HETANEWS.COM

Kala Warteg Bermigrasi Karena Pandemi

Ilustrasi warteg. Foto: Detikcom

Hetanews.com - Sudah berbulan-bulan warung makan tegal alias warteg yang terletak di Kelurahan Bugel, Kecamatan karawaci, Tangerang tak menunjukan tanda kehidupan.

Jendela kaca nako milik warteg itu hampir seluruhnya tertutup debu. Jika diintip ke dalam, meja dan bangku khas warteg sudah tidak ada. Isinya kosong melompong. Meski tak kunjung buka, pelanggan setianya, Sri Wahyuni, selalu mampir ketika jam makan siang tiba.

”Kebetulan saya tinggal di dekat sini. Sekalian lewat juga, sih. Siapa tahu buka lagi. Memang biasanya saya suka beli sayur buat makan siang di warteg ini,” tutur Sri.

Ati ampela, jengkol, dan orek tempe jadi menu kesukaannya di warteg. Padahal selama jadi langganan warteg, Sri tidak pernah melihat warteg itu tutup, meski tanggal merah sekali pun.

“Pokoknya nggak lama setelah COVID-19 ini lah tutupnya. Dengar kabar pemiliknya nggak jualan lagi. Sayang banget, sih. Soalnya makan di sini harga terjangkau. Mau makan murah di mana lagi kalau bukan di warteg.”

Akhmad Khojin, pemilik warteg di Tangerang yang terpaksa tutup karena pandemi COVID-19.
Foto: 20Detik

Kabar burung itu memang betul. Pemilik warteg, Akhmad Khojin, sudah menutup usaha yang telah ia dirikan dengan susah payah sejak tahun 1997. Pandemi COVID-19 terpaksa membuatnya menutup usaha warteg miliknya.

“Rumah itu yang saya jadiin warteg udah nggak layak buat jualan. Sejak pandemi udah sepi sekali. Jadi saya tutup warungnya,” ujar pria asal Tegal ini.

Langganan warteg Akhmad kebanyakan berasal dari karyawan pabrik. Lokasi wartegnya cukup strategis karena berdekatan dengan lingkungan pabrik.

Namun sejak pandemi, banyak pabrik melakukan Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Pelanggan warteg Akhmad yang kebanyakan karyawan pabrik pun otomatis berkurang drastis.

“Biasanya bisa sampai 200 orang per hari. Awal-awal turun sampai 50%. Terakhir nggak kuat dan tutup. Bayangin saja penurunannya berapa,” keluh Akhmad.

Padahal sebelumnya, Akhmad sempat memetik buah manis dari hasil usaha warteg-nya. Setelah tujuh tahun berjalan, hasil keuntungannya bisa ia gunakan untuk membeli rumah yang ia gunakan untuk berjualan warteg.

Begitu pula dengan sebuah mobil dari hasil usaha warteg. Ketika pandemi menghantam usahanya, mobil itu ia gunakan untuk beralih profesi menjadi sopir taksi online. Lagi-lagi karena pandemi, usahanya menjadi sopir masih jauh dari kata untung.

Sebagian warteg di Jakarta yang masih bertahan kala pandemi.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Tidak lama kemudian ia berhenti. Akhmad kembali mencoba peruntungan membuka warteg setelah ada lahan saudaranya yang tidak lagi terpakai.

“Saudara saya sebelumnya usaha warteg juga tapi tutup. Saya mau coba untuk kembangin. Habis bingung karena nggak ada jalan lain. Sedangkan di rumah ada istri dan anak yang harus dikasih makan,” tuturnya.

Akhmad merekrut satu orang karyawan untuk membantu operasional warteg. Sebelumnya pria berusia 51 tahun itu bisa memperkerjakan sampai empat orang.

“Sekarang gaji karyawan aja terseok-seok, padahal cuma satu orang.”

Akhmad bukan satu-satunya pengusaha warteg yang dibuat kelimpungan karena pandemi. Ketua Koordinator Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara), Mukroni mencatat sebanyak 10.000 pengusaha warteg menutup usahanya di Jakarta.

Terutama sejak PSBB Jilid 1 diterapkan pada April 2020. Sebagian di antara mereka ada yang memutuskan untuk pindah lokasi berdagang ke kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) karena biaya sewa lebih murah. Tapi ada juga yang memilih pulang kampung menjadi petani atau bahkan terpaksa menganggur.

“Sebetulnya dari 2019 sudah mengalami pergeseran atau tutup karena daya beli masyarakat turun. Tahun yang sangat dahsyat ini pas pandemi awal 2020 banyak warteg yang tutup, hampir 25% warteg Jabodetabek terimbas dan tidak melanjutkan usaha,” terang Mukroni.

Mukroni, Koordinator Komunitas Warung Tegal Nusantara
Foto: 20detik

Tren migrasi warteg ke sejumlah daerah penyangga ibu kota disebabkan karena tak terjangkaunya kemampuan pelaku bisnis kecil untuk membayar tempat sewa usaha di lahan ibu kota. Selain itu penyebab tutupnya usaha warteg karena banyak perkantoran dan sekolah yang belum beroperasi normal.

"Karena kan orang dibatasi untuk aktivitas di luar. Kaya kantor tutup, mal tutup, dan tempat yang banyak karyawannya juga dibatasi operasionalnya. Akhirnya pelanggan juga nggak ada," paparnya.

Mukroni sendiri juga terpaksa menutup usaha warteg-nya di Cilandak, Jakarta Selatan, karena tak sanggup membayar biaya sewa. Ia lantas membuka kembali usaha warteg di Bekasi dengan harga sewa lebih terjangkau.

“Waktu masih di Cilandak setahun sewa bisa Rp 100 juta per tahun. Sekarang di Bekasi ini cuma seperempatnya.”

Sumber: detik.com

Editor: andi.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan