Hetanews.com - Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) telah membangun fasilitas Observatorium Nasional di Nusa Tenggara Timur untuk melaksanakan kegiatan keantariksaan di Indonesia. Nantinya, observatorium ini akan dilengkapi teleskop besar mirip dengan yang ada di Jepang.

Observatorium Nasional itu dibangun di Gunung Timau, Kabupaten Kupang, NTT. Pembangunan dimulai pada 2017, digagas oleh LAPAN yang bekerja sama dengan ITB, UNDANA, dan Pemda setempat.

Semula, Observatorium ditargetkan rampung pada akhir 2020. Namun karena pandemi corona, rencana harus mundur setahun lebih lama.

“Sejak 2017, LAPAN bersama ITB dan UNDANA serta Pemprov NTT dan Pemkab Kupang membangun Observatorium Nasional di Gunung Timau, Kabupaten Kupang. Semula ditargetkan selesai 2020, namun tertunda jadi 2021 karena beberapa kendala, antara lain akses jalan dan pandemi Covid-19,” kata Thomas saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (27/10).

Indonesia Bikin Observatorium Terbesar di Asia Tenggara, Punya Teleskop Besar (1)
Observatorium bosscha ITB.

Fasilitas utama di Observatorium Nasional Timau adalah Teleskop Ritchey-Chrétien berdiameter 3,8 meter yang dilengkapi dengan cermin tersegmentasi serta Nasmyth foci yang mirip dengan teleskop luar angkasa milik Kyoto University, Jepang. Ini setara enam kali lipat lebih besar dari teleskop yang ada di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung.

Adapun Timau dipilih sebagai lokasi pembangunan Observatorium Nasional karena alasan cuaca. Timau merupakan area kering dengan persentase malam bercuaca cerah mencapai 70 persen, jauh dari polusi cahaya kota. Hal itu menjadi faktor yang sangat penting untuk pengamatan dan riset astronomi.

Menurut Kepala Bidang Diseminasi Pussainsa LAPAN, Dr. Emanuel Sungging Mumpuni, Observatorium Timau mampu merekam objek yang 36 kali lebih redup dibandingkan dengan pengamatan di Bosscha. Fasilitas di Timau juga merupakan generasi baru sehingga bisa mengikuti perkembangan sains antariksa teranyar.

Indonesia Bikin Observatorium Terbesar di Asia Tenggara, Punya Teleskop Besar (2)
Pembangunan Observatorium Nasional Timau.

Tujuan utamanya adalah sebagai pusat observasi astronomi dan pemberdayaan kawasan timur Indonesia. Observasi astronomi mencakup objek-objek tata surya --seperti planet, komet, dan asteroid-- fisika bintang dan galaksi, struktur besar alam semesta, sampai planet-planet di luar tata surya, termasuk pendeteksian planet ekstrasolar, evolusi bintang, ekstra galaksi dan asteroid dekat Bumi.

Sementara pengamatan kehidupan di luar Bumi, kata Sungging, belum dimasukkan ke dalam rencana penelitian.

Untuk biaya pembangunan Observatorium, menurut Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Rhorom Priyatikanto, menelan biaya sebesar Rp 340 Miliar, bersumber dari APBN.

“Biaya Rp 340 Miliar adalah total anggaran tahun jamak pembangunan observatorium nasional Timau dan pusat sains di Kupang. Dialokasikan sejak tahun 2015,” kata Rhorom.

Sampai saat ini, pembangunan fasilitas inti terus dilakukan. Target, pada awal tahun 2022 Observatorium Nasional Timau dapat beroperasi secara produktif.

“Sementara itu, tahun 2020-2021 kami dapat melakukan pengamatan di Pusat Sains Tilong, dekat Kupang,” kata Rhorom.

Sumber: kumparan.com