Jakarta, hetanews.com - Presiden Jokowi menginstruksikan bahwa cuti bersama akhir tahun 2020 (long weekend) harus dikurangi. Hal ini guna mencegah penularan virus corona makin masif.

"Yang berkaitan masalah libur, cuti bersama akhir tahun termasuk libur pengganti cuti bersama Idul Fitri, Presiden memberikan arahan supaya ada pengurangan," kata Menko PMK Muhadjir Effendy saat memberikan konferensi pers usai ratas di Istana Merdeka, Senin (23/11).

Namun, Muhadjir belum merinci berapa jumlah pengurangan yang diminta oleh Jokowi. Tadinya pemerintah merencanakan cuti bersama dalam libur akhir tahun. Libur Natal dan Tahun Baru 2020 akan digabung dengan cuti bersama Lebaran yang diundur di akhir tahun, dari 24 Desember hingga 1 Januari. Sehingga total ada 11 hari libur termasuk libur reguler Sabtu-Minggu.

Rapat koordinasi antarmenteri untuk membahas libur akhir tahun segera dilakukan. Keputusannya berapa hari yang dikurangi akan disampaikan setelah itu.

Sebelum keputusan itu diumumkan, kumparan menyampaikan sejumlah data terkait kenaikan kasus corona yang selalu terjadi usai long weekend.

Berikut ulasannya:

  • Long Weekend Lebaran

Libur Idul Fitri tahun ini terjadi pada 22-25 Mei 2020. Pemerintah sebenarnya masih memberlakukan larangan mudik.

Keluar masuk Jakarta juga masih sangat ketat. Kudu menunjukkan SIKM (Surat Izin Keluar Masuk).

Namun ternyata, peningkatan kasus masih tetap terjadi. Masyarakat juga tak sedikit yang memanfaatkan long weekend untuk ke tempat wisata atau mobilitas lainnya.

"Terjadi kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sekitar 69 sampai 93 persen sejak libur Idul Fitri dengan rentang waktu 10 sampai 14 hari," demikian laporan Satgas COVID-19.

Pada pekan terakhir Mei, kasus corona mingguan di Indonesia di angka 4.202. Sebenarnya mengalami penurunan dari pekan ketiga Mei yang berjumlah 4.757 kasus.

Namun, kasus terus melonjak di bulan Juni. Bahkan kenaikannya terhitung ekstrem.

Pada pekan pertama kasus corona mingguan naik sedikit di angka 4.713. Nah, pada pekan kedua Juni-lah kasus melesat tajam sampai ke angka 7.091 kasus.

Periode ini diyakini sangat terkait dengan libur Lebaran. Sebab, dicocokkan dengan masa inkubasi 10-14 hari, memang ada peningkatan.

Lalu terus naik hingga pekan terakhir Juni, mencapai 8.119 kasus. Atau nyaris dua kali lipat dari akhir Mei.

  • Long Weeekend Agustus-September

Pada akhir Agustus dan awal September (bertepatan long weekend HUT Kemerdekaan bersambung ke libur nasional Tahun Baru Islam), kasus corona di Indonesia melonjak tajam.

Hal ini salah satunya karena munculnya klaster long weekend. Masyarakat DKI banyak yang berlibur ke berbagai tempat wisata, salah satu yang favorit dikunjungi adalah Puncak, Bogor.

Bahkan, kasus baru positif virus corona di Jakarta pecah rekor, yakni 1.114 orang pada Minggu (30/8). Catatan Dinkes DKI, warga terbanyak terpapar saat long weekend.

"Dari jumlah tersebut, 385 kasus adalah akumulasi data 7 hari sebelumnya yang baru dilaporkan, yang mana sebagian besar terpapar COVID-19 saat libur panjang akhir pekan (long weekend) pada rentang waktu 16 - 22 Agustus 2020," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, Minggu (30/8).

Berdasarkan data terkini Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 70 % kasus positif pada hari itu adalah kasus yang diambil spesimen pada tanggal 24 dan 25 Agustus 2020.

Jika dihitung mundur, masa inkubasi tersering adalah 6 hari (inkubasi adalah lama waktu dari virus masuk sampai dengan menimbulkan gejala), lalu pasien mengakses pemeriksaan PCR 1-2 hari kemudian, maka periode penularan tertinggi terjadi pada 16-17 Agustus 2020 atau libur long weekend Hari Kemerdekaan.

Kenaikan kasus juga terjadi di Jawa Timur.

Kepala Departemen Epidemiologi FKM Unair, Atik Choirul Hidajah, juga pernah menjelaskan terkait efek libur panjang bulan Agustus.

Kata dia, jelas berpengaruh terhadap bertambahnya kasus positif virus corona. Hal itu dipengaruhi dari munculnya kerumunan masyarakat di ruang publik, sehingga jelas dianggap berpotensi menyumbangkan angka positif virus corona.

"Kalau dilihat dari efeknya dari kerumunan beberapa hari kemarin mungkin akan saya mulai dari (menjadi) salah satu faktor yang dapat jadi berpengaruh terhadap penyebaran COVID-19 ini adalah kerumunan pergerakan manusia," ucap Atik dalam diskusi sapa daerah yang digelar BNPB secara daring, Selasa (25/8).

Menurut Atik, Jawa Timur jadi salah satu daerah yang menunjukkan adanya tren peningkatan kasus virus corona cukup ekstrem akibat mobilitas dan kerumunan warga yang tinggi, khususnya saat libur panjang perayaan HUT-75 RI lalu.

"Memang betul di libur panjang kemarin masyarakat di semua tempat meskipun belum sampai pada kondisi baseline. Yang menarik di Jatim dan Indonesia pada umumnya, ini di area publik seperti taman atau tempat pariwisata yang dikelola ada tren kenaikan (penularan virus corona) ekstrem pada perayaan HUT RI ke-75. Demikian juga di Jatim trennya menunjukkan peningkatan," ucap Atik.

  • Long Weekend Oktober

Peringatan terus diberikan ke masyarakat saat long weekend Oktober. Namun, tak ada larangan mobilitas.

Hal itu yang membuat lagi-lagi masyarakat masih berduyun-duyun liburan ke tempat wisata. Kerumunan-kerumunan pun tak terhindarkan.

Dan boom, kasus corona pun melesat belakangan ini. Kasus di Jakarta yang sebelum long weekend sempat menurun, kembali melonjak.

Keterisian bed ruang isolasi dan ICU rumah sakit rujukan kembali di atas 70 persen. Bahkan kasus sempat mencapai yang tertinggi selama pandemi pada Sabtu (21/11), bertambah 1.579 orang.

Lagi-lagi tak cuma di Jakarta.

Ketua Satgas COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo menyebut kenaikan corona juga terjadi di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Bahkan di RSHS Bandung ruang isolasi sempat terisi sampai 90 persen. Kasus corona di Jateng juga sempat tembus 1.000-an orang dalam 24 jam.

sumber: kumparan.com