Untuk menjadi pemimpin jelas tidak mudah dan jantung harus benar – benar sehat. Karena untuk memimpin rumah tangga saja, banyak yang ampun – ampun karena tidak mampu menjadi leader. Belum lagi kalau ada ‘gesekan’ dari sana – sini, bisa – bisa rumah tangga yang tadinya penuh mimpi jadi bubar berantakan. Apalagi memimpin suatu daerah yang dihuni banyak bola mata, tentu susahnya tak terbayangkan.

Nah, karena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Siantar sudah dekat, 9 Desember 2020 mendatang, ada baiknya Calon Wali Kota Siantar dan Wakilnya (Asner – Susanti), tanya dulu dalam hati masing – masing. Kira – kira mampu gak ya memimpin Siantar, jika nantinya menang melawan kotak kosong???

Dan kalau ada ‘masalah’, ada baiknya diselesaikan dulu lah, biar saat dilantik menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Siantar, tinggal enak memainkan program kerja atau visi – misi yang telah ‘dikampanyekan’ kepada masyarakat.

Antara Wali Kota dan Wakil Wali Kota, maunya langgeng atau bahasa kerennya harmonis hingga dipenghujung periodeisasi.

Karena kalau sempat terjadi konflik atau perpecahan, maka suasana kota akan ‘memanas’ dan akan banyak orang memanfaatkan situasi itu.

Mungkin Pak Asner maupun Ibu Susanti sudah tahu atau sudah pernah dengar kalau mantan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Siantar sebelumnya pernah tidak cocok.

Kita balik ke belakang, seperti perjalanan Marim Purba dan Kurnia Saragih (Mantan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Siantar periode 2000-2005). Baik Marim maupun Kurnia sebenarnya sama – sama orang hebat dan punya pengaruh. Namun diperjalanannya, kepala daerah hasil pilihan DPRD Siantar ini, tidak akur. Suhu politik pun memanas dan intervensi DPRD Siantar sangat luar biasa waktu itu, hingga tak heran kalau jabatan Wali Kota Siantar sering aktif dan non aktif.

Hingga gelombang unjuk rasa di masyarakat pun kerap terjadi yang isunya antara melengserkan dan mendukung Wali Kota Siantar saat itu. Elemen masyarakat yang punya kepentingan dengan Marim jelas akan membela habis – habisan dan sebaliknya, ada juga yang berambisi kuat menjatuhkannya. Dan dimasa itu pula lah, sampai muncul kasus notulen palsu yang dimainkan DPRD Siantar, waktu itu.

Dan ternyata, ketidak cocokan tidak hanya diperlihatkan Marim Purba dan Kurnia Saragih.

Mantan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Siantar , periode 2010 – 2015, Alm Hulman Sitorus dan Koni Siregar, juga terlibat konflik yang serius.

Masalah keduanya yaitu terkait utang saat Pilkada.

Koni Siregar merasa ditipu oleh Alm Hulman Sitorus, karena ada kesepakatan diantara mereka, kalau menang Pilkada 2010, maka utang dibayar.

Pengakuan Koni, waktu itu, dirinya meminjam uang Rp 2 M kepada seorang konglomerat dengan jaminan tanah milik leluhur mertuanya, di Tigaras.

Waktu tahun 2010, kita ada minjam uang kepada seseorang untuk ongkos Pilkada sebesar Rp 2 M. Jadi kita udah ditagih suruh membayar. Jaminannya tanah dan surat tanah leluhur kami di Tigaras. Hulman tahu itu. Bahkan saya serahkan untuk si Hulman Rp 1 M. Dan Rp 1 M lagi, habis untuk cost politik 2010, ngurus ini itu, kata Koni yang menjawab konfirmasi wartawan hetanews saat itu.

Lagi – lagi, Koni mengaku ditipu karena menurutnya, sejak awal maju sebagai calon Wakil Wali Kota, ada perjanjian kalau  mereka terpilih, Hulman akan membayarkan pinjaman tersebut. Tapi nyatanya, Hulman mangkir untuk membayar dan si peminjam udah minta dananya dikembalikan.

Baca juga: Lingga Napitupulu Menyerahkan Diri Ke Lapas Pematangsiantar, Kasipidum Terkejut

Baca juga: Koni Siregar Merasa Ditipu Hulman Sitorus, Ada Kesepakatan, Kalau Menang Utang Terbayar

"Tanah itu punya leluhur kami. Punya opung kami. Itu udah ditagih. Kalau gak dibayar, tanah itu mau disita. Mau diambil si pemberi utang itu. Saya keberatan donk. Karena dulu ada kesepakatan. Kalau kami menang utang itu pasti terbayarkan. Tapi Hulman tidak punya itikad baik untuk membayarkan itu. Tidak ada berbagi rasa. Tidak ada menghargai saya," ujar Koni, kesal saat itu.

Terakhir, keduanya sempat saling adu mulut saat menghadiri acara ultah Taman Hewan Pematangsiantar, pada Sabtu, 13 Desember 2014. Dan bahkan keduanya dikabarkan nyaris baku hantam, dan untung saja dilerai pemilik THPS, Rahmat Shah.

Tidak ada maksud mengungkit – ungkit masa lalu dan ini hanya sebagai catatan, kalau Kota Siantar, pernah dipimpin Wali Kota dan Wakil Wali Kota Siantar yang akhirnya pecah hingga menyita perhatian masyarakat luas dan bahkan jadi ‘mainan’ menarik bagi orang – orang yang punya kepentingan didalamnya. Termasuk LSM dan Wartawan sangat menikmati 'kegaduhan' itu.

Pokoknya, jangan terulang lagi deh…Itu saja Pak Asner, Bu Susanti. Salam Sehat!!!. (*)