HETANEWS.COM

Nekat Cetak Upal Karena Covid-19, Dua Warga Simalungun Ini Dituntut Berbeda

Kedua terdakwa pengedar uang palsu, dituntut bervariasi disidang online PN Simalungun. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Dua terdakwa terbukti mencetak dan mengedarkan uang palsu (Upal), dituntut bervariasi, di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Selasa (27/10/2020).

Terdakwa Janrisdo Purba (29), sebagai dalang kejahatan itu, dituntut 2 tahun penjara, denda Rp 100 juta, subsider 2 bulan penjara. Sedangkan Diamansyah Silalahi alias Pak Brema (35), dituntut 1,5 tahun penjara, denda yang sama.              

Kedua terdakwa, masing – masing warga Simpang 4 Sindar Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun itu, dipersalahkan jaksa, Dedy Candra Sihombing SH, melanggar pasal 36 ayat (1) (2) dan (3), tentang mata uang, jo pasal 55 (1) ke 1 KUH Pidana.            

Perbuatan itu, menurut jaksa, dilakukan para terdakwa sekitar Maret 2020, lalu. Setelah sepakat membeli printer merk Cannon seharga Rp1,2 juta dan kertas HVS setengah rim, lalu dengan bantuan Edward Silalahi (DPO), para terdakwa berhasil mencetak uang palsu sebanyak Rp 7 juta yaitu pecahan Rp 100 ribu sebanyak Rp 5 juta dan pecahan Rp 50 ribu sebanyak Rp 2 juta.          

Kepada majelis hakim yang diketuai, A Hadi Nasution SH MH, kedua terdakwa membenarkan telah mencetak uang palsu, gara-gara kesulitan ekonomi di masa pandemi Covid-19.           

Setelah dicetak,  upal tersebut disimpan terdakwa Diamsyah Silalahi, di dalam kamar kosong, rumah miliknya.

Lalu, pada  Minggu, 13 Juli 2020, terdakwa Janrisdo, mengambil 3 lembar pecahan Rp100 ribu dari tempat uang palsu yaitu dari atas lemari kamar rumah Diamsyah dan kemudian membelanjakannya dengan membeli 3 bungkus rokok Sampurna di tiga kedai.            

Masih keterangan Janrisdo, setelah beberapa jam kemudian, para pemilik kedai mengetahui kalau uang terdakwa ternyata palsu.

Kemudian saksi Efraim Mapebsa Purba, Jawasinton Sinaga dan Jontuah Parsadaan Sinaga, selaku warga dan Gamot Sindar Raya, menangkap terdakwa Janrisdo Purba, di rumahnya.   

"Kami melakukan pencetakan uang palsu karena kesulitan ekonomi pak hakim,"sebut kedua terdakwa yang mengaku bekerja sebagai tukang pasang teratak, jika ada pesta.         

Mengetahui temannya Janrisdo sudah ditangkap warga dan dibawa ke Polres Simalungun, lalu terdakwa Diamansyah Silalahi als Pak Brema, buru-buru membakar sisa uang palsu yang ia simpan tersebut dan polisi pun menangkapnya.             

Atas tuntutan jaksa, kedua terdakwa secara lisan memohon agar hakim berkenan meringankan hukumannya, dengan alasan tidak mengulangi perbuatannya.

Untuk mendengar vonis majelis hakim, sidang dibantu panitera Jhonatan Sinaga SH, ditutup dan dibuka kembali pada Selasa mendatang.

Penulis: ay. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan