Medan, hetanews.com  - 100 ton ikan mati mendadak di Danau Toba, Sumatera Utara (Sumut) beberapa waktu lalu. Kualitas air di Danau Toba pun menjadi salah satu sorotan.

Akademisi Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Sumatera Utara (USU), Rusdi Leidonald, mengatakan matinya ikan secara mendadak bisa dipicu penurunan kualitas air. Menurutnya, penurunan kualitas air bisa dipicu banyak faktor.

"Ada banyak hal yang dapat menyebabkan penurunan kualitas air," kata Rusdi, Rabu (28/10/2020).

Dia mengatakan salah satu yang menjadi pemicu turunnya kualitas air adalah faktor cuaca. Menurutnya, penjelasan Dinas Pertanian Samosir soal angin kencang yang memicu air berputar sehingga air keruh naik ke atas danau bisa menjadi penyebab penurunan kualitas air.

"Secara teoritis memang dapat mengakibatkannya," kata Rusdi.

Namun, Rusdi mengatakan persoalan penurunan kualitas air ini harus dianalisis lebih lanjut. Rusdi mengatakan pihaknya belum memiliki data terbaru soal kualitas air Danau Toba.

"Kami di USU belum memiliki data terakhir perihal keadaan Danau Toba terkini dan saya yakin respons Pemkab dan Pemko sekeliling Danau Toba beserta Pemprovsu juga memiliki kompetensi di bidang tersebut," tuturnya.

Rusdi menjelaskan angin kencang bukan cuma mengganggu kualitas air di Danau Toba. Dia menyebut angin kencang juga pernah mengganggu kualitas air di beberapa danau di Indonesia.

"Hal ini juga sering terjadi di danau lainnya, seperti danau Singkarak di Sumatera Barat," ucap Rusdi.

Penelitian terkait kualitas air di Danau Toba ini pernah dilakukan pada 2014. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK saat itu, Karliansyah, menyebut danau yang jadi objek wisata itu tercemar pakan ikan.

"Jadi di Danau Toba banyak keramba apung dari perusahaan dan masyarakat adat. Dari keramba tersebut banyak pakan ikan yang terendapkan," kata Karliansyah saat berbincang, Sabtu (6/6/2015) malam.

Pakan ikan itu memiliki berbagai kandungan organik, mulai nitrogen hingga fosfor. Pengendapan itu mengakibatkan sinar matahari sulit menembus permukaan danau. Hal itu disebut membuat ikan-ikan mati.

"Limbah organik tinggi itu butuh oksigen untuk mengurai. Tanpa oksigen, ikan-ikan di sana mati," ujarnya.

Sebelumnya, ratusan ton di keramba apung milik 99 kepala keluarga di Samosir mati mendadak pada Rabu (21/10). Ikan-ikan yang mati ini dimasukkan ke dalam karung lalu dikubur.

"Ikan yang mati sesuai koordinasi Pak Camat Pangururan dikubur di Huta Tinggi. Ini sedang mencari solusinya saat diangkut truk agar dilapisi plastik supaya air yang terbawa ikan busuk tidak tercecer di jalan dan tidak menimbulkan bau busuk," kata Kepala Dinas Pertanian Samosir, Viktor Sitinjak, saat dimintai konfirmasi, Jumat (23/10).

Viktor menyebut penyebab ikan-ikan tersebut diduga akibat angin kencang yang memicu putaran air di Danau Toba. Menurutnya, air keruh yang naik membuat ikan kekurangan oksigen.

"Ikan mati akibat angin kencang sehingga ada putaran air di bawah danau," kata Kepala Dinas Pertanian Samosir, Viktor Sitinjak, saat dimintai konfirmasi, Jumat (23/10).

"Air keruh naik ke atas menerjang ikan di keramba membuat ikan susah bernafas karena kekurangan oksigen," sambungnya.

sumber: detik.com