HETANEWS.COM

Saat Sakit, Kelelawar Cenderung Melakukan Social Distancing

Ilustrasi kelelawar. Foto: Shutterstock

Hetanews.com - Kelelawar telah lama memiliki reputasi buruk. Mahluk yang hidup dalam koloni ini dikenal sebagai reservoir berbagai macam virus, termasuk salah satunya adalah virus corona. Namun terlepas itu semua, kelelawar sebenarnya memiliki peran penting bagi lingkungan.

Mereka merupakan penyerbuk dan pengendali hama yang penting bagi ekosistem. Dan kini peneliti berhasil mengungkap perilaku lain dari mahluk nokturnal yang tak banyak diketahui oleh banyak orang.

Seperti dikutip dari Science Alert, Rabu (28/10/2020) penelitian baru ini menyebut ketika kelelawar merasa sakit, mereka secara alami menunjukkan bentuk perilaku yang kurang sosial atau cenderung mengambil jarak.

Peneliti mengambil kesimpulan tersebut usai melakukan studi pada sekelompok kelelawar vampir (Desmodus rotundus) liar dari koloni di Lamanai, Belize, Amerika Tengah. Dalam studinya, peliti menyuntik kelelawar dengan zat yang memicu sistem kekebalan.

Enam belas kelelawar betina dipilih secara acak disuntik dengan zat untuk mengaktifkan sistem kekebalan yang membuat mereka merasa mual selama beberapa jam, tetapi tidak menyebabkan penyakit yang nyata.

Sementara 15 kelelawar lainnya diberi suntikan air asin sebagai plasebo. Peneliti juga memasang sensor kecil yang ditempelkan di punggung untuk melacak pertemuan sosial mereka secara berkala selama beberapa hari.

"Kami fokus pada tiga ukuran perilaku kelalawar sakit: berapa banyak kelelawar lain yang mereka temui, berapa banyak total waktu yang mereka habiskan dengan kelelawar lain, dan seberapa baik mereka terhubung dengan kawanan," ungkap Gerald Carter, ahli ekologi perilaku dari The Ohio State University.

Ilustrasi kelelawar buah.
Foto: Dok. Shutterstock

Dan hasilnya, penelitian yang telah dipublikasikan di Behavioral Ecology ini menemukan, jika kelelawar yang sakit jelas mengubah perilakunya menjadi lebih menjaga jarak dengan kelelawar lain yang sehat.

"Efeknya terlihat begitu jelas. Bahkan tanpa analisis statistik yang rumit," papar Simon Ripperger, peneliti kelelawar dari The Ohio State University.

Dalam enam jam, kelelawar sakit rata-rata melakukan kontak empat kali lebih sedikit dibandingkan dengan kelelawar yang sehat. Kelelawar sakit juga menghabiskan lebih sedikit waktu berinteraksi dengan masing-masing pasangan.

"Di alam liar, kami mengamati kelelawar vampir yang merupakan hewan yang sangat sosial menjadi menjaga jarak saat mereka sakit atau ada kelelawar lain yang sakit dalam kawanan mereka. Dengan perilaku itu juga akhirnya mereka dapat mengurangi penyebaran penyakit," tambah Ripperger.

Meski begitu, perlu dicatat peneliti tidak menginfeksi kelelawar vampir dengan virus atau bakteri asli. Penelitian juga tidak mengukur penyebaran penyakit sebenarnya di koloni, hanya melihat sekelompok kecil dalam satu lokasi.

Sehingga masih ada kemungkinan, beberapa penyakit nyata justru tidak memengaruhi perilaku dan membuat interaksi kelelawar tidak berkurang.

Sumber: kompas.com

Editor: andi.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan