HETANEWS.COM

Poltak Dipukul Pria Misterius Di Jalan Singa Pematangsiantar

Ilustrasi

Siantar, Hetanews.com - Poltak Mangiring Simanjuntak dipukul sosok pria misterius di Jalan Sisingamangaraja Kota Pematangsiantar. Akibat kejadian tersebut tampak pepilis dan bola mata sebelah kanannya lebam, nyaris tak bisa melihat.

Peristiwa penyerangan terhadap Poltak terjadi saat ia hendak pulang ke rumahnya di Tozai Lama, Kelurahan Setia Negara, Jumat (10/10/2020) malam sekitar pukul 20.00 WIB. 

Di jalan Sisingamangaraja persis depan Kantor Penerbit Erlangga, Poltak melihat dari kejauhan dua orang pria mengendarai sepeda motor berboncengan datang dari Simpang Handayani.

Saat berpapasan, seorang pria yang duduk di boncengan sepeda motor itu mengayunkan benda tumpul ke arah bagian kepala dan mengenai pelipis dan mata Poltak. 

Kaget bercampur kesakitan, pria berbadan tambun ini berupaya menahan laju sepeda motornya agar tidak jatuh ke aspal. Sementara dua pria misterius tersebut langsung tancap gas meninggalkan lokasi.

"Aku gak kenal mereka. Kulihat yang bawa sepeda motor badannya agak besar. Yang dibonceng orangnya kecil, pake kaos, dia yang memukul saya satu kali. Tapi aku gak tahu percis pakai apa aku dipukul, mungkin besi," ujar Poltak saat ditemui di Jalan Sisingamangaraja, Selasa (13/10/2020).

Poltak Mangiring (54)

Berawal dari berita

Poltak  menyadari betul penyerangan terhadap dirinya. Sebelum kejadian, ia membuat janji temu dengan seorang narasumber di sebuah warung sekitar jalan Wahidin pada Jumat sore. Namun yang ia temui bukan orang yang dimaksud. 

Melainkan datang sosok pria lain yang baru ia kenal. Pria tersebut, kata Poltak, mengaku bukan warga sipil.Keduanya sempat adu argumen dengan nada meninggi, hingga warga yang ada di warung jalan Wahidin itu sempat melerai mereka.

Poltak juga mengaku sebagai jurnalis dari media Berantas Kriminal. Sebuah koran mingguan yang berkantor di Kota Medan. Eri Kurniawan, Pemred Berantas Kriminal mengatakan, koran tersebut terbit 4 kali dalam satu bulan.

Selain koran, kata Eri, Berantas Kriminal juga terbit secara online. Menurut pria berkepala plontos ini, terkait pemberitaan keduanya saling koordinasi via telepon.

"Benar, Bapak ini (Poltak) wartawan kita (Berantas Kriminal-red). Sudah 2 tahun, wartawan di wilayah Siantar Simalungun," ujar Eri ditemui di tempat yang sama. 

Dalam reportasenya (baca berita), Poltak mengekspos aktivitas yang disinyalir perjudian berbasis permainan ketangkasan di wilayah hukum Polres Pematangsiantar. Berantas Kriminal kemudian mempublish berita itu di kanal media online mereka.

Poltak Mangiring mengaku, ia hendak  melakukan wawancara terhadap narasumber itu, untuk meminta keterangan dari seorang sumber, yang ia duga sebagai pemilik usaha tersebut.

“Saya mau minta konfirmasi, ketepatan untuk deadline berita koran mingguan besoknya,” imbuh pria gondrong yang ikut dalam KBPP Polri ini.

Poltak meyakini buntut dari berita dan perdebatannya dengan sosok pria yang diduga diutus narasumber tersebut, berhubungan erat dengan dua pria misterius yang menyerangnya. Begitupun ia tidak mengenali wajah mereka, sebab kondisi penerangan jalan saat itu minim.

“Setelah kejadian ini, ada yang nelpon aku tapi gak kuangkat. Ada yang kirim pesan SMS. Isinya nanya lagi dimana terus mau ngajak ngopi. Orang yang nelpon ini saya kenal,” ucap Poltak, yang telah melaporkan kasus tersebut di Polsek Siantar Martoba dengan Nomor STPL 187/X/2020.


Foto: Poltak Mangiring Simanjuntak (Kiri) dan Eri Kurniawan (Kanan) saat ditemui di sebuah kedai di Jalan Sisingamangaraja Kota Pematangsiantar, Selasa (13/10/2020)
 

Desak pelaku ditangkap

Meski menerima kekerasan, Poltak mengaku tidak merasa trauma dengan serangan itu. Ia menduga, penyerangan yang membuat mata kanannya nyaris tidak bisa melihat adalah bentuk intimidasi. 

Menurut Poltak, itulah cara para Bandar untuk mengamankan bisnis mereka dan menundukkan sejumlah media yang kerap ‘ribut’ karena tidak kebagian jatah. Meski begitu, ia tetap menempuh jalur hukum untuk mengungkap siapa dalang dari aksi dua lelaki Misterius tersebut.  

“Aku dipukul dalam keadaan Gelap. Ada dugaan saya pemukulan ini supaya mau saya deal dengan mereka. Kasus saya ini jadi contoh intimidasi supaya kawan kawan media takut, wartawan takut mengkritik,” kata Poltak, blak-blakan pernah mengaku menerima uang ‘tutup mulut’ dari perjudian tersebut. 

Senada dengan Poltak, Pemred Berantas Kriminal berpendapat serupa. Menurut Eri, jika ada jalan tengah untuk menutup kasus ini mereka akan menolak mentah-mentah. Pengungkapan dalang dan pelaku kekerasan terhadap Poltak harus diusut polisi.

“Biarlah kepolisian yang mengusut tuntas. Sampai kapan persoalan seperti ini terjadi, terus wartawan dipukuli karena pemberitaan. Besok-besok nanti diculik,” tukas Eri.

Penulis: huget. Editor: ando.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!