Simalungun, hetanews.com - Persidangan yang dipimpin ketua majelis hakim, Abdul Hadi Nasution SH MH, meringankan vonis 2 terdakwa pencetak dan pengedar uang palsu (Upal).

Terdakwa Janrisdo Purba (29), sebagai dalang kejahatan divonis 1,6  tahun penjara, denda Rp 100 juta, subsider 2 bulan dan Diamansyah Silalahi alias Pak Brema (35), divonis 1  tahun penjara dan denda yang sama.

Vonis hakim tersebut, dibacakan dalam persidangan Kamis (5/11/2020), di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun yang digelar secara online melalui vidcon.

Sebelumnya, Janrisdo diancam jaksa Dedy Sihombing dengan pidana penjara selama 2 tahun. Sedangkan Pak Brema diancam 1,6 tahun penjara. Sehingga hakim meringankan hukuman 6 bulan kepada masing - masing terdakwa.              

Kedua warga Simpang 4 Sindar Raya, Kecamatan Raya Simalungun itu, dinyatakan bersalah melanggar pasal 36 ayat (1) (2) dan (3) tentang mata uang jo pasal 55 (1) ke 1 KUH Pidana.            

Berdasarkan fakta menurut hakim, perbuatan tersebut dilakukan para terdakwa sekitar Maret 2020. Setelah sepakat membeli printer merk Cannon seharga 1,2 juta dan kertas HVS setengah rim, lalu dengan bantuan Edward Silalahi (DPO), para terdakwa berhasil mencetak uang palsu sebanyak Rp 7 juta yaitu pecahan Rp 100 ribu sebanyak Rp 5 juta dan pecahan Rp 50 ribu sebanyak Rp 2 juta.          

Kedua terdakwa nekad mencetak uang palsu gara-gara kesulitan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Setelah dicetak, lalu upal tersebut disimpan terdakwa Diamsyah Silalahi, di dalam kamar kosong rumah miliknya.

Lalu, Minggu, 13 Juli 2020, terdakwa Janrisdo, mengambil 3 lembar pecahan Rp100 ribu dari tempat uang palsu dari atas lemari kamar rumah Diamansyah, kemudian membelanjakannya dengan membeli 3 bungkus rokok Sampurna di tiga kedai.            

Setelah beberapa jam kemudian, para pemilik kedai mengetahui kalau uang terdakwa ternyata palsu. Kemudian saksi Efraim Mapebsa Purba, Jawasinton Sinaga dan Jontuah Parsadaan Sinaga, selaku warga dan Gamot Sindar Raya, menangkap terdakwa Janrisdo Purba, di rumahnya.      

"Kami melakukan pencetakan uang palsu karena kesulitan ekonomi pak hakim,"sebut kedua terdakwa yang mengaku bekerja sebagai tukang pasang teratak jika ada pesta.         

Mengetahui temannya Janrisdo sudah ditangkap warga dan dibawa ke Polres Simalungun, lalu terdakwa Diamansyah Silalahi als Pak Brema, buru-buru membakar sisa uang palsu yang ia simpan tersebut dan polisi pun menangkapnya.             

Persidangan dibantu panitera, Jonathan Sinaga SH, dinyatakan selesai dan ditutup.