Siantar, hetanews.com - Pergantian status PDAM Tirta Uli ke Perumda tidak serta merta menggantikan Perusahaan Daerah Pasar Horas Jaya [PDPHJ] dan Perusahaan Daerah Pembangunan Aneka Usaha [PDPAUS].

Menurut Wakil Ketua Komisi II DPRD, Ferry SP Sinamo dua perusahaan tersebut masih perlu dievaluasi. Sehingga pembahasan untuk merubah status PD ke Perumda belum ada titik temu.

Masih menurut Ferry, dalam perjalanannya dua PD milik Pemko Pematangsiantar itu kondisinya merugi. Bahkan kata Ferry sampai membebani keuangan daerah.

"PD PAUS itu sampai sekarang merugi hingga Rp 30 Miliar dan PDPHJ Rp 10 Miliar. Kalau seperti ini kondisi perusahaan, ngapain kita teruskan menjadi perumda,” ucap Ferry kepada Hetanews dihubungi, Rabu (4/11/2020).

Dia menjelaskan kerugian keuangan yang tidak sedikit di dua PD perlu dilakukan evaluasi. “Masih kita evaluasi kedua perusahaan ini, bagaimana kedepannya mereka [PD] ini," ucap Ferry.

Berbeda dengan Ferry, Kabag Hukum Pemko Pematangsiantar Herry Oktarizal mengatakan, satu perusahaan daerah sudah masuk dalam program pembentukan perda atau Propemperda Tahun 2021.

"Untuk PDPHJ Pemko Siantar sudah mengajukan usulan propemperda 2021," kata Oktarizal melalui pesan diterima Hetanews. 

Baca juga: Dibahas Cuma Satu Minggu Dua Ranperda Diterima Satu Ditolak

PDAM berubah Perumda

Sebagaimana diketahui, DPRD Pematangsiantar menerima usulan ranperda Perumda Tirtauli dan ranperda pengelolaan keuangan daerah, Selasa 27 Oktober 2020.

Kini status Perusahaan daerah air minum [PDAM] Tirta Uli Kota Pematangsiantar beganti perusahaan umum daerah [Perumda]. 

Perubahan status perusahaan air minum tersebut sempat ramai dibicarakan. Sejumlah pemerhati menilai dampak perubahan tersebut berimbas ke perubahan tarif air minum yang bakal naik. 

Sebelumnya ada 3 usulan Ranperda yang diserahkan Walikota saat paripurna DPRD Senin 19 Oktober 2020. Selain ranperda ketertiban umum, dua diantaranya ranperda pengelolaan keuangan daerah dan perumda Tirta Uli.

Baca juga: Penjelasan PD PAUS Soal Kios Baru Di Pasar Hongkong