Spanyol, hetanews.com - Para petugas pemakaman di Spanyol melakukan aksi mogok kerja, guna menuntut penambahan staf karena jumlah kematian akibat Covid-19 terus meningkat.

Serikat pekerja mengatakan, penambahan tenaga kerja dibutuhkan untuk mencegah terjadinya penundaan penguburan jenazah seperti yang terjadi pada gelombang pertama pandemi pada Maret lalu.

Eropa saat ini sedang bergelut dengan gelombang kedua menyusul jumlah kasus dan kematian yang terus meningkat akibat virus corona.

Sejumlah negara memberlakukan langkah-langkah baru seperti jam malam dan karantina wilayah sebagai upaya untuk menurunkan angka penularan.

Pada Sabtu (31/10) kemarin, Austria dan Portugal menjadi negara yang paling buncit mengumumkan aturan pembatasan yang baru.

Para pekerja di rumah duka seluruh Spanyol mengambil bagian dalam mogok kerja pada Minggu (01/11). Aksi mogok ini bertepatan pada Hari Semua Orang Kudus, saat keluarga berziarah ke makam para kerabat yang sudah meninggal.

Salah satu rumah duka di Madrid mengatakan kepada kantor berita AFP, bahwa dibutuhkan 15-20 pekerja untuk menangani lonjakan kematian. Pada Jumat (30/10) lalu, menteri kesehatan mengkonfirmasi kematian 239 orang karena virus corona.

Pada Maret lalu, penguburan jenazah mengalami penundaan sekitar seminggu dan kremasi dilakukan di kota-kota yang jauhnya ratusan mil, karena rumah duka berjuang untuk memenuhi banyaknya permintaan.

Spanyol mencatat lebih dari 1,1 juta kasus positif Covid-19 dan 35.800 jumlah kematian sejak wabah terjadi, berdasarkan data Universitas Johns Hopkins.

Di sisi lain, di Prancis, Menteri Dalam Negeri, Gerald Darmani, telah bereaksi keras menyusul laporan sekelompok pelajar di sekolah kepolisian nasional Nimes, mengadakan pesta pora akhir minggu lalu.

Berita terakhir dari Prancis dilaporkan terdapat 46.290 kasus dalam 24 jam, makin tinggi dari hari sebelumnya yaitu 35,641 kasus. Lainnya, 231 orang meninggal pada periode yang sama, sehingga totalnya menjadi 37.019. Italia sedang mempercepat persiapan untuk sebuah pengetatan lebih lanjut tentang aturan pembatasan di negaranya.

Pada Sabtu lalu, dilaporkan 31.758 kasus positif, dalam hitungan harian. Menteri Kesehatan, Roberto Speranza, memperingatkan bahwa karantina wilayah menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan bangsal rumah sakit menjadi lebih penuh dengan pasien virus corona.

Dalam sebuah wawancara dengan koran Corriere della Sera, Speranza mengatakan tingkat kurva penularan naik "mengerikan".

Pembatasan sudah dilakukan di sejumlah negara seperti penutupan bioskop, kolam renang, teater, dan pusat kebugaran.

Bar-bar, restoran, dan cafe harus berhenti memberikan pelayanan pada pukul 18:00. Namun pertokoan dan sebagian besar bisnis masih tetap beroperasi.

Di Montenegro, ribuan orang menghadiri pemakanan tokoh agama terkemuka, Uskup Agung Amfilohije Radovic, yang meninggal karena virus corona pada Jumat, pada usia 82 tahun.

Meskipun terdapat saran doktor untuk melarang melayat, namun parade pembukaan peti mati di kerumunan di katedral Ortodoks Serbia di ibu kota Podgorica tetap berlangsung. Sejumlah pelayat bahkan menyentuh atau mencium kening dan tangan jenazah.

Mereka khawatir bahwa proses pemakaman ini akan membuat tingkat infeksi di negara - sudah tertinggi di Eropa- bahwa terburuk.

Slowakia telah menguji hampir setengah populasi penduduknya setelah mengumumkan sebuah rencana untuk melakukan tes Covid-19 pada seluruh warga yang berusia di atas 10 tahun.

Infeksi telah melonjak di Slovakia dan para pejabat berpendapat satunya jalan alternatif adalah melakukan karantina wilayah total.

Menteri Pertahanan, Jaroslav Nad mengkonfirmasi bahwa 2,58 juta orang menjalani tes pada Sabtu kemarin. Di antara mereka 25.850 menunjukkan hasil positif, dan harus menjalani karantina.

Kebijakan pembatasan baru, mulai berlaku di Jerman, Senin ini. Tingkat infeksi harian telah mencapai rekor tertinggi dalam seminggu terakhir.

Pada Sabtu lalu, negara ini mencatat lebih dari 20.000 kasus.

Dengan kebijakan baru ini, teater, bioskop, kolam renang, dan baru harus ditutup. Namun, sekolah dan pertokoan tetap dibuka.

Berbicara di parlemen awal pekan ini, Kanselir Jerman Angela Merkel memperingatkan adanya musim dingin yang panjang dan keras ke depan.

sumber: detik.com