Istanbul, hetanews.com - Indonesia mengirim dua perwakilan dalam International Language and Culture Festival (IFLC) ke-18. Kedua siswa itu membawa pesan perdamaian dalam ajang internasional yang digelar secara daring.

Melansir BoldMedya, yang dikutip pada Selasa, 27 Oktober 2020, pesan perdamaian dua perwakilan juga menyinggung masalah hak asasi manusia (HAM) dalam festival budaya internasional itu. Khususnya terkait kesulitan imigran dari Turki.

Para perwakilan merupakan siswi kelas 8 sekolah semesta Jangli Safira Early Ramadhani, dan siswa kelas 6 dari semesta elemantary school Regan Arrozaq Hamdani. Keduanya menampilkan kesulitan imigran yang terpaksa keluar dari Turki dalam kondisi menderita dan disiksa.

Lebih dari 200 siswa dari 40 negara berpartisipasi dalam acara yang disiarkan di Youtube itu. Program tersebut menyedot perhatian para pecinta seni. Sebab dalam ajang online itu pula, mahasiswa dari 20 negara menciptakan koreografi bersama dan tampil di berbagai proyek.

Beberapa proyek menampilkan gambar yang mewakili kondisi tahanan politik di Turki. Termasuk Mustafa Kabakç?o?lu, yang meninggal dunia di kursi plastik dalam penjara Gümü?hane Tipe E. Foto pengusaha Osman Kavala dan jurnalis Ahmet Altan yang mendekam di penjara juga disertakan.

Anggota parlemen federal Jerman Gisela Manderla, Thomas Hitschler, Karl Heinz Brunner, Ulla Schmidt, Michaela Noll, dan Martin Patzelt merespons positif program tersebut. Pertunjukan seni itu dinilai sebagai kritik terhadap pihak tertentu.

"Ada ide menyatukan orang-orang muda untuk musik, lagu, tarian, bahasa, dan semua hal yang baik begitu indah, untuk menghilangkan penghalang dan tembok di kepala beberapa orang," kata anggota parlemen dalam pesannya dilansir BoldMedya.

Sumber: medcom.id