HETANEWS.COM

Pemikiran Dibalik Pria Bernama Munir

Mahasiswa melakukan unjuk rasa dengan membawa foto almarhum Munir Said Thalib di Kampus UNS, Solo, Jawa Tengah, Selasa (10/9/2019). Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha

Hetanews.com - “Islam adalah agama peradaban. Ekstremisme dan intoleransi menghancurkan peradaban. Ini berbeda dengan fungsi agama, yaitu meningkatkan kehidupan manusia.”

Sekilas, Anda mungkin mengira ini adalah kata-kata seorang filsuf atau tokoh agama. Tapi sebenarnya tidak. Itu kata-kata Munir Said Thalib, pembela HAM paling terkenal di Indonesia, yang diracun hingga mati 16 tahun lalu.

Munir meninggal dalam penerbangan Garuda Indonesia GA974 dari Jakarta ke Amsterdam pada 7 September 2004. Otopsi yang dilakukan oleh otoritas Belanda menunjukkan bahwa tubuhnya mengandung arsen dengan kadar tiga kali lipat dari dosis yang mematikan.

Namun pemerintah Indonesia tidak pernah menindaklanjuti laporan Tim Pencari Fakta (TPF) untuk memerintahkan penyelidikan independen atas kasusnya. Siapakah Munir, dan seberapa relevan aktivisme dan pemikirannya dengan kondisi HAM di Indonesia saat ini

Kutipan di atas menunjukkan inklusivitas Munir. Pengalamannya tentang kekerasan dan ekstremisme agama malah membawanya ke inklusivitas, dan cinta hidup melalui keragaman agama manusia.

Terlepas dari kutipan di atas, Munir yang kami kenal bukanlah orang yang membantu orang lain karena religiusitas. Dia jarang mengucapkan komentar religius. Penyembunyian religiusitasnya yang tampak mungkin merupakan hasil dari interaksinya dengan yang lemah dan tertindas.

Ia pernah mengatakan kepada saya, "Jika seorang pekerja mengalami kecelakaan di tempat kerja atau di jalan, kita semua harus siap membantunya, tanpa memikirkan apakah tindakan kita sejalan dengan Al-Qur'an atau Alkitab."

Di masa mudanya, Anda tidak akan menemukan Munir membuat pernyataan seperti itu. Tahun-tahun awalnya ditandai dengan kekerasan. Dia sering bercerita tentang bagaimana ketika dia marah, dia akan memukul orang atau melemparkan barang ke arah mereka.

Sebagai aktivis hak asasi manusia, ia pernah mendapat penghargaan dan dituduh menyalahgunakan hadiah uang tunai. Laporan media tentang kejadian tersebut sampai ke lingkungannya dan Munir sangat marah.

"Jika itu terjadi lama sekali, saya akan melemparkan gelas ke orang itu," katanya.

"Orang-orang bisa menuduhku atas apa pun, tapi bukan karena menjadi pencuri ... Itu membuatku sedih."

Dia pernah mengatakan kepada ulama liberal Islam Ulil Abshar-Abdalla bahwa ada suatu periode di tahun 1980-an ketika dia mengikuti Islam ekstremis, dan tasnya “selalu berisi pisau”.

Ini adalah saat Presiden Soeharto menindak aktivisme Islam atas nama Pancasila. Munir menganggap dirinya sebagai pembela Islam, siap melawan musuh-musuh Islam. Kecenderungan Munir muda untuk marah memengaruhi segalanya, mulai dari hubungannya hingga pendekatannya terhadap agama.

Namun belakangan, saat kuliah di Universitas Brawijaya Malang, ia menjadi lebih reflektif. Profesor Brawijaya Malik Fajar, yang meninggal hari ini, sangat kritis terhadap pendekatan Munir terhadap agama. Ia meminta Munir yang juga aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) itu membaca nilai-nilai organisasi yang ditulis oleh tokoh intelektual Muslim progresif Nurcholish Madjid.

Munir menyadari bahwa Islam mengakui ketidakadilan dan itu ada untuk mereka yang dilanggar. Munir berubah dalam semalam. Ia menjadi sangat spiritual dalam praktik keagamaannya, melampaui garis agama formal. Ia memprioritaskan peningkatan dirinya dan kehidupan orang lain.

Dalam hal ini, Munir terkadang berselisih dengan mereka yang pemahamannya tentang Islam hanya terbatas pada teks, tanpa refleksi yang lebih besar pada konteks ajaran. Berkali-kali Munir bertemu dengan orang-orang yang memandang HAM sebagai produk Barat.

Islam tidak mengakui hak asasi manusia, kata mereka. Dan berulang kali, dia akan menjelaskan bahwa HAM adalah hasil dari perkembangan peradaban. Hak asasi manusia lahir dari penderitaan para korban di seluruh dunia: korban perang, korban genosida, penghilangan paksa, dan bentuk kekerasan lain yang berlanjut hingga saat ini.

Semangat Munir membawa obor keadilan sejalan dengan semangat umum Al-Qur'an: mewujudkan dan menegakkan keadilan, kesetaraan, dan perdamaian dalam masyarakat. Memihak pada korban, pekerja dan orang miskin merupakan inti dari praktik peradilan Munir.

Dia percaya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan harus menjadi bagian dari budaya agama. Tafsir yang berbeda dengan prinsip keadilan harus ditinjau ulang.

Karena itu perjuangannya bersifat universal. Di Afrika Selatan, ada Nelson Mandela. Di Amerika Serikat, universalitas seperti itu dikenang dalam sosok Martin Luther King.

Di Indonesia juga ada Kartini, yang surat-suratnya menunjukkan keterikatan yang kuat dengan gagasan universalitas hak asasi manusia, melampaui hak warga negara.

Prinsip keadilan yang diperjuangkan oleh para humanis ini bersifat universal dan melampaui pemahaman abstrak tentang keadilan. Teman-teman Munir mengenalnya sebagai aktivis hak asasi manusia dan intelektual. Dia sangat memikirkan tentang kebangsaan.

Dalam “Membangun Bangsa dan Menolak Militerisme” ia menekankan bahwa untuk membangun bangsa yang kuat tidak dapat mengandalkan nilai-nilai yang menolak prinsip keadilan. Itu sebabnya, kata dia, militerisme sangat berbahaya dalam upaya membangun kembali bangsa dengan demokrasi sebagai basis pendiriannya.

Bagi Munir, kebangsaan lebih dari sekedar “nasionalisme” sempit atau “nasionalisme chauvinistik”, yang mengutamakan identitas nasional atau kehormatan nasional di atas hak asasi manusia.

Saat menerima penghargaan Right Livelihood Award, Munir mengungkapkan pemikiran kosmopolitan tentang menjadi warga dunia dalam “dunia yang terintegrasi. Ke depan, katanya, “Semua perlu mempertimbangkan kemungkinan dunia bersatu berdasarkan rasa kemanusiaan dan solidaritas.

Kejahatan yang dilakukan oleh negara-bangsa atau atas nama kemajuan dan pembangunan akan berkurang hanya jika kita mampu mengakui diri kita sendiri sebagai bagian dari takdir manusia lain. ”

Namun pemikiran kritis Munir tentang kebangsaan dan agama menimbulkan reaksi balik. Dia diancam dan dituduh anti-Islam, komunis, dan ateis. Ia juga dituduh anti-nasionalis karena berperan penting dalam mengungkap bukti pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan di Aceh, Papua, dan Timor Leste.

Pengalaman hidup Munir membuktikan bahwa menghidupkan kembali humanisme dalam konsepsi kebangsaan dan kehidupan beragama di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Serangan dan tudingan yang ditujukan kepada Munir bukan hanya lisan.

Dia juga menghadapi serangan fisik dan, akhirnya, kematian. Seorang jenderal militer secara terbuka menyatakan bahwa dia menginginkan dia mati, paket bahan peledak dikirimkan ke pintu rumah ibunya, sebuah bom meledak di luar rumahnya, puluhan preman menyerang kantornya, dan, pada akhirnya, dia diracuni dengan arsen. Ini adalah metode brutal para pengecut yang panik.

Serangan itu tidak menargetkan Munir sendirian. Mereka juga menyerang universalitas hak asasi manusia. Mereka dirancang untuk menyebarkan rasa takut, untuk membungkam orang. Sebagai manusia, Munir mengalami ketakutan. Tetapi kemanusiaan dan solidaritasnya dengan orang lain membantunya menaklukkan ketakutannya.

“Yang kami takuti adalah ketakutan itu sendiri,” kata Munir. Munir mungkin tidak bermaksud mengutip Franklin D. Roosevelt, atau penulis esai Prancis Michel de Montaigne, yang memberikan komentar serupa. Itu adalah pepatah yang dia gunakan untuk melanjutkan perjuangan dan memecahkan tirani keheningan.

Ia menyadari bahwa segala hal yang menghalangi para aktivis, dari peluru hingga tank, sebenarnya bukanlah hambatan besar. Kendala terbesar ada di pikiran. Ketakutan, kata Munir, mengurangi sensibilitas dan rasionalitas yang diperlukan untuk bertindak. Bukan kebetulan bahwa sentimen serupa dimiliki oleh agama Kristen "akar dosa adalah ketakutan."

Keyakinan pada kemanusiaan dan keadilan universal adalah bagian penting dari pemahaman agama yang inklusif. Salah satu jari Munir hampir putus saat membela buruh yang di-PHK.

Dia akan menghibur mereka yang anggota keluarganya menjadi korban penghilangan paksa. Ia bahkan membantu membebaskan seorang anggota pasukan elit militer yang disandera oleh kelompok bersenjata.

Munir pemberani. Dia menaklukkan ketakutannya dengan cinta. Janda Munir, Suciwati, mengingatnya sebagai sosok yang mencintai kehidupan. Dia mencintai keluarganya, memelihara ikannya, dan tidak akan menghindar dari pekerjaan rumah tangga.

Bagi Munir, cinta dan solidaritas tercermin dari kepekaannya terhadap rasa sakit orang lain. Sensitivitas membuat sulit untuk mengabaikan 'yang lain'. Munir disayang oleh korban yang dia perjuangkan.

Dia melampaui kata-kata dan gagasan dan membantu membawa perubahan yang berarti. Seperti yang ditulis oleh filsuf Amerika Richard Rorty, “Bukan kepercayaan pada filsafat atau agama, tetapi kepekaan terhadap orang lain yang memungkinkan kita untuk bersolidaritas dengan orang lain”.

Baca juga: Suara dan Harapan Istri Munir Setelah Pollycarpus Meninggal Dunia

Sumber: indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan