Hetanews.com - Pola asuh orangtua yang tidak benar bisa membuat anak melakukan tindakan kekerasan seksual, jadi bukan dari faktor tayangan pornografi yang bisa dikonsumsi lewat media atau teknologi seperti gadget maupun perangkat komputer lainnya.

"Dalam kaitannya dengan perilaku kekerasan seksual, faktor risiko tertinggi bukan dari tontonan pornografi namun pada pola asuh orangtua," kata Psikolog Elizabeth T Santosa dalam keterangannya yang diperoleh media, Kamis (22/10/2020).

Menurut dia, pola asuh orangtua yang permisif (suka mengizinkan) memberikan gadget kepada anak secara bebas tanpa supervisi, tanpa memahami pro dan kontra fungsi gadget, dan tanpa aturan main adalah sikap yang salah.

Dengan kata lain, kata dia, orang tua telah lalai dalam memberikan perlindungan kepada anak dari bahaya penyalahgunaan gadget secara bebas. Media dan teknologi seperti pedang bermata dua bagi semua anak.

"Bisa berdampak positif dalam pengembangan kualitas kognitif (pola pikir) anak, tapi juga bisa penyalahgunaan yang dapat mengakibatkan adiksi (kecanduan)," ungkap perempuan yang akrab disapa Lizzie ini.

Maka dari itu, bilang Lizzie, pornografi tidak tepat dikatakan sebagai penyebab anak melakukan tindakan kejahatan seksual. Tapi, merupakan salah satu faktor risiko. Artinya, sambung dia, pengguna pornografi rentan terhadap risiko perilaku kekerasan seksual, bukan yang menyebabkan tindakan kejahatan seksual.

"Arti kata sebab memiliki hubungan erat dengan efek. Dalam faktanya pornografi sudah ada sejak zaman dulu. Tidak semua remaja mengakses pornografi 100 persen akan menjadi pelaku kekerasan seksual," tegas dia.

Dia menambahkan, biasanya remaja yang teradiksi dengan pornografi rentan terhadap seks bebas. Hal itu dikarenakan melemahnya fungsi kontrol dan manajemen diri dari seorang remaja.

Sumber: kompas.com