HETANEWS.COM

Penting Diketahui, Ini Perbedaan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional

Ilustrasi. Foto: MI/Adi Kristiadi

Jakarta, hetanews.com -Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengganti Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Nasional (AN) pada 2021. Terdapat beberapa perbedaan substansial pada pelaksanaan asesmen yang terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter tersebut.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Kemendikbud Evy Mulyani menepis anggapan bahwa AN hanya sekadar pergantian nama dari UN. Dia mengatakan, keduanya sangatlah berbeda.

Ujian Nasional hanya mengukur capaian hasil belajar kognitif individu peserta didik di akhir jenjang. Sedangkan Asesmen Nasional memotret input, proses, hingga output satuan pendidikan yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja satuan pendidikan.

"AN ini dilaksanakan oleh semua satuan pendidikan. Pelaporan Asesmen Nasional diberikan kepada satuan pendidikan dan dinas pendidikan untuk perbaikan kualitas pembelajaran," ujar Evy, Selasa, 27 Oktober 2020.

Perbedaan lainnya adalah dari sisi jenjang pendidikan. Jika UN sebelumnya hanya diperuntukkan bagi SMP, SMA dan SMK, maka AN dilaksanakan pada seluruh jenjang, yakni SD, SMP, SMA dan SMK.

Selain itu, yang mengikuti AN hanyalah siswa yang berada pada tingkat kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA atau SMK. Subjek penilaian pun berbeda, AN hanya akan mengambil sampel siswa untuk dinyatakan lulus, sedangkan UN keseluruhan siswa.

"Model soal UN pilihan ganda dan isian singkat periode tes empat hari. AN pilihan ganda, isian singkat, pilihan ganda kemungkinan, menjodohkan, dan uraian dengan periode tes dua hari," tambahnya.

Dengan begitu, AN nantinya tidak akan mengevaluasi siswa secara individu, melainkan evaluasi terhadap satuan pendidikan. Bagaimana potret layanan dan kinerja sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi refleksi untuk mendorong perbaikan mutu pendidikan Indonesia.

"AN murni mengevaluasi mutu sistem pendidikan, bukan evaluasi atas prestasi murid sebagai individu. Hasil AN tidak memiliki konsekuensi sedikit pun pada murid yang menjadi pesertanya, berbeda dengan UN yang mengevaluasi murid," jelas Evy.

Pelaksanaan AN pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar dari mutu sekolah. Jadi, tidak ada konsekuensi dalam bentuk apapun bagi sekolah dan siswa.

Tujuan dari AN sendiri ialah untuk pemetaan kualitas pendidikan yang nyata di lapangan untuk menjadi dasar peningkatan kualitas pendidikan. Hasil AN akan menjadi tolok ukur.

Tolok ukur ini berkaitan dengan apakah AN berdampak berkesinambungan dan layak dilaksanakan kembali pada 2022 atau tidak. Ataupun indikator AN menjadi tolok ukur bagi evaluasi satuan pendidikan.

"Sangat penting dipahami terutama oleh guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua bahwa AN untuk tahun 2021 tidak memerlukan persiapan-persiapan khusus maupun tambahan yang justru akan menjadi beban psikologis tersendiri," tutupnya.

Sumber: medcom.id

Editor: andi.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan