Asahan, Hetanews.com - Masyarakat Batak sejak dahulunya terkenal dengan ciri khas yang sulit untuk ditaklukan ataupun dipengaruhi. Demikian  juga pada saat masuknya kolonial Belanda ke tanah Batak tidak disambut baik dan dianggap mengganggu kehidupan masyarakat khususnya pada kawasan Tomuan  Holbung Kabupaten Asahan yang dipimpin oleh Opung Solpoan Sinurat.

Banyaknya  hasil pertanian seperti kacang, karet, kopi akan dijual di Parbandaran (Pelabuhan kapal laut) yang saat itu dijadikan tempat transaksi jual beli bagi pedagang dan petani, yang juga menjadi cikal bakal nama Desa Bandar Pasir Mandoge.

Desa ini bisa diakses oleh kolonial penjajah Belanda lewat jalur air dari Tanjung Balai menuju Parbandaran yaitu Aek Silo (Sungai Silau).

Peta Wilayah Bandar Pasir Mandoge

Banyaknya penduduk lama suku Jawa sebagai petani di daerah ini dan etnis Cina  yang masuk sekitar tahun 1700-1800 Masehi sebagai pedagang masih  bisa dipengaruhi oleh tentara Belanda yang tinggal pada daerah Bandar Pasir Mandoge.

Namun tidak pada suku Batak yang gigih dalam menentang penjajah Belanda dan melakukan perlawanan di kawasan Tomuan Holbung dahulunya.

"Adanya pembentukan Batalyon Istimewa  memiliki arti pertahanan masyarakat Tomuan Holbung, basis Batalyon Istimewa adalah Kecamatan Bandar Pasir Mandoge yang sekarang sudah ada 9 Desa" ujar Jaga Sitorus (narasumber-red)

Di dalam mempertahankan daerahnya, kaum muda Tomuan Holbung melakukan perlawanan dengan semboyan "Lebih Baik Mati Berkalang Tanah Daripada Hidup Dalam Penjajahan" dicetuskan oleh Sersan Mayor Benjamin Sinurat, anak dari pemimpin Tomuan Holbung.

Dalam usaha untuk mendapatkan senjata dan pakaian, kaum muda yang dipimpin oleh Serma Benjamin Sinurat perlahan-lahan menyergap koloni tentara Belanda saat mandi di sungai Aek Liman , serta pengepungan pada malam hari. Strategi ini membuat tentara Belanda juga kewalahan dalam penaklukan daerah ini.

Untuk mendapatkan pelatihan guna meningkatkan Sumber Daya Manusia di Batalyon Istimewa, diutuslah dua orang ke Bukittinggi dengan jalur darat yaitu Sersan Gairun Sitorus , Sersan Berlin Manurung.

Seiring waktu kedua anggota tadi serta tambahan utusan dua orang perwira yaitu Letnan Ahmad Tahir dan Letnan Sumadin, kembali  lagi ke daerah Tomuan Holbung untuk memberikan senjata dan pendidikan tentara pada kaum muda yang berjuang.

Tentara Belanda mengetahui hal tersebut kemudian berencana untuk menghancurkan Batalion Istimewa yang ada di Tomuan Holbung dengan menaklukkan pemimpinnya.

Tentara Belanda kemudian mengepung rumah kakak dari Sersan Mayor Benjamin Sinurat yang berada di Talun Tonga-Tonga sekarang berada di dalam HGU PT Sari Persada Raya, Dusun XI Desa Huta Padang.

Air Terjun Turunan Bolon, Desa Tomuan Holbung, Bandar Pasir mandoge

Mengetahui hal tersebut, Serma Benjamin Sinurat mencoba lari dan melompat dari jendela, namun hal tersebut gagal karena beliau kemudian tertembak dan menjadi tawanan perang Belanda.

Serma Benjamin Sinurat kemudian menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 26 Maret 1949. Wafatnya Benjamin Sinurat tidak menyurutkan semangat anak buahnya untuk memberi perlawanan kepada tentara Belanda.

Perlawanan hebat dari Batalyon Istimewa kemudian berakhir dengan diadakannya penyerahan kedaulatan Batalyon Istimewa menjadi Teritorial 1 Sumatera Utara bagian  Timur oleh Belanda, yang kemudian bermetamorfosis menjadi Tentara Nasional Indonesia.

Ilustrasi makam pahlawan

Tercatat sepanjang pertempuran dengan kolonial Belanda, sejumlah pahlawan daerah gugur antara lain: Kapten Serma Benjamin Sinurat, Sersan Puji Sitorus, Hamdi Zen , Maringan Nainggolan, Wahab Panjaitan, Djonas Manurung, Berlin Manurung, dan Nagain Tambunan. Makam mereka tersebar di beberapa daerah yang terletak pada Kecamatan Bandar Pasir Mandoge.

Sejak tahun 2003 Pemerintah Kecamatan Bandar Pasir Mandoge yang diprakarsai Toga Sinurat dan Jaga Sitorus memugar makam Benjamin Sinurat serta membuat Tugu Pahlawan mencari dan menyatukan kerangka pejuang yang gugur di wilayah Kec. Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.

SUMBER:

- Wawancara dengan Mr.Jaga Sitorus, Wartawan ASPOS Nusantara dan mantan Sekdes Huta Padang  Periode 1994-2002 yang dikumpul dari cerita Alm. Dr.Syehk H.Usman Manik Anggota LVRI Kab.Asahan dan dari orang orang tua di Desa Huta Padang.

- Wawancara Jhonlifer Manurung, Sekdes Huta Padang saat ini.

- Dokumen Sejarah Singkat Desa Huta Padang

Data Pribadi Penulis

Nama: Roger Frans Sinaga

TTL.  : 29 Januari 1999

Alamat l: Dusun I BP Mandoge  , Kec.BP Mandoge , Kab. Asahan , Sumatera Utara

Jenjang pendidikan:

  • SDN 016528 Lulus Tahun 2011
  •  SMP N 7 Muaro Jambi , Jambi.  Lulus Tahun 2014
  •   SMA Swasta YPUS lulus tahun 2017
  •  Sedang menempuh pendidikan di Fakulitas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (Smester 5 )