HETANEWS.COM

Terlihat Menggemaskan, Gigitan Kukang Asal Indonesia Ini Beracun dan Mematikan

Kukang Jawa, Javan slow loris (Nycticebus javanicus), primata asal Indonesia yang ternyata memiliki gigitan beracun. Foto: WIKIMEDIA COMMONS/Dr. K.A.I. Nekaris

Hetanews.com - Jangan tertipu dengan penampilannya yang terlihat menggemaskan dan lucu. Siapa sangka, di balik fisiknya yang menyerupai boneka, kukang ternyata memiliki gigitan yang berbahaya.

Seperti dikutip dari The New York Times, Selasa (27/10/2020) peneliti menyebut jika kukang punya gigitan beracun, menjadikannya sebagai satu-satunya primata berbisa di dunia.

Fakta menarik yang terungkap dari penelitian yang dipublikasikan di Current Biology ini adalah korban gigitan beracun kukang ternyata didominasi oleh kaumnya sendiri.

"Perilaku yang sangat langka dan aneh ini terjadi pada salah satu kerabat primata terdekat kita," kata Anna Nekaris, konservasionis primata di Oxford Brookes University.

Racun pada kukang sendiri berasal dari senyawa yang menyerupai protein yang ditemukan pada bulu kucing yang memicu alergi pada manusia. Namun senyawa tak dikenal lainnya tampaknya memberikan toksisitas tambahan dan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.

Untuk menghasilkan racun, primata berbulu halus itu mengangkat tangan ke atas kepala dan dengan cepat menjilat kelenjar penghasil minyak yang terletak di lengan atas mereka. Racun kemudian terkumpul di gigi taring yang berlekuk, yang cukup tajam untuk mengiris tulang.

Hewan lain yang terkena gigitan dapat kehilangan satu mata, kulit kepala, atau separuh wajah mereka. Ini lantaran gigitan mereka dapat menyebabkan nekrosis atau kematian sel dan jaringan.

Bukti keganasan racun kukang

Beberapa wawancara Nekaris dengan pedagang hewan ilegal di Indonesia mengungkap bagaimana efek gigitan yang mematikan itu. Pedagang satwa liar itu sengaja mencabut gigi hewan tersebut untuk mencegah kukang berkelahi dan dapat merusak harga jual kukang karena sudah terluka.

Petugas kebun binatang dan fasilitas penyelamatan juga menyebut bahwa salah satu penyebab kematian kukang yang paling sering adalah akibat gigitan kukang lainnya.

CaptionKukang Jawa, primata asal Indonesia memiliki gigitan mengandung racun yang mematikan.
Foto: NYTIMES/Andrew Walmsley

Namun untuk mengetahui bagaimana kukang menggunakan racunnya di alam, Nekaris menggunakan kalung radio untuk melacak 82 kukang Jawa (Nycticebus javanicus), spesies terancam punah di Indonesia.

Seperti jenis kukang lainnya, kukang Jawa bersama pasangannya akan menempati wilayah kecil yang terdiri dari satu atau beberapa pohon penghasil getah.

Selama rentang delapan tahun, para peneliti menghabiskan lebih dari 7000 jam memantau subjek penelitian di petak hutan seluas dua mil persegi. Peneliti menangkap kembali hewan setiap beberapa bulan untuk pemeriksaan kesehatan.

Yang mengejutkan dari semua tangkapan, 20 persen kukang memiliki luka gigitan baru. Seringkali luka parah yang membusuk yang menyebabkan kehilangan telingan, jari kaki, atau yang lainnya. Jantan lebih sering mengalami gigitan daripada betina.

Luka tersebut menurut peneliti merupakan luka nekrotik, sementara luka yang diakibatkan oleh gigitan predator hanya sekali terjadi. Peneliti pun menyimpulkan bahwa kukang merupakan hewan teritorial. Mereka sering menggunakan racunnya dalam perkelahian.

Temuan ini pun menempatkan kukang sebagai segelintir spesies yang menggunakan racun untuk tujuan mempertahankan teritorinya. Sebelumnya memang sudah terjadi perdebatan untuk apa sebenarnya racun pada kukang. Ada hipotesis yang menyebut jika racun digunakan untuk menangkap mangsa.

Namun mengingat makanan kukang berupa getah, maka hipotesis itu pun dikesampingkan. Sementara hipotesis lain yang mengemuka adalah racun kukang digunakan untuk pertahanan terhadap predator atau parasit. Kini kedua hipotesis tersebut tampaknya tak berlaku lagi.

Sumber: kompas.com

Editor: andi.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan