HETANEWS.COM

Ular Sawa Emprit Melata di Keraton Yogya hingga Gedung KPK

Ular sawa emprit-ular genting-ular cicak, Lycodon capucinus.

Yogyakarta, hetanews.com - Kemunculan ular di Keraton Yogyakarta bikin heboh dan ditafsirkan sampai ke suksesi Sultan. Sebenarnya, kemunculan ular jenis itu tidak aneh. Ular itu tak hanya menghuni rumah raja, tapi juga ada di rumah rakyat jelata hingga gedung pencakar langit.

Ular itu melilit pilar Bangsal Kemagangan Kompleks Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 8 Oktober 2020. Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia, Aji Rachmat, mengidentifikasi ular itu sebagai ular sawa emprit, sebagian masyarakat juga menyebutnya sebagai ular genting dan ular cicak. Nama latinnya adalah Lycodon capucinus.

"Ular ini paling sering didapati masuk rumah warga karena memang spesialis predator atau pemakan cicak. Karena banyak yang tidak paham, maka banyak juga ular ini dibunuh akibat ketakutan masyarakat," kata Aji kepada detikcom, Minggu (25/10/2020).

Begini spesifikasinya:

Lycodon capucinus si ular rumah

- Nama lain: ular cicak, ular genteng, sawa emprit

- Ukuran dewasa: 60-70 cm (bukan ular besar)

- Warna: cokelat tua dengan bercak putih/kuning pucat, bagian bawah (perut) berwarna putih

- Kepala: agak gepeng, ada motif putih di dekat tengkuk

- Jenis gigi: Aglypa (tanpa taring)

- Tidak berbisa

- Mangsa: cicak, kadal kecil, katak kecil, jangkrik

- Persebaran: Asia Tenggara

Call center Sioux sering menerima panggilan bantuan evakuasi ular, dan ternyata banyak di antara ular yang ditemui di lapangan adalah ular Lycodon capucinus ini. Mereka melingkar di rangka genting, plafon, atau sudut rumah. Tapi jangan takut bila ular tiba-tiba jatuh di tengah ruang tamu Anda. Ular ini tidak berbisa.

"Ini sering ditemukan jatuh di rumah-rumah warga, padahal tidak berbahaya," kata Aji Rachmat.

Memang, ular ini dikenal juga sebagai 'ular rumah' karena mangsanya (cicak) memang banyak di rumah. Ular ini bisa memanjat dinding vertikal memanfaatkan tekstur-tekstur dan lekukan yang terbatas, meski tidak bisa menempel seperti cicak. Dia akan mematikan mangsanya bukan dengan bisa tapi dengan membelit mangsa, persis seperti ular sanca (piton), hanya ukurannya jauh lebih kecil.

Untuk membuktikan ular ini tidak berbisa, Aji Rachmat bahkan membiarkan ular ini menggigit tangan kanannya. Pembuktian ini bisa dilihat di kanal YouTube 'Ular Indonesia' dalam video 'Mengenal karakter ular Cicak yang sering masuk rumah'. Kebetulan, ular yang dipegangnya juga berasal dari permukiman penduduk kawasan Yogyakarta.

Tonton juga 'Malam Jumat Kliwon, Ular Melingkari Pilar Bangsal Keraton Yogya':

Soal mitos

Selama ini, ular dipersepsikan sebagai makhluk misterius. Kadang juga dianggap sebagai jelmaan siluman. Apalagi, kemunculannya ditafsirkan sangat jauh. Padahal, ini adalah hewan reptil yang benar-benar punya darah dan daging, hidup, dan mencari makan. Aji Rachmat memandang mitos tentang ular adalah cara masyarakat mendekati kenyataan via jalur budaya.

"Mitos itu pendekatan budaya, kalau kami dari sisi biologi. Ada mitos yang bisa dianalogikan ke logika biologi, tapi ada juga yang tidak masuk akal," kata Aji.

Mitos yang ternyata salah adalah ular takut garam. Nyatanya, ular tidak takut garam. Mitos lainnya adalah ular masuk rumah sebagai wujud santet, padahal ular masuk rumah bisa jadi pertanda bahwa ekosistem telah rusak, atau juga karena ular sedang mencari mangsa seperti biasa saja. Tentu saja, sains juga merupakan produk budaya. Sains dalam hal ini biologi menjelaskan perilaku reptil ini dengan disiplin ilmiah, bukan perkara percaya-tidak percaya semata.

"Ular masuk rumah dianggap santet, padahal yang terjadi adalah habitat ular terusik jadi dia mencari makan di rumah. Mungkin juga karena ular mengejar mangsa di rumah yakni tikus, kodok, dan lainnya," kata Aji, berbicara soal ular secara umum, bukan hanya ular sawa emprit atau ular cicak.

Sioux sering mendapat panggilan bantuan untuk mengevakuasi ular, dan banyak pula yang ditemukan adalah ular sawa emprit atau ular cicak ini. Panggilan bantuan untuk evakuasi ular bukan berasal dari rumah di tengah hutan atau saung di tengah sawah.

"Kami pernah rescue di hotel bintang 5 di Jakarta, di lantai 15," kata Aji.

Di gedung pencakar langit setinggi itu, ternyata ada juga si ular sawa emprit atau ular cicak itu. Ini karena cicak juga ada di gedung pencakar langit. Bahkan pada 2019, Sioux pernah mengevakuasi ular ini dari Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kuningan, Jakarta Selatan.

KPK akan segera memiliki gedung baru yang kini proses pembangunannya sudah masuk ke tahap akhir. Gedung KPK yang baru, sengaja dibangun dengan warna merah putih, sebagai simbol KPK milik Indonesia. Hasan Alhabshy

Ilustrasi Gedung KPK (Dok detikcom)

"Gedung KPK Jakarta, gedung lama dan gedung baru semua kita sweeping," kata Aji.

"Di KPK kita menemukan kobra sama ular ini (ular sawa emprit/ular cicak)," imbuh Aji.

Sumber: detik.com

Editor: Suci Damanik.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan