Jakarta, hetanews.com - Pemerintah China menuduh Amerika Serikat "menjajakan senjata" dan "mencampuri" urusan negara lain, setelah Washington mengancam sanksi terhadap negara mana pun yang mengambil keuntungan dari berakhirnya larangan PBB untuk menjual senjata ke Iran.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo melontarkan peringatan pada siapa pun yang memasok senjata ke Iran. Peringatan disampaikan setelah Teheran mengatakan embargo PBB yang sudah berlangsung lama terhadap penjualan senjata ke Iran telah berakhir.

Kementerian Luar Negeri China pada hari Senin (19/10) mengatakan pernyataan Pompeo itu "sama sekali tidak dapat dibenarkan."

"Amerika Serikatlah yang menjajakan senjata dan amunisi di mana-mana, menggunakan perdagangan militer untuk melayani kepentingan geopolitik, dan bahkan secara terbuka mencampuri urusan dalam negeri negara lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian kepada wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (19/10/2020).

Ditanya apakah China sekarang akan menjual senjata ke Iran, Zhao tidak secara langsung menjawab hal itu. Namun, dia mengatakan Beijing akan "menangani perdagangan militer sesuai dengan kebijakan ekspor militer dan kewajiban internasionalnya".

Embargo penjualan senjata konvensional ke Iran akan mulai berakhir secara bertahap mulai 18 Oktober di bawah ketentuan resolusi PBB yang mengkonfirmasi kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia.

Teheran, yang sekarang dapat membeli senjata dari Rusia, China dan negara lain, memuji berakhirnya embargo itu sebagai kemenangan diplomatik atas musuh bebuyutannya, Amerika Serikat, yang telah mencoba untuk mempertahankan pembekuan penjualan senjata yang tidak terbatas.

Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan secara sepihak mulai menerapkan kembali sanksi terhadap Iran. China, mitra dagang utama Iran, telah lama menuduh Amerika Serikat memperburuk ketegangan atas program senjata Iran dengan menarik diri dari kesepakatan.

Sumber: detik.com