HETANEWS.COM

Amanda Simandjuntak, Kurangi Pengangguran Muda lewat Pelatihan Koding

Amanda Simandjuntak Co-founder dan CEO Markoding. Foto: Dok. KOMPAS.com/ELISABETH DIANDRA SANDI

Hetanews.com - Kuliah di jurusan Ilmu Komputer di Australia, memulai karier menjadi seorang programmer, lalu pulang ke Indonesia dan mendirikan perusahaan konsultan IT, menjadi awal kepedulian Amanda Simandjuntak terhadap kemampuan koding siswa Indonesia.

Menurut data tahun 2016, sekitar 35 persen pekerja Indonesia masih kurang memahami skill di bidang IT. Kondisi itu juga ia rasakan saat mulai merekrut karyawan untuk menjadi programmer.

"Mau rekrut lulusan S2 Informatika ternyata tidak bisa koding. Itu suatu fakta yang memprihatinkan. Sehingga itu yang mendorong saya untuk masuk ke dunia edukasi," ujarnya, Jumat (16/10/2020).

Namun, bukan sekadar sulit mencari karyawan yang membuat Amanda bergerak untuk mendirikan organisasi nonprofit Markoding (Mari Kita Koding) untuk memberdayakan siswa marginal Indonesia.

Markoding, jelas Amanda, dimulai saat dirinya mengunjungi kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Kala itu, ia menjadi volunteer di suatu rumah belajar di desa nelayan untuk mengajar Matematika dan bahasa Inggris. Tak sengaja, ia pun melihat ada warnet di tengah pemukiman kumuh.

"Di tengah pemukiman kumuh, namun ada warnet di atas kali. Di situ aku lihat banyak anak yang jago main komputernya. Dari situ mulailah aku mikir, itu adalah sebuah potensi," papar dia.

Di tengah adanya potensi, Amanda mendapati kenyataan banyak lulusan SMA/SMK di kawasan tersebut yang kerja serabutan menjadi tukang parkir, tukang tambal ban, dan bukan menjadi pekerja tetap.

Dari sanalah Markoding bermula. Bertujuan untuk bisa memberdayakan siswa marginal jenjang SMP, SMA/SMK dan PKBM dengan belajar koding. Harapannya, kata dia, siswa marginal memiliki kompetensi di bidang IT sehingga lebih mudah terserap di dunia kerja.

Kurangnya lulusan yang kompeten di bidang IT

Sejak adanya pandemi, sekitar 50 persen perusahaan bahkan berhenti merekrut karyawan. Ditambah lagi, beberapa perusahaan kini lebih banyak mencari kandidat karyawan yang paham tentang teknologi (IT).

Menurut Data World Bank 2019, industri di Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja di bidang digital hingga 2030. Sayangnya, kesenjangan skill yang kini ada, membuat jumlah pengangguran muda di Indonesia meningkat.

"Penyumbang angka pengangguran terbesar adalah dari lulusan SMA dan SMK. Data dari Biro Pusat Statistik di tahun 2017, menyatakan sebanyak 42 persen pengangguran di Indonesia adalah lulusan SMA SMK," jelasnya.

Amanda berpendapat, kebutuhan industri akan 17 juta tenaga kerja tersebut dipadu dengan adanya kesenjangan skill, berpotensi membuat pengangguran muda menjadi lebih banyak.

Sementara itu, kata dia, pendidikan di Indonesia belum mendukung, seperti kurikulum yang tidak relevan dengan kebutuhan industri dan kedua guru-guru tidak bisa mengajar koding.

Untuk itulah, ia mendirikan Markoding sebagai lembaga nonprofit dengan tujuan menghapuskan pengangguran muda di Indonesia dengan menjembatani kesenjangan skill tersebut.

"Kita men-training mereka dengan skill inovasi dan juga skill digital khususnya koding dan tujuan kita ingin menghasilkan generasi Indonesia yang siap kerja. Jadi, hashtag kita Indonesia Siap Kerja. Misi kita pengangguran muda Indonesia tidak ada lagi," paparnya.

Jangkau lebih banyak siswa marginal

Sejak dibangun tahun 2017, Markoding kini sudah menjangkau 25 sekolah (SMP, SMA, SMK, PKBM) dengan total 700 siswa yang mengikuti pelatihan. Amanda menjelaskan, sebagai lembaga nonprofit, Markoding mendapatkan pendanaan dari berbagai pihak, seperti korporasi, UNICEF, dan masyarakat.

Sementara, anak-anak yang mengikuti pelatihan diberikan fasilitas gratis. Markoding juga berkolaborasi dengan Kemendikbud dan Dinas Pendidikan untuk menunjuk sekolah yang kebanyakan siswanya kurang mampu.

"Kalau untuk indikatornya, seperti di Jakarta kita gunakan KJP. Jadi, kita utamakan siswa pemegang KJP," paparnya.

Kini, Markoding juga mengadakan Markoding Innovation Challenge yang mengajak siswa untuk menemukan masalah di sekitar dan membuat solusi digital.

"Tagline-nya innovation for good. Nah, jadi pertama mereka dilatih untuk menemukan masalah di sekitar mereka, misalnya masalah cyber bullying, masalah keluarga, sekolah mahal atau rumah sakit mahal, kita bantu mereka menyelesaikan masalah dengan design thinking. Pada akhirnya mereka membuat aplikasi sungguhan dengan koding," paparnya.

Selain membekali kompetensi digital, imbuh dia, Markoding juga mengajak siswa memahami bahwa teknologi digunakan untuk membuat dampak positif bukan sekadar koding.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!