HETANEWS.COM

Macron Sebut Pemenggalan Guru Pembahas Kartun Nabi Muhammad Serangan Teroris

Petugas polisi Prancis berkumpul di luar sekolah menengah setelah seorang guru sejarah yang dibunuh.

Prancis, hetanews.com - Seorang guru sejarah ditikam dan dipenggal oleh orang tak dikenal di sekitar sekolah tempatnya mengajar di Prancis. Sebelum terbunuh, guru pria sekolah menegah itu pada awal Oktober sempat menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Jumat (16/10) malam waktu setempat pun mendatangi TKP pembunuhan di Conflans Sainte-Honorine, barat laut Prancis.

"Salah satu warga kami dibunuh hari ini karena dia mengajarkan murid-muridnya tentang kebebasan berekspresi," ucap Macron, dikutip Reuters, Sabtu (17/10).

Bahkan, Macron menyebut peristiwa pembunuhan ini sebagai 'serangan teroris Islamis'.

"Warga kami diserang secara mencolok, dia menjadi korban serangan teroris Islam. Mereka tidak akan menang.....kami akan bertindak dengan tegas dan cepat," kata Macron.

Guru yang dibunuh itu mengalami luka tusuk di leher hingga akhirnya terpenggal. Sementara sang pelaku tewas ditembak mati oleh polisi yang sedang berpatroli tak jauh dari lokasi kejadian.

Jaksa antiteror Prancis saat ini sedang menyelidiki peristiwa penyerangan tersebut. Menurut seorang sumber polisi, guru itu menunjukkan kartun Nabi Muhammad dalam sesi kelasnya, yang dianggap sebagai penghujatan oleh umat Islam. Namun, berdasarkan laporan dari sebuah media Prancis, guru itu menunjukkan kartun Nabi Muhammad sebagai bagian dari pelajaran kewarganegaraan.

Namun, berdasarkan keterangan penyiar BFMTV bahwa tersangka berusia 19 tahun dan lahir di Moskow. Namun, sampai saat ini, aparat penegak hukum tidak membeberkan nama penyerang maupun korbannya.

Prancis selama beberapa tahun terakhir mengalami serangkaian serangan kekerasan oleh militan Islam, termasuk teror dan penembakan ke kantor majalah satir Charlie Hebdo pada 2015, dan pemboman serta penembakan pada November 2015 di teater Bataclan dan lokasi-lokasi di sekitar Paris.

Masalah kartun itu dihidupkan kembali bulan lalu ketika Charlie Hebdo memutuskan untuk menerbitkannya kembali.

Menanggapi penyerangan guru di luar sekolah, Charlie Hebdo menulis di akun Twitter-nya: "Intoleransi telah melewati ambang batas baru, dan tampaknya tidak memberikan dasar apa pun dalam memaksakan terornya ke negara kita."

sumber: kumparan,com

Editor: Sella Simorangkir.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!