Jakarta, hetanews.com - Polisi menangkap komplotan jambret di Menteng, Jakarta Pusat (Jakpus). Dalam menjalankan aksinya, para pelaku kerap menyasar korban pejalan kaki dan pesepeda.

"Nah iya, mereka itu sasarannya bukan hanya pesepeda. Kalau ada pejalan kaki (sedang) main handphone, disikat (dijambret)," kata Kapolsek Menteng AKBP Guntur Muhammad Tariq saat dihubungi, Senin (19/10/2020).

Ada 3 pelaku dari 2 kasus jambret yang diamankan Polsek Menteng, yakni BG (21) yang ditangkap di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakpus, Sabtu (17/10), serta AR (41) dan SH (26) di Jalan MH Thamrin, Kamis (15/10). Satu pelaku, A (25), yang merupakan rekan jambret BG, berstatus daftar pencarian orang (DPO).

"(Pelaku BG sudah) 7 kali beraksi, (rinciannya) 5 kali (jambret) pesepeda, 2 kalinya pejalan, orang (sedang) jalan. Orang (sedang) jalan (kaki) sambil main handphone (dijambret)," terangnya.

"Pesepeda itu riskannya begini, naik sepeda, lagi kencang, ada motor, ditendang (sepeda), jatuh. Begitu (orang yang mengendarai sepeda) jatuh, ada yang kedua biasanya, kedua itu yang biasanya ambil barang, (yaitu) eksekutor," sambungnya.

Dia pun mengatakan pelaku beraksi saat pagi atau sore hari. Dalam menjalankan aksinya, pelaku AR dan SH menebarkan paku payung untuk melakukan jambret.

"Jadi pesepeda itu, ya kan, kan paku payung agak tipis. Bannya (sepeda) mereka (juga) pada tipis kan. Di sebar (paku payung), ada yang ketancap, otomatis pada berhenti (orang yang bersepeda). Teman-teman pesepeda pada telpon, disikat (handphonenya)," ungkapnya.

Lantaran rawan jambret, AKBP Guntur mengimbau agar pesepeda bergerombol. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi.

"Kalau pesepeda usahakan bergerombol, rangkaian bergerombol, jangan ninggalin satu sama lain. Kenapa? Sepeda riskan (dijambret), ditendang (sepedanya oleh jambret) pasti jatuh (lalu dirampas barangnya)," tandas dia.

Sumber: detik.com