayangkara Jakarta, Edi Hasibuan menyebut aksi atau tindakan napi yang masih bisa mengendalikan bisnis narkoba dengan mudah tersebut terjadi akibat lemah atau kendornya pengawasan yang diterapkan di lembaga pemasyarakatan.

"Kita sadari napi walau sudah ditangkap dan dipenjara di lapas tetap saja bisa menjalankan bisnis gelapnya. Ini terjadi karena penggunaan HP masih belum ketat dan pengawasan juga belum ketat," ujar Edi, Selasa (24/11/2020).

Hal ini mungkin saja akan terus berulang selama pengawasan yang ada saat ini tidak diperketat. Kewenangan ini menurut Edi ada di pihak Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

"Selama Dirjen Imigrasi masih belum memperketat dan pengawasan dalam rutan dan lapas, sulit memberantas narkoba di negeri ini. Rutan dan lapas harus steril dari penggunaan HP," sebutnya.

Terlepas dari itu semua, Edi menjelaskan bagaiamana pada praktiknya sebuah ponsel bisa masuk ke dalam lapas dan jatuh ke tangan napi di sana.

"Biasanya diselundupkan dalam makanan saat kerabat atau teman membesuk. Bisa dibayangkan. Atau bisa juga dipinjamkan oleh oknum anggota, oknum petugas. Diduga ada indikasi permainan antar oknum petugas yang bermain dalam lapas dan rutan," katanya lagi.

Perlunya tindakan tegas

Edi mengibaratkan keberadaan ponsel di dalam tahanan akan selalu ada meski razia dilakukan. "Hari ini lapas dirazia HP oleh petugas, besok sudah ada lagi. Ini memperihatinkan," kata dia.

Untuk itu, Edi berharap ada tindakan tegas yang diberikan pada mereka yang terbukti membantu masuknya ponsel ke dalam ruang tahanan.

"Kita minta Dirjen Lembaga Pemasyarakatan tegas dan berikan sanksi tegas terhadap oknum petugas yang bermain," ucap Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) ini.

Tindakan tegas tersebut, imbuhnya menjadi salah satu cara yang harus ditempuh jika ingin peredaran narkoba hilang di Indonesia.

"Penggunaan HP dalam tahanan harus ditertibkan kalau ingin narkoba hilang. Dan di luar, kita minta seluruh pelabuhan tikus di berbagai daerah harus dijaga ketat oleh aparat," kata Edi.

Hal lain yang juga menjadi perhatiannya adalah adanya pelabuhan-pelabuhan tikus yang selama ini banyak menjadi jalan masuknya narkoba ke Indonesia.

"Selama ini pelabuhan tikus selalu menjadi sumber (masuknya) narkoba. Contoh Anyer dan Kepulauan Seribu, dan lainnya di berbagai daerah," imbuhnya.

Sumber: kompas.com