HETANEWS.COM

Buntut Polemik Dugaan Pelanggaran Prokes Pilkada Medan, Seruan Tunda Pilkada Meruncing

Randy Syahrizal Tanjung (foto/ando)

Medan, Hetanews.com - Santer beredar kabar bahwa Calon Walikota Medan Akhyar Nasution nyaris terlibat dugaan kasus kekerasan saat dirinya menggelar kegiatan Kampanye di Jalan Alumunium I, Tanjung Mulia, Medan pada Selasa 27 Oktober 2020. 

Kabar yang sempat viral pun mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

Dolli Nadeak, selaku Koordinator Sinergi Kaum Muda Medan (SIKAMBA) melalui awak media ini menanggapi bahwa hal tersebut tak seharusnya terjadi.

“Saya kira sikap Panwascam sudah tepat. Sudah seharusnya Panwascam mengawasi kegiatan Kampanye dilapangan terlebih jika ada aturan yang dilanggar seperti tidak mengindahkan protokol kesehatan. Saya pikir ini fatal, dan tindakan nyaris memukul menurut saya tidak mencerminkan leadership yang baik dalam koridor demokrasi.” Jelas Dolli.

Namun Dolli mengaku dirinya tidak terkejut saat mendengar kabar dugaan pelanggaraan protokoler kesehatan tersebut.

Dirinya mengaku sudah sering mendengar statement Salman Alfarisi (Calon Wakil Walikota Medan) terkait pandangannya mengenai kasus Covid 19.

“Gak heranlah, bahkan di acara yang digelar PKS TV, Salman berbicara herd immunity atau bahasa kami “tarung bebas” dimana rakyat disuruh bertarung sendiri dengan pandemic covid 19, jadi ya gak terlalu kaget saya kalau mendengar kabar berita mereka tidak mengindahkan protokol kesehatan.” tegasnya.

Baca juga: Akhyar diduga mau bogem panwascam medan deli

Tanggapan lain juga datang dari Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Medan.

Randy, begitu nama sapaannya, menilai bahwa pemberitaan pelanggaran prokes kampanye Akhyar yang diduga melanggar protokol kesehatan adalah dampak yang sudah diprediksi oleh pihaknya jauh hari sebelum pemerintah menetapkan penyelenggaraan Pilkada pada 9 Desember mendatang.

“Sejak Agustus kemarin, kami (PRD-red) sudah mengkampanyekan Gerakan #TundaPilkada dan sudah meminta pemerintah untuk menunda Pilkada karena rentan melahirkan klaster jumbo " tungkasnya.

Baca juga: Akhyar Dilaporkan Ke Banwaslu

"Ini dia penyebabnya, mobilisasi massa dalam jumlah besar, apalagi tidak mematuhi aturan protokol kesehatan. Secara teori, perebutan kekuasaan itu terkadang melahirkan sikap manusiawi dan tidak manusiawi," ujarnya.

"Jika yang dominan yang tidak manusiawi, maka dalam kondisi pandemi pun dia akan memaksa merebut kekuasaan, dan sebaliknya jika dia manusiawi maka dia akan berpikir untuk mematuhi protokol kesehatan atau bahkan sepakat dengan menunda Pilkada.” tegasnya.

Baca juga: Saya kira pemikiran Salman itu Liberal

Saat ditanya sikapnya mengenai Pilkada, Randy mengaku pihaknya masih teguh dalam menuntut penundaan Pilkada demi kemanusiaan dan keselamatan nyawa rakyat Indonesia.

"Persoalannya begini, data kasus covid 19 ini naik hingga 404 ribu kasus di Indonesia, di Sumut sebanyak 12.925 dan Medan sebagai penyumbang kasus terbesar sebanyak 5ribuan kasus. Ini membahayakan karenas grafiknya naik terus, apalagi hingga hari H Pilkada nanti di TPS. Karena itu sikap kita tegas untuk tetap meminta pemerintah menunda pelaksanaan Pilkada.” tutupnya.

Penulis: ando. Editor: ando.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan